Jumat, 24 Juni 2011

Pro Kontra Penggunaan Facebook: Saya sih, Lebih Banyak Pro-nya!

Melihat berita dan artikel-artikel yang bertebaran di internet, topik yang selalu hangat dibahas adalah penggunaan social networking, terutama Facebook. Facebook dihujat dan dipuji di waktu yang bersamaan. Di satu pihak kita tidak dapat menihilkan peran Facebook sebagai penyulut booming jejaring sosial di dunia, khususnya di Indonesia. Namun di sisi lain, Facebook dianggap memiliki sejuta dampak negatif bagi penggunanya. Mulai dari isu privasi hingga isu-isu nasional dan tuntutan hukum di banyak negara.
            Jika melihat perkembangan awal Facebook, publik pasti terkesima dengan pendirinya, Mark Zuckerberg yang sanggup membawa Facebook menjadi situs jejaring sosial paling terkemuka dalam kurun waktu beberapa tahun saja. Hebatnya, kisah hidup Mark yang lulusan Harvard University itu telah dijadikan sebuah film berjudul “The Social Network” yang rilis tahun 2010 lalu. Mark kini tercatat sebagai milyarder termuda di dunia berkat kesuksesan Facebook atau yang lebih sering kita singkat dengan FB.
            Namun, banyak pula orang yang sinis dengan kesuksesan Facebook dan menuduh Facebook terlalu ‘overrated’ dan  mengabaikan privasi seseorang. Tetapi banyak pula yang mencoba meniru kesuksesan Facebook sehingga situs jejaring sosial saat ini bertebaran bak jamur di musim hujan. Lihatlah situs social networking yang lain seperti Twitter, Plurk, Koprol, Mime, MySpace dan masih banyak lagi. Betapa mereka semua ingin menyaingi Facebook dan betapa sengitnya persaingan ini sampai-sampai disebutkan dalam salah satu berita terkini Facebook telah kehilangan popularitasnya sebagai situs social networking nomor satu.
            Belum lagi tuntutan hukum yang muncul dari berbagai pihak terkait penggunaan Facebook. Tahun 2010 lalu beberapa siswa bahkan sempat dibui dan dikeluarkan dari sekolah hanya gara-gara memasang status atau comment yang bernada pelecehan pada guru/sekolah tertentu. Lalu ada juga kasus gadis-gadis yang diculik oleh orang tak dikenal setelah berkenalan lewat Facebook. Namun, sayangnya kita salah mengartikan hal itu semua dan mengkambinghitamkan Facebook sebagai biang keladi kedua kasus tersebut. Facebook hanyalah media, yang menggunakan media adalah manusia dan tentu saja kesalahan terletak pada manusia. Dengan atau tanpa Facebook, kekesalan murid terhadap guru dan penculikan gadis-gadis oleh orang tak dikenal masih dan akan terus terjadi. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya dan menggunakan Facebook dengan benar.
            Terlepas dari berbagai masalah diatas, saya tetap membela Facebook dan berterimakasih atas segala bantuannya baik langsung maupun tidak langsung. Ceritanya seperti ini, saya memiliki seorang kekasih (bukan pacar, hanya kekasih, orang yang saya cintai…) nun jauh disana dan bagaimana saya bisa berhubungan dengannya atau mengetahui kabarnya kalau bukan lewat Facebook? Kebetulan ia tidak punya akun Twitter jadi mustahil saya mencari keberadaannya di Twitter. Satu-satunya alasan yang paling logis mengapa saya sering meng-update status bertema cinta adalah karena saya bisa melihat cinta saya di Facebook. Saya bisa mengunjungi profilnya, membalas comment-nya, menulis di wall-nya, bahkan chat dengan dirinya. Betapa Facebook telah bermurah hati pada saya (love is in the Facebook… Hahhaha *alay*).
            Bukan hanya dia seorang yang saya perhatikan selama saya membuka FB. Tentu ada teman-teman saya, orang-orang yang saya kagumi, orangtua, mantan guru, dan dosen saya yang juga sering muncul di halaman depan akun FB saya. Foto-foto waktu saya bersama teman-teman, saudara, foto ketika lomba, seminar, jadi panitia dan masih banyak lagi juga bertebaran di akun saya. Sekedar info, kemarin malam saya chattingan dengan seseorang yang saya kagumi sampai jam 11 malam. Kami saling bertukar info, ngobrol nggak jelas, hingga larut malam dan kantuk menjemput (Alay lagi..). Jadi, bagaimana mungkin saya akan menghujat Facebook, bila ada begitu banyak keuntungan yang saya dapat?! Bagaimana mungkin saya akan meninggalkan Facebook (my favourite social networking) bila saya menggunakannya untuk kepentingan baik-baik, berkomunikasi secara baik dan benar, mendapat info, inspirasi, bertukar pikiran, dan mendapat kabar dari orang-orang terdekat saya? Bagi saya, Facebook tetap yang terbaik dan saya akan selalu membelanya.

NB: akun FB saya “Kanyadibya Cendana Prasetyo” atau ketik kanz_cech@yahoo.co.id. Barangkali para pembaca ingin mengenal saya lebih dekat dan lebih bermanfaat. Hehhehe

1 komentar:

  1. sangat informatif sekali min, saya pribadi merupakan pengguna setia facebook (sejak 2010 - sekarang) dan saya akui pula ada banyak manfaat dari facebook, baik untuk keperluan bisnis seperti layanan jasa like maupun hanya untuk sekedar chatting dengan kerabat lama.

    BalasHapus

Jumat, 24 Juni 2011

Pro Kontra Penggunaan Facebook: Saya sih, Lebih Banyak Pro-nya!

Melihat berita dan artikel-artikel yang bertebaran di internet, topik yang selalu hangat dibahas adalah penggunaan social networking, terutama Facebook. Facebook dihujat dan dipuji di waktu yang bersamaan. Di satu pihak kita tidak dapat menihilkan peran Facebook sebagai penyulut booming jejaring sosial di dunia, khususnya di Indonesia. Namun di sisi lain, Facebook dianggap memiliki sejuta dampak negatif bagi penggunanya. Mulai dari isu privasi hingga isu-isu nasional dan tuntutan hukum di banyak negara.
            Jika melihat perkembangan awal Facebook, publik pasti terkesima dengan pendirinya, Mark Zuckerberg yang sanggup membawa Facebook menjadi situs jejaring sosial paling terkemuka dalam kurun waktu beberapa tahun saja. Hebatnya, kisah hidup Mark yang lulusan Harvard University itu telah dijadikan sebuah film berjudul “The Social Network” yang rilis tahun 2010 lalu. Mark kini tercatat sebagai milyarder termuda di dunia berkat kesuksesan Facebook atau yang lebih sering kita singkat dengan FB.
            Namun, banyak pula orang yang sinis dengan kesuksesan Facebook dan menuduh Facebook terlalu ‘overrated’ dan  mengabaikan privasi seseorang. Tetapi banyak pula yang mencoba meniru kesuksesan Facebook sehingga situs jejaring sosial saat ini bertebaran bak jamur di musim hujan. Lihatlah situs social networking yang lain seperti Twitter, Plurk, Koprol, Mime, MySpace dan masih banyak lagi. Betapa mereka semua ingin menyaingi Facebook dan betapa sengitnya persaingan ini sampai-sampai disebutkan dalam salah satu berita terkini Facebook telah kehilangan popularitasnya sebagai situs social networking nomor satu.
            Belum lagi tuntutan hukum yang muncul dari berbagai pihak terkait penggunaan Facebook. Tahun 2010 lalu beberapa siswa bahkan sempat dibui dan dikeluarkan dari sekolah hanya gara-gara memasang status atau comment yang bernada pelecehan pada guru/sekolah tertentu. Lalu ada juga kasus gadis-gadis yang diculik oleh orang tak dikenal setelah berkenalan lewat Facebook. Namun, sayangnya kita salah mengartikan hal itu semua dan mengkambinghitamkan Facebook sebagai biang keladi kedua kasus tersebut. Facebook hanyalah media, yang menggunakan media adalah manusia dan tentu saja kesalahan terletak pada manusia. Dengan atau tanpa Facebook, kekesalan murid terhadap guru dan penculikan gadis-gadis oleh orang tak dikenal masih dan akan terus terjadi. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya dan menggunakan Facebook dengan benar.
            Terlepas dari berbagai masalah diatas, saya tetap membela Facebook dan berterimakasih atas segala bantuannya baik langsung maupun tidak langsung. Ceritanya seperti ini, saya memiliki seorang kekasih (bukan pacar, hanya kekasih, orang yang saya cintai…) nun jauh disana dan bagaimana saya bisa berhubungan dengannya atau mengetahui kabarnya kalau bukan lewat Facebook? Kebetulan ia tidak punya akun Twitter jadi mustahil saya mencari keberadaannya di Twitter. Satu-satunya alasan yang paling logis mengapa saya sering meng-update status bertema cinta adalah karena saya bisa melihat cinta saya di Facebook. Saya bisa mengunjungi profilnya, membalas comment-nya, menulis di wall-nya, bahkan chat dengan dirinya. Betapa Facebook telah bermurah hati pada saya (love is in the Facebook… Hahhaha *alay*).
            Bukan hanya dia seorang yang saya perhatikan selama saya membuka FB. Tentu ada teman-teman saya, orang-orang yang saya kagumi, orangtua, mantan guru, dan dosen saya yang juga sering muncul di halaman depan akun FB saya. Foto-foto waktu saya bersama teman-teman, saudara, foto ketika lomba, seminar, jadi panitia dan masih banyak lagi juga bertebaran di akun saya. Sekedar info, kemarin malam saya chattingan dengan seseorang yang saya kagumi sampai jam 11 malam. Kami saling bertukar info, ngobrol nggak jelas, hingga larut malam dan kantuk menjemput (Alay lagi..). Jadi, bagaimana mungkin saya akan menghujat Facebook, bila ada begitu banyak keuntungan yang saya dapat?! Bagaimana mungkin saya akan meninggalkan Facebook (my favourite social networking) bila saya menggunakannya untuk kepentingan baik-baik, berkomunikasi secara baik dan benar, mendapat info, inspirasi, bertukar pikiran, dan mendapat kabar dari orang-orang terdekat saya? Bagi saya, Facebook tetap yang terbaik dan saya akan selalu membelanya.

NB: akun FB saya “Kanyadibya Cendana Prasetyo” atau ketik kanz_cech@yahoo.co.id. Barangkali para pembaca ingin mengenal saya lebih dekat dan lebih bermanfaat. Hehhehe

1 komentar:

  1. sangat informatif sekali min, saya pribadi merupakan pengguna setia facebook (sejak 2010 - sekarang) dan saya akui pula ada banyak manfaat dari facebook, baik untuk keperluan bisnis seperti layanan jasa like maupun hanya untuk sekedar chatting dengan kerabat lama.

    BalasHapus