Minggu, 17 Agustus 2014

Kota Tua Jakarta: Warisan Sejarah Kolonialisme di Indonesia

Selasa, 12 Agustus yang lalu, saya berkesempatan berjalan-jalan ke daerah Kota Tua Jakarta. Saya hanya memiliki waktu terbatas, sehingga setelah menapakkan kaki di Stasiun Jakarta Kota, saya memutuskan hanya menapak tilas dan memotret bangunan-bangunan bersejarah di sekitar Museum Bank Indonesia yang sebelumnya sudah pernah saya kunjungi tahun 2011 silam.

Kota Tua Jakarta terletak di Kelurahan Pinangsia Kecamatan Tamansari Kotamadya Jakarta Barat. Saat ini, kawasan Kota Tua berada di dua wilayah kotamadya, yaitu Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Kota Tua sebagai cikal bakal Jakarta, tentunya menyimpan banyak cerita di balik megahnya bangunan (tua) yang kini menjadi cagar budaya. Gedung-gedung yang ada merupakan peninggalan masa lalu dari zaman kolonial Belanda.

Kota Tua Jakarta di masa lalu menjadi simbol kejayaan bagi siapa saja yang mampu menguasainya. Tak heran jika mulai dari Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda –Pajajaran, Kesultanan Banten –Jayakarta, Verenigde Oost-indische Compagnie (VOC), Pemerintah Jepang, hingga kini Republik Indonesia melalui Pemerintah DKI Jakarta, terus berupaya mempertahankannya.

Bangunan-bangunan yang ada disini kebanyakan berasal dari abad ke-17, saat daerah yang dulu disebut Batavia ini berada di bawah kekuasaan Belanda. Di wilayah Kota Tua kita dapat melihat bangunan-bangunan kuno bergaya arsitektur Belanda atau Eropa, ada juga yang mendapat pengaruh dari China, serta kombinasi dari arsitektur China dan Belanda. Beberapa bangunan menjadi museum, sebagian lagi menjadi cagar budaya yang dilindungi Pemerintah DKI Jakarta, dan ada pula bangunan yang tak terawat. Berwisata ke Kota Tua Jakarta menarik bagi wisatawan yang suka sejarah dan bangunan antik karena daerah ini adalah pusat bangunan-bangunan bersejarah di Jakarta.

Berikut adalah beberapa bangunan yang sempat saya abadikan potretnya.

1. Stasiun Jakarta Kota
Disebut juga Stasiun Beos pada tahun 1980-an merupakan salah satu stasiun tertua di Jakarta. Kata Beos merupakan kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij yaitu Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur yang menghubungkan Batavia dengan Kedung gedeh. Kata Beos juga ada yang menyebut berasal dari kata Batavia En Omstreken, yang artinya Batavia dan sekitarnya. Dahulu stasiun ini berfungsi sebagai penghubung Kota Batavia dengan kota lain seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), Karavam (Karawang), dan lain-lain.

Stasiun ini mengoperasikan jalur kereta api pertama Batavia-Buitenzorg (Bogor) dan telah beroperasi sejak tahun 1873. Stasiun ini dirancang Frans Johan Louwrens Ghijsels, yaitu seorang arsitek kelahiran Tulungagung 8 September 1782, dengan kombinasi antara struktur dan teknik modern Barat ala art deco berpadu dengan bentuk tradisional setempat. Oleh karena itulah, stasiun ini dijuluki“Het Indische Bouwen” atau “Gedung Hindia”,  sebagai pengakuan akan kesederhanaan namun bercita rasa seni tinggi sesuai filosofi Yunani Kuno, yaitu, “Kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju kecantikan”. Saat ini Stasiun Jakarta Kota melayani jalur kereta api jarak jauh dan KRL (commuter line) dan menjadi salah satu stasiun tujuan terakhir KRL Jabodetabek.

Stasiun Jakarta Kota di pagi hari

2. Museum Bank Indonesia
 
Salah satu museum bergaya arsitektur Belanda namun dengan cita rasa modern. Museum ini sudah direnovasi menjadi bangunan modern dan menjadi salah satu museum terbaik di Indonesia. Uniknya, pengunjung dapat masuk museum ini secara gratis dan dapat menjelajah bagian dalam museum hingga puas. 

Awal mulanya bangunan objek wisata Museum Bank Indonesia adalah sebuah rumah sakit umum yang bernama Binnen Hospitaal, hingga pada sekitar tahun 1828, bangunan tersebut di ubah fungsinya menjadi tempat penyimpanan uang atau Bank dengan nama De Javashe Bank. Lalu museum ini juga pernah berfungsi sebagai penjara pada zaman penjajahan Jepang (1942-1945) sebelum kembali menjadi Bank setelah Indonesia merdeka. Pada tahun 1953 setelah 9 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, bangunan DJB ditetapkan sebagai Bank Sentral Indonesia atau yang lebih dikenal sebagai Bank Indonesia.

Selang 9 tahun kemudian yaitu pada tahun 1962, pemerintah Indonesia kemudian memindahkan Bank Indonesia tersebut ke lokasi baru dan lebih strategis, sehingga tempat BI yang dahulu mejadi kosong tanpa di gunakan untuk keperluaan yang penting. Akhirnya pada tahun 2006 Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah meresmikan bangunan kosong tersebut sebagai Museum Bank Indonesia yang dapat di akses secara mudah oleh masyarakat umum.




3. Gedung Arsip Bank Mandiri

Gedung ini tepat berada di seberang Museum Bank Indonesia. Sayangnya saya kesulitan mencari data gedung apa ini sebenarnya. Menurut Panduan Bangunan Cagar Budaya 2 yang diterbitkan situs kotatuajakarta.org bangunan ini adalah Gedung Arsip Bank Mandiri. Namun penelusuran di google dengan kata kunci "gedung arsip bank mandiri" tidak membawa saya pada gambar seperti di bawah ini.


Saya kurang paham dengan bangunan maupun gaya arsitektur dari gambar-gambar di bawah ini. Dari hasil penelusuran saya, gaya arsitektur yang dipakai pada masa itu adalah art deco, namun saya sendiri kurang paham mana bangunan yang art deco dan mana yang tidak. Pembaca yang paham mungkin dapat membantu saya mengetahui bangunan maupun gaya arsitektur yang dipakai.

Tatanan yang menarik. Gedung ini terletak persis di seberang Museum BI

Jendela yang diklaim bergaya art deco

Bangunan yang mungkin adalah bekas rumah penduduk. Terletak di depan Gedung Arsip Bank Mandiri

Gedung di samping Gedung Arsip Bank Mandiri

Bangunan kuno yang tampak eksotis
Bagi yang ingin mempelajari sejarah Kota Tua Jakarta bisa dilihat disini

Mempelajari dan napak tilas Kota Tua Jakarta membuat saya merenungkan kembali tentang warisan kolonialisme di Indonesia, kemerdekaan yang kita raih, dan harga yang harus kita bayar untuk meraih kemerdekaan itu. Bangunan-bangunan di Kota Tua Jakarta menjadi saksi bisu era kolonialisme di Indonesia. Semoga kita tidak pernah lupa akan warisan sejarah dan tetap merawat bangunan-bangunan bersejarah ini. Di Hari Peringatan Kemerdekaan RI ini semoga Indonesia semakin jaya dan tidak lagi jatuh dalam kolonialisme. Semoga semangat kemerdekaan kita masih membara dan mengantarkan Indonesia menjadi negara yang lebih baik lagi. Dirgahayu Republik Indonesia ke-69! Jayalah Indonesiaku!

Foto: dokumentasi pribadi

1 komentar:

  1. banyak juga ya bangunan di Jakarta Kota, jepretan bagus-bagus juga

    BalasHapus

Minggu, 17 Agustus 2014

Kota Tua Jakarta: Warisan Sejarah Kolonialisme di Indonesia

Selasa, 12 Agustus yang lalu, saya berkesempatan berjalan-jalan ke daerah Kota Tua Jakarta. Saya hanya memiliki waktu terbatas, sehingga setelah menapakkan kaki di Stasiun Jakarta Kota, saya memutuskan hanya menapak tilas dan memotret bangunan-bangunan bersejarah di sekitar Museum Bank Indonesia yang sebelumnya sudah pernah saya kunjungi tahun 2011 silam.

Kota Tua Jakarta terletak di Kelurahan Pinangsia Kecamatan Tamansari Kotamadya Jakarta Barat. Saat ini, kawasan Kota Tua berada di dua wilayah kotamadya, yaitu Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Kota Tua sebagai cikal bakal Jakarta, tentunya menyimpan banyak cerita di balik megahnya bangunan (tua) yang kini menjadi cagar budaya. Gedung-gedung yang ada merupakan peninggalan masa lalu dari zaman kolonial Belanda.

Kota Tua Jakarta di masa lalu menjadi simbol kejayaan bagi siapa saja yang mampu menguasainya. Tak heran jika mulai dari Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda –Pajajaran, Kesultanan Banten –Jayakarta, Verenigde Oost-indische Compagnie (VOC), Pemerintah Jepang, hingga kini Republik Indonesia melalui Pemerintah DKI Jakarta, terus berupaya mempertahankannya.

Bangunan-bangunan yang ada disini kebanyakan berasal dari abad ke-17, saat daerah yang dulu disebut Batavia ini berada di bawah kekuasaan Belanda. Di wilayah Kota Tua kita dapat melihat bangunan-bangunan kuno bergaya arsitektur Belanda atau Eropa, ada juga yang mendapat pengaruh dari China, serta kombinasi dari arsitektur China dan Belanda. Beberapa bangunan menjadi museum, sebagian lagi menjadi cagar budaya yang dilindungi Pemerintah DKI Jakarta, dan ada pula bangunan yang tak terawat. Berwisata ke Kota Tua Jakarta menarik bagi wisatawan yang suka sejarah dan bangunan antik karena daerah ini adalah pusat bangunan-bangunan bersejarah di Jakarta.

Berikut adalah beberapa bangunan yang sempat saya abadikan potretnya.

1. Stasiun Jakarta Kota
Disebut juga Stasiun Beos pada tahun 1980-an merupakan salah satu stasiun tertua di Jakarta. Kata Beos merupakan kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij yaitu Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur yang menghubungkan Batavia dengan Kedung gedeh. Kata Beos juga ada yang menyebut berasal dari kata Batavia En Omstreken, yang artinya Batavia dan sekitarnya. Dahulu stasiun ini berfungsi sebagai penghubung Kota Batavia dengan kota lain seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), Karavam (Karawang), dan lain-lain.

Stasiun ini mengoperasikan jalur kereta api pertama Batavia-Buitenzorg (Bogor) dan telah beroperasi sejak tahun 1873. Stasiun ini dirancang Frans Johan Louwrens Ghijsels, yaitu seorang arsitek kelahiran Tulungagung 8 September 1782, dengan kombinasi antara struktur dan teknik modern Barat ala art deco berpadu dengan bentuk tradisional setempat. Oleh karena itulah, stasiun ini dijuluki“Het Indische Bouwen” atau “Gedung Hindia”,  sebagai pengakuan akan kesederhanaan namun bercita rasa seni tinggi sesuai filosofi Yunani Kuno, yaitu, “Kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju kecantikan”. Saat ini Stasiun Jakarta Kota melayani jalur kereta api jarak jauh dan KRL (commuter line) dan menjadi salah satu stasiun tujuan terakhir KRL Jabodetabek.

Stasiun Jakarta Kota di pagi hari

2. Museum Bank Indonesia
 
Salah satu museum bergaya arsitektur Belanda namun dengan cita rasa modern. Museum ini sudah direnovasi menjadi bangunan modern dan menjadi salah satu museum terbaik di Indonesia. Uniknya, pengunjung dapat masuk museum ini secara gratis dan dapat menjelajah bagian dalam museum hingga puas. 

Awal mulanya bangunan objek wisata Museum Bank Indonesia adalah sebuah rumah sakit umum yang bernama Binnen Hospitaal, hingga pada sekitar tahun 1828, bangunan tersebut di ubah fungsinya menjadi tempat penyimpanan uang atau Bank dengan nama De Javashe Bank. Lalu museum ini juga pernah berfungsi sebagai penjara pada zaman penjajahan Jepang (1942-1945) sebelum kembali menjadi Bank setelah Indonesia merdeka. Pada tahun 1953 setelah 9 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, bangunan DJB ditetapkan sebagai Bank Sentral Indonesia atau yang lebih dikenal sebagai Bank Indonesia.

Selang 9 tahun kemudian yaitu pada tahun 1962, pemerintah Indonesia kemudian memindahkan Bank Indonesia tersebut ke lokasi baru dan lebih strategis, sehingga tempat BI yang dahulu mejadi kosong tanpa di gunakan untuk keperluaan yang penting. Akhirnya pada tahun 2006 Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah meresmikan bangunan kosong tersebut sebagai Museum Bank Indonesia yang dapat di akses secara mudah oleh masyarakat umum.




3. Gedung Arsip Bank Mandiri

Gedung ini tepat berada di seberang Museum Bank Indonesia. Sayangnya saya kesulitan mencari data gedung apa ini sebenarnya. Menurut Panduan Bangunan Cagar Budaya 2 yang diterbitkan situs kotatuajakarta.org bangunan ini adalah Gedung Arsip Bank Mandiri. Namun penelusuran di google dengan kata kunci "gedung arsip bank mandiri" tidak membawa saya pada gambar seperti di bawah ini.


Saya kurang paham dengan bangunan maupun gaya arsitektur dari gambar-gambar di bawah ini. Dari hasil penelusuran saya, gaya arsitektur yang dipakai pada masa itu adalah art deco, namun saya sendiri kurang paham mana bangunan yang art deco dan mana yang tidak. Pembaca yang paham mungkin dapat membantu saya mengetahui bangunan maupun gaya arsitektur yang dipakai.

Tatanan yang menarik. Gedung ini terletak persis di seberang Museum BI

Jendela yang diklaim bergaya art deco

Bangunan yang mungkin adalah bekas rumah penduduk. Terletak di depan Gedung Arsip Bank Mandiri

Gedung di samping Gedung Arsip Bank Mandiri

Bangunan kuno yang tampak eksotis
Bagi yang ingin mempelajari sejarah Kota Tua Jakarta bisa dilihat disini

Mempelajari dan napak tilas Kota Tua Jakarta membuat saya merenungkan kembali tentang warisan kolonialisme di Indonesia, kemerdekaan yang kita raih, dan harga yang harus kita bayar untuk meraih kemerdekaan itu. Bangunan-bangunan di Kota Tua Jakarta menjadi saksi bisu era kolonialisme di Indonesia. Semoga kita tidak pernah lupa akan warisan sejarah dan tetap merawat bangunan-bangunan bersejarah ini. Di Hari Peringatan Kemerdekaan RI ini semoga Indonesia semakin jaya dan tidak lagi jatuh dalam kolonialisme. Semoga semangat kemerdekaan kita masih membara dan mengantarkan Indonesia menjadi negara yang lebih baik lagi. Dirgahayu Republik Indonesia ke-69! Jayalah Indonesiaku!

Foto: dokumentasi pribadi

1 komentar:

  1. banyak juga ya bangunan di Jakarta Kota, jepretan bagus-bagus juga

    BalasHapus