Jumat, 24 Juni 2011

To Be or Not To Be A Debater: A Matter of Psychological and Philosophical Readiness (Part1)

“Sekali masuk ke dunia debate, selamanya kamu akan terlibat karena debate itu circle of evil.” Begitulah kira-kira ucapan pelatih debate saya waktu bersekolah di SMAN 1 Lawang dulu. Awalnya saya tertarik untuk ikut debate karena promosi dari kakak-kakak senior tentang keberhasilan dan sederet prestasi mereka waktu itu. Lalu, saya juga ingin mengasah kemampuan bahasa Inggris saya demi memperoleh nilai baik di sekolah. Pada awalnya, kami, murid-murid baru yang masih duduk di kelas X (kelas 1 SMA) mendaftar ekskul DDS (Dauntless Debate Society) dan dites oleh pelatih atau coach kami yaitu Mas Ary. Kami disuruh menyampaikan speech selama 3 menit dan isi speech kami akan dinilai dan dipertimbangkan apakah kami layak di debate class atau speaking class. Saya lolos dan berhak ikut debate class. Waktu itu cukup banyak sebenarnya yang yang lolos debate tapi tidak semuanya mengambil debate class. Lalu satu persatu anggota pun gugur karena seleksi alam dan berbagai alasan lainnya. Tinggallah saya, kedua teman saya dan 9 orang senior. Enam senior dari kelas XII dan 3 senior dari kelas XI. Seiring berjalannya waktu, senior-senior yang sudah kelas XII tentu mempersiapkan diri menghadapi ujian dan tidak lagi terlibat dalam debate. Turnamen pertama dan terakhir saya bersama senior kelas XII berlangsung pada November 2007 di Surabaya, itu pun bukan turnamen debate, tapi turnamen Bahasa Inggris memperingati Hari Pahlawan. 

Baru pada awal tahun 2008, setelah terjadi pergantian pelatih, Mas Ary digantikan Regi (dia tidak mau dipanggil mas atau kak, jadi kita langsung menyebutnya Regi atau Rex, whatever matter) kami mulai ikut turnamen lagi di ITS. Itu adalah turnamen pertama saya dan jujur saya sangat grogi ketika itu. Apalagi kami langsung bertemu lawan dari SMAK St.Albertus a.k.a Dempo, tim SMA yang juga dilatih Regi. Sebelum, selama, dan setelah pertandingan, kami dan Regi hanya saling bertukar pandang dan merasa tidak enak. Akhirnya, di akhir pertandingan Regi minta maaf tidak dapat mendampingi kami karena ia juga harus mendampingi tim dari Dempo itu. Tentu saja kami memaafkannya dan kami pun langsung kalah di babak pertama. Waktu itu turnamen di ITS memakai one-round system jadi tidak ada preliminary round.

Itu adalah ajang pemanasan bagi kami dan kami langsung bertemu lawan berat, wajar kalau kami keok. Lagipula saya sendiri juga merasa bahwa persiapan kami masih minim dan kami belum punya skill yang memadai waktu itu. Tim saya (tim abadi saya di SMA) adalah Jeny as 1st speaker, saya as 2nd speaker dan Nani as 3rd speaker. Senior-senior kami, Mbak Tice, Mbak Ita dan Mbak Namirah lolos di babak pertama, namun sayang mereka kandas di babak ketiga (kalau tidak salah). Sedangkan lawan saya dari Dempo itu sukses melenggang ke final dan mendapat juara 2.
 
It was a bad experience for me especially. But from then, I promise to improve and learn. And I still learn to be a good debater till now. Lomba demi lomba kami ikuti dan turnamen yang paling berkesan adalah BET 2008 yang diselenggarakan UB, kampus saya sekarang. Hasil mengejutkan, membanggakan sekaligus mengharukan muncul saat tim saya justru lolos ke babak kedua yang berisi 17 tim (seharusnya 16 tim tapi berhubung tim kami yang berperingkat 17 nilainya sama dengan yang di posisi 16 maka kami pun berhak lolos). Kami pun berkemas menuju rumah guru Bahasa Inggris kami, Bu Yulia, pembimbing sekaligus pembina DDS untuk menyiapkan bahan presentasi kami buat babak 17 besar. Kami ucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya bagi Bu Yulia yang rela rumahnya didatangi 6 murid dengan muka lusuh dan perut lapar demi membawa nama harum bagi sekolah (terimakasih juga untuk pangsit mie dan komputernya, Bu). 

Keesokan harinya, bencana terjadi untuk tim saya. Nani yang bertugas membawa soft-copy file presentasi di laptopnya ternyata belum meng-copy file itu dari komputernya. Ia hanya meng-copy shortcut filenya. Sempat dilanda putus asa dan depresi kami pun sepakat untuk presentasi tanpa PowerPoint padahal materinya cukup berat yaitu tentang euthanasia dan urutan tim pun menjadi dibalik, Nani as 1st, me as 2nd, and Jeny as 3rd. Jeny benar-benar menjadi bintang utama presentasi kami karena ia berhasil membawakan presentasinya dengan lugas, menarik dan interaktif. Babak presentasi itu juga menjadi awal pertemuan saya dengan Nur Luthfi Hidayatullah atau Mr.NLH yang saat itu masih bersekolah di SMAN 5 Malang dan Kian yang nantinya jadi coach kami juga. 

Kejutan kembali terjadi saat pengumuman siapa yang berhak lolos ke 8 besar. Tim senior kami malah tidak lolos padahal mereka telah mempersiapkan presentasi PowerPoint mereka sebaik mungkin dan kami yang tidak mengandalkan PowerPoint sama sekali justru lolos (walaupun di urutan terbawah sih, dan timnya Kak Luthfi di posisi teratas). Tim senior kami bangga akan pencapaian kami tapi kami justru tidak enak dan merasa senior kami itu juga pantas lolos. Yah, tapi keputusan ada di tangan juri dan di tangan Tuhan. Manusia berusaha, Tuhan-lah yang menentukan. Di babak 8 besar, kami harus bertemu dengan Tim Kak Luthfi dan tentu saja tidak mudah bagi kami menerapkan strategi mengalahkan mereka. Saat itu kami berperan sebagai Opposition dengan motion tentang alternative energy (minyak jarak), Jeny merasa tidak nyaman bertanding untuk pertama kalinya sebagi 1st negative dan saya pun akhirnya dipasang sebagai 1st speaker. Namun strategi kami gagal total dan kami pulang membawa kekalahan. Pertama, karena saya gugup dan bingung menjadi 1st speaker (sejak saat itu saya enggan menjadi 1st sampai sekarang) karena saya tidak punya basic philosophical yang kuat. Kedua, argument-argumen kami terlalu lemah dan kami tidak melihat lubang besar yang dimiliki tim lawan. Ketiga, karena kami kurang berpengalaman. Btw, tim-nya Kak Luthfi waktu itu baru saja memenangkan sebuah lomba, kata coach sementara kami -yaitu Mas Wira karena Regi waktu itu berhalangan hadir- dan itu makin menyurutkan semangat kami. But I still learn and I will remain focused, I promise.. 

NB: pembaca yang budiman, baca lanjutannya untuk menyimak kisah dan cita-cita saya menjadi debater (curcol). Mohon maaf kalau bahasanya terlalu egosentrik, namanya juga pengalaman pribadi. Walaupun pengalaman pribadi, saya yakin banyak hikmahnya khususnya di bdang pendidikan, karena pola pendidikan kita miskin analisis dan argument tajam karena masih terfokus pada hasil bukan pada proses. Saya yakin kemampuan debate ini sebenarnya sangat berguna bagi kita semua, khususnya generasi muda Indonesia. Demi Indonesia Satu, Indonesia Maju! 

-"So long a man lives, he will debate with each other even with his heart himself"- Me


2 komentar:

  1. gimana rasanya jadi debater ya ?
    nya , yuk coba lagi, i think i want feel it the sensation again , haha

    BalasHapus
  2. Ya gimana ya rasanya? Ada asem, ada asin, ada2 aja rasanya.. Hahhaha

    BalasHapus

Jumat, 24 Juni 2011

To Be or Not To Be A Debater: A Matter of Psychological and Philosophical Readiness (Part1)

“Sekali masuk ke dunia debate, selamanya kamu akan terlibat karena debate itu circle of evil.” Begitulah kira-kira ucapan pelatih debate saya waktu bersekolah di SMAN 1 Lawang dulu. Awalnya saya tertarik untuk ikut debate karena promosi dari kakak-kakak senior tentang keberhasilan dan sederet prestasi mereka waktu itu. Lalu, saya juga ingin mengasah kemampuan bahasa Inggris saya demi memperoleh nilai baik di sekolah. Pada awalnya, kami, murid-murid baru yang masih duduk di kelas X (kelas 1 SMA) mendaftar ekskul DDS (Dauntless Debate Society) dan dites oleh pelatih atau coach kami yaitu Mas Ary. Kami disuruh menyampaikan speech selama 3 menit dan isi speech kami akan dinilai dan dipertimbangkan apakah kami layak di debate class atau speaking class. Saya lolos dan berhak ikut debate class. Waktu itu cukup banyak sebenarnya yang yang lolos debate tapi tidak semuanya mengambil debate class. Lalu satu persatu anggota pun gugur karena seleksi alam dan berbagai alasan lainnya. Tinggallah saya, kedua teman saya dan 9 orang senior. Enam senior dari kelas XII dan 3 senior dari kelas XI. Seiring berjalannya waktu, senior-senior yang sudah kelas XII tentu mempersiapkan diri menghadapi ujian dan tidak lagi terlibat dalam debate. Turnamen pertama dan terakhir saya bersama senior kelas XII berlangsung pada November 2007 di Surabaya, itu pun bukan turnamen debate, tapi turnamen Bahasa Inggris memperingati Hari Pahlawan. 

Baru pada awal tahun 2008, setelah terjadi pergantian pelatih, Mas Ary digantikan Regi (dia tidak mau dipanggil mas atau kak, jadi kita langsung menyebutnya Regi atau Rex, whatever matter) kami mulai ikut turnamen lagi di ITS. Itu adalah turnamen pertama saya dan jujur saya sangat grogi ketika itu. Apalagi kami langsung bertemu lawan dari SMAK St.Albertus a.k.a Dempo, tim SMA yang juga dilatih Regi. Sebelum, selama, dan setelah pertandingan, kami dan Regi hanya saling bertukar pandang dan merasa tidak enak. Akhirnya, di akhir pertandingan Regi minta maaf tidak dapat mendampingi kami karena ia juga harus mendampingi tim dari Dempo itu. Tentu saja kami memaafkannya dan kami pun langsung kalah di babak pertama. Waktu itu turnamen di ITS memakai one-round system jadi tidak ada preliminary round.

Itu adalah ajang pemanasan bagi kami dan kami langsung bertemu lawan berat, wajar kalau kami keok. Lagipula saya sendiri juga merasa bahwa persiapan kami masih minim dan kami belum punya skill yang memadai waktu itu. Tim saya (tim abadi saya di SMA) adalah Jeny as 1st speaker, saya as 2nd speaker dan Nani as 3rd speaker. Senior-senior kami, Mbak Tice, Mbak Ita dan Mbak Namirah lolos di babak pertama, namun sayang mereka kandas di babak ketiga (kalau tidak salah). Sedangkan lawan saya dari Dempo itu sukses melenggang ke final dan mendapat juara 2.
 
It was a bad experience for me especially. But from then, I promise to improve and learn. And I still learn to be a good debater till now. Lomba demi lomba kami ikuti dan turnamen yang paling berkesan adalah BET 2008 yang diselenggarakan UB, kampus saya sekarang. Hasil mengejutkan, membanggakan sekaligus mengharukan muncul saat tim saya justru lolos ke babak kedua yang berisi 17 tim (seharusnya 16 tim tapi berhubung tim kami yang berperingkat 17 nilainya sama dengan yang di posisi 16 maka kami pun berhak lolos). Kami pun berkemas menuju rumah guru Bahasa Inggris kami, Bu Yulia, pembimbing sekaligus pembina DDS untuk menyiapkan bahan presentasi kami buat babak 17 besar. Kami ucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya bagi Bu Yulia yang rela rumahnya didatangi 6 murid dengan muka lusuh dan perut lapar demi membawa nama harum bagi sekolah (terimakasih juga untuk pangsit mie dan komputernya, Bu). 

Keesokan harinya, bencana terjadi untuk tim saya. Nani yang bertugas membawa soft-copy file presentasi di laptopnya ternyata belum meng-copy file itu dari komputernya. Ia hanya meng-copy shortcut filenya. Sempat dilanda putus asa dan depresi kami pun sepakat untuk presentasi tanpa PowerPoint padahal materinya cukup berat yaitu tentang euthanasia dan urutan tim pun menjadi dibalik, Nani as 1st, me as 2nd, and Jeny as 3rd. Jeny benar-benar menjadi bintang utama presentasi kami karena ia berhasil membawakan presentasinya dengan lugas, menarik dan interaktif. Babak presentasi itu juga menjadi awal pertemuan saya dengan Nur Luthfi Hidayatullah atau Mr.NLH yang saat itu masih bersekolah di SMAN 5 Malang dan Kian yang nantinya jadi coach kami juga. 

Kejutan kembali terjadi saat pengumuman siapa yang berhak lolos ke 8 besar. Tim senior kami malah tidak lolos padahal mereka telah mempersiapkan presentasi PowerPoint mereka sebaik mungkin dan kami yang tidak mengandalkan PowerPoint sama sekali justru lolos (walaupun di urutan terbawah sih, dan timnya Kak Luthfi di posisi teratas). Tim senior kami bangga akan pencapaian kami tapi kami justru tidak enak dan merasa senior kami itu juga pantas lolos. Yah, tapi keputusan ada di tangan juri dan di tangan Tuhan. Manusia berusaha, Tuhan-lah yang menentukan. Di babak 8 besar, kami harus bertemu dengan Tim Kak Luthfi dan tentu saja tidak mudah bagi kami menerapkan strategi mengalahkan mereka. Saat itu kami berperan sebagai Opposition dengan motion tentang alternative energy (minyak jarak), Jeny merasa tidak nyaman bertanding untuk pertama kalinya sebagi 1st negative dan saya pun akhirnya dipasang sebagai 1st speaker. Namun strategi kami gagal total dan kami pulang membawa kekalahan. Pertama, karena saya gugup dan bingung menjadi 1st speaker (sejak saat itu saya enggan menjadi 1st sampai sekarang) karena saya tidak punya basic philosophical yang kuat. Kedua, argument-argumen kami terlalu lemah dan kami tidak melihat lubang besar yang dimiliki tim lawan. Ketiga, karena kami kurang berpengalaman. Btw, tim-nya Kak Luthfi waktu itu baru saja memenangkan sebuah lomba, kata coach sementara kami -yaitu Mas Wira karena Regi waktu itu berhalangan hadir- dan itu makin menyurutkan semangat kami. But I still learn and I will remain focused, I promise.. 

NB: pembaca yang budiman, baca lanjutannya untuk menyimak kisah dan cita-cita saya menjadi debater (curcol). Mohon maaf kalau bahasanya terlalu egosentrik, namanya juga pengalaman pribadi. Walaupun pengalaman pribadi, saya yakin banyak hikmahnya khususnya di bdang pendidikan, karena pola pendidikan kita miskin analisis dan argument tajam karena masih terfokus pada hasil bukan pada proses. Saya yakin kemampuan debate ini sebenarnya sangat berguna bagi kita semua, khususnya generasi muda Indonesia. Demi Indonesia Satu, Indonesia Maju! 

-"So long a man lives, he will debate with each other even with his heart himself"- Me


2 komentar:

  1. gimana rasanya jadi debater ya ?
    nya , yuk coba lagi, i think i want feel it the sensation again , haha

    BalasHapus
  2. Ya gimana ya rasanya? Ada asem, ada asin, ada2 aja rasanya.. Hahhaha

    BalasHapus