Melihat berita dan artikel-artikel yang
bertebaran di internet, topik yang selalu hangat dibahas adalah penggunaan social
networking, terutama Facebook. Facebook dihujat dan dipuji di
waktu yang bersamaan. Di satu pihak kita tidak dapat menihilkan peran Facebook
sebagai penyulut booming jejaring sosial di dunia, khususnya di
Indonesia. Namun di sisi lain, Facebook dianggap memiliki sejuta dampak negatif
bagi penggunanya. Mulai dari isu privasi hingga isu-isu nasional dan tuntutan hukum
di banyak negara.
Jika
melihat perkembangan awal Facebook, publik pasti terkesima dengan
pendirinya, Mark Zuckerberg yang sanggup membawa Facebook menjadi situs
jejaring sosial paling terkemuka dalam kurun waktu beberapa tahun saja.
Hebatnya, kisah hidup Mark yang lulusan Harvard University itu telah dijadikan
sebuah film berjudul “The Social Network” yang rilis tahun 2010 lalu.
Mark kini tercatat sebagai milyarder termuda di dunia berkat kesuksesan Facebook
atau yang lebih sering kita singkat dengan FB.
Namun,
banyak pula orang yang sinis dengan kesuksesan Facebook dan menuduh Facebook
terlalu ‘overrated’ dan mengabaikan
privasi seseorang. Tetapi banyak pula yang mencoba meniru kesuksesan Facebook
sehingga situs jejaring sosial saat ini bertebaran bak jamur di musim hujan.
Lihatlah situs social networking yang lain seperti Twitter, Plurk,
Koprol, Mime, MySpace dan masih banyak lagi. Betapa mereka semua ingin
menyaingi Facebook dan betapa sengitnya persaingan ini sampai-sampai
disebutkan dalam salah satu berita terkini Facebook telah kehilangan
popularitasnya sebagai situs social networking nomor satu.
Belum
lagi tuntutan hukum yang muncul dari berbagai pihak terkait penggunaan Facebook.
Tahun 2010 lalu beberapa siswa bahkan sempat dibui dan dikeluarkan dari sekolah
hanya gara-gara memasang status atau comment yang bernada
pelecehan pada guru/sekolah tertentu. Lalu ada juga kasus gadis-gadis yang
diculik oleh orang tak dikenal setelah berkenalan lewat Facebook. Namun,
sayangnya kita salah mengartikan hal itu semua dan mengkambinghitamkan Facebook
sebagai biang keladi kedua kasus tersebut. Facebook hanyalah media, yang
menggunakan media adalah manusia dan tentu saja kesalahan terletak pada manusia.
Dengan atau tanpa Facebook, kekesalan murid terhadap guru dan penculikan
gadis-gadis oleh orang tak dikenal masih dan akan terus terjadi. Yang
terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya dan menggunakan Facebook
dengan benar.
Terlepas
dari berbagai masalah diatas, saya tetap membela Facebook dan
berterimakasih atas segala bantuannya baik langsung maupun tidak langsung.
Ceritanya seperti ini, saya memiliki seorang kekasih (bukan pacar, hanya
kekasih, orang yang saya cintai…) nun jauh disana dan bagaimana saya bisa
berhubungan dengannya atau mengetahui kabarnya kalau bukan lewat Facebook?
Kebetulan ia tidak punya akun Twitter jadi mustahil saya mencari keberadaannya
di Twitter. Satu-satunya alasan yang paling logis mengapa saya sering meng-update
status bertema cinta adalah karena saya bisa melihat cinta saya di Facebook.
Saya bisa mengunjungi profilnya, membalas comment-nya, menulis di wall-nya,
bahkan chat dengan dirinya. Betapa Facebook telah bermurah hati pada
saya (love is in the Facebook… Hahhaha *alay*).
Bukan
hanya dia seorang yang saya perhatikan selama saya membuka FB. Tentu ada
teman-teman saya, orang-orang yang saya kagumi, orangtua, mantan guru, dan dosen
saya yang juga sering muncul di halaman depan akun FB saya. Foto-foto waktu
saya bersama teman-teman, saudara, foto ketika lomba, seminar, jadi panitia dan
masih banyak lagi juga bertebaran di akun saya. Sekedar info, kemarin malam
saya chattingan dengan seseorang yang saya kagumi sampai jam 11 malam. Kami saling
bertukar info, ngobrol nggak jelas, hingga larut malam dan kantuk menjemput (Alay
lagi..). Jadi, bagaimana mungkin saya akan menghujat Facebook, bila ada
begitu banyak keuntungan yang saya dapat?! Bagaimana mungkin saya akan
meninggalkan Facebook (my favourite social networking) bila saya
menggunakannya untuk kepentingan baik-baik, berkomunikasi secara baik dan
benar, mendapat info, inspirasi, bertukar pikiran, dan mendapat kabar dari
orang-orang terdekat saya? Bagi saya, Facebook tetap yang terbaik dan
saya akan selalu membelanya.
NB: akun FB saya “Kanyadibya Cendana Prasetyo”
atau ketik kanz_cech@yahoo.co.id.
Barangkali para pembaca ingin mengenal saya lebih dekat dan lebih bermanfaat.
Hehhehe

sangat informatif sekali min, saya pribadi merupakan pengguna setia facebook (sejak 2010 - sekarang) dan saya akui pula ada banyak manfaat dari facebook, baik untuk keperluan bisnis seperti layanan jasa like maupun hanya untuk sekedar chatting dengan kerabat lama.
BalasHapus