Selasa, 28 Oktober 2014

Menuju ASEAN Community 2015, Bagaimana Kondisi Bahasa Inggris Kita?


*Sebelum mulai membaca, harap diingat ini tulisan curhat dari pengalaman pribadi saya, pengamatan dan survei kecil-kecilan. Tulisan ini juga disertai data, namun sebagian besar adalah pendapat pribadi penulis.

Sumber: micecapabilities.com
Saya tergelitik dengan topik ini sejak beberapa bulan yang lalu sejak saya menyadari teman-teman ASEAN saya lebih fasih berbahasa Inggris dibanding saya. Saya bergabung dalam sebuah forum  internet yang memiliki satu thread yang rajin saya ikuti, dimana di thread tersebut saya bertemu dengan teman-teman di dunia maya yang sudah seperti teman dan keluarga sendiri. Saat ramai, thread ini bisa dikunjungi oleh lebih dari 100 orang dan sekitar 20an orang yang sibuk berkomentar di thread itu, termasuk saya. Sekitar 5 orang berasal dari Filipina, 1 orang dari Malaysia, 2 dari Singapura, 1 dari Vietnam, 2 dari Indonesia (termasuk saya). Sisanya dari negara lain. Sedangkan pembuat thread itu berasal dari Filipina. 

Forum ini menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama sehingga para pengguna berdiskusi menggunakan bahasa Inggris. Terkadang ID mereka juga mencantumkan asal, sehingga kita bisa tahu darimana mereka berasal. Setelah berbulan-bulan bergabung di thread itu, saya kagum terhadap teman-teman saya orang Filipina dan Singapura. Mereka punya kemampuan bahasa Inggris yang sangat baik. Bahasa Inggris adalah salah satu dari 2 bahasa resmi yang digunakan di Filipina, selain Filipino (Tagalog). Sedangkan di Singapura bahasa Inggris adalah satu dari 4 bahasa resmi dan merupakan bahasa utama. Tidak mengherankan bukan jika mereka pandai berbahasa Inggris? Bukan itu saja, 2 teman saya dari Singapura yang kebetulan keturunan China mereka menggunakan bahasa Mandarin dan bahasa Inggris dalam kesehariannya. Selain itu, mereka juga bisa berbahasa Melayu, 1 orang fasih berbahasa Korea dan 1 orang lainnya bisa sedikit bahasa Korea dan Jepang. Di Indonesia, bisa lebih dari 2 bahasa saja sudah merupakan prestasi.

Sedangkan teman-teman Filipina, fasih berbahasa Filipino (Tagalog) dan bahasa Inggris. Bahkan, saya sempat salah sangka dan mengira pembuat thread yang orang Filipina itu adalah orang asing (native speaker) dan ekspat di Filipina karena kemampuannya yang setara native. Ketika saya tanya mengapa dia tidak pernah menggunakan tagalog dan memakai bahasa Inggris, dia menjawab kalau dia berbicara dalam Tagalog tapi lebih nyaman menulis dengan bahasa Inggris. Whew.

Saya pun berpikir sejauh mana sebenarnya kemampuan bahasa Inggris orang Indonesia dan apakah kita memang kalah dibandingkan negara-negara tetangga. Lalu bagaimana jika ASEAN Community 2015 berjalan nantinya, jika dari kemampuan bahasa Inggris saja sudah kalah, bagaimana dengan kemampuan (skill) yang lain? Wacananya ketika ASEAN Economic Community (AEC) 2015 berjalan, maka arus perpindahan pekerja dari dan ke negara ASEAN lain akan semakin mudah. Artinya, pekerja Indonesia tidak bisa hanya diam saja karena mereka sekarang harus bersaing dengan sesama pekerja lain dari negara-negara ASEAN. Salah satu kemampuan yang paling dibutuhkan dan pastinya akan ditanyakan sekarang adalah kemampuan bahasa Inggris sebagai bahasa global. Selain itu, 10 negara anggota ASEAN juga punya bahasa yang berbeda-beda. Bahasa Thailand jelas beda dengan bahasa Indonesia dan bahasanya orang Myanmar jelas beda dengan orang Brunei. Jadi, hampir bisa dipastikan, jika kita berkomunikasi dengan sesama penduduk negara ASEAN diluar negara kita, kita akan menggunakan bahasa Inggis. Nah, sudahkah kita merasa mampu berbahasa Inggris?

Kondisi di Indonesia
Berdasarkan data EF English Proficiency Index Third Edition, kemampuan bahasa Inggris orang Indonesia berada di peringkat 25 dari 60 negara atau termasuk moderate proficiency. Diantara 5 negara ASEAN yang disurvei kita hanya kalah dari Malaysia dan Singapura yang berada di peringkat 11 dan 12. Negara Vietnam di posisi 28 dan Thailand di posisi 55. Pada laporan ketiga ini, EF mengakui menggunakan data dari 750.000 peserta tes bahasa Inggris di tempat mereka pada tahun 2012 serta menganalisa tren kemampuan bahasa Inggris pada tahun 2007-2012 menggunakan data dari hampir 5 juta orang dewasa. Bagaimana legitimasi dan kredibilitas indeks ini? Jika yang dihitung hanya dari peserta tes EF, maka saya sedikit skeptis ini bisa menggambarkan kemampuan bahasa Inggris suatu negara karena biasanya peserta tes bahasa Inggris di EF juga belajar bahasa Inggris di EF, jadi secara umum kemampuan bahasa Inggris mereka lebih baik dari rata-rata. 

Sedikit curhat tentang pengalaman saya belajar bahasa Inggris. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Jawa dengan tingkat pendidikan yang lebih baik dibanding wilayah lain di Indonesia, saya menikmati fasilitas pengajaran yang baik. Belajar bahasa Inggris sejak kelas 4 SD, hingga SMP dan SMA. Saya beruntung selalu mendapat guru bahasa Inggris yang baik. Bahkan, menurut saya guru terbaik saya hampir selalu guru bahasa Inggris. Itulah mengapa saya suka bahasa Inggris, karena guru-guru saya membuat saya semangat belajar dan dapat mengajar dengan baik. Kebalikan dari guru matematika saya dan saya kebetulan tidak suka matematika :p. 

Saya sendiri melihat dan merasa bahasa Inggris yang diajarkan di sekolah masih terlalu kaku, berfokus pada grammar, tenses, vocab, dan lain-lain. Kita diajar supaya bisa membaca dan menulis, hingga kaku atau kagok saat berbicara bahasa itu. Jika kita mencoba memakai bahasa Inggris untuk percakapan dengan teman atau kenalan maka kita akan dibilang sok atau dalam bahasa Jawa keminggris. Jika kebetulan di sekolah kita punya peraturan menggunakan bahasa Inggris dalam sehari, paling-paling peraturan itu hanya dipakai di dalam kelas selama beberapa menit sebelum dilupakan. Ketika ujian nasional dan mata pelajaran bahasa Inggris diujikan, saat itu pula para siswa tampak kalang kabut, cemas, gelisah, takut tidak lulus, dll. Harus diakui ujian mata pelajaran Inggris pada ujian nasional merupakan salah satu ujian yang paling ditakuti siswa. Makanya lembaga les-les bahasa Inggris semacam EF, ILP, TBI, dll laris manis di Indonesia. 

Menurut teman-teman saya, masalah utama belajar bahasa Inggris di Indonesia adalah ketakutan kita untuk berbicara, takut salah, tidak ada lawan bicara, dan dicap sok Inggris tadi. Padahal, disadari atau tidak, sudah banyak kata serapan dan kosakata yang diambil dari bahasa Inggris. Penggunaan istilah (khususnya di bidang teknologi) seperti WiFi, wireless, smartphone, 3G, download, upload, streaming, dll sudah menjamur di kalangan anak muda di kota-kota besar Indonesia. Namun sayangnya masih sebatas itu, jika kita disuruh berbicara di depan publik menggunakan bahasa Inggris pasti banyak yang tidak pede, takut, dan minder. Jika menulis di forum-forum internet pun, banyak orang Indonesia yang takut salah tulis. Takut salah. Itu kata kunci belajar bahasa Inggris di Indonesia. Takut salah grammar atau tense. Padahal bahasa Inggris orang native pun atau yang sudah lama tinggal di negara mayoritas berbahasa Inggris belum tentu benar grammar atau tense-nya. Mereka bisa karena mereka terbiasa menggunakan bahasa Inggris sehari-hari.

Ada pandangan bahwa kemampuan bahasa seseorang akan meningkat jika semakin banyak paparan (exposure) bahasa tersebut. Jika ingin bisa berbahasa Inggris, yang harus ditingkatkan adalah paparan kita terhadap bahasa Inggris. Nah, inilah yang masih memprihatinkan di Indonesia. Banyak kata serapan atau kata bahasa asing yang langsung disalin di Indonesia. Terkadang orang tidak tahu tulisan atau pengucapannya yang benar sehingga sering salah tulis dan ejaan. Hanya tahu ketika digunakan dalam percakapan sehari-hari atau di media. Media yang berbahasa Inggris masih jarang, native juga jarang ditemui dan kalaupun ada belum tentu bisa bercakap-cakap entah karena kita sungkan atau tidak mau. Lalu orang tua kita dan tetangga-tetangga juga jarang yang bisa. Teman sendiri yang bisa bahasa Inggris belum tentu mau mengajari. Buku teks atau kamus juga mahal. Pendek kata, selain anak jurusan bahasa Inggris, sekolah internasional atau orang yang belajar menggunakan banyak sumber bahasa Inggris, jarang ada orang yang fasih berbahasa Inggris. Generasi muda di Indonesia masih lumayan, karena mereka mendapat pelajaran bahasa Inggris sejak dini namun bagi generasi diatas usia 40-an tidak mudah untuk mempelajari bahasa Inggris, apalagi dari nol. Inilah kondisi akar rumput di Indonesia dan ini pun dilihat dari kacamata orang Jawa, bukan yang tinggal di Sumatra atau Papua.   

sumber: kaskus.co.id

sumber: forum.indowebster.com
Rumput Tetangga Lebih Hijau
Saya mengakui saya melihat rumput tetangga kita lebih hijau. Dalam kasus ini saya akan ambil contoh Filipina. Negara yang pernah dijajah Spanyol, sehingga sebagian populasinya bisa berbahasa Spanyol dan dijajah AS sehingga hampir semua orang bisa berbahasa Inggris. Indonesia pernah dijajah Spanyol, Portugis, Belanda, dan Jepang, berapa persen populasi kita yang bisa bahasa-bahasa tersebut? Memang tidak banyak, karena konon di abad ke-17 ketika para penjajah Eropa datang, bahasa Melayu adalah lingua franca, bahasa penghubung. Lalu ketika penyelenggaraan Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 (tepat hari ini, 106 tahun yang lalu) kita sepakat menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan dikukuhkan ketika Indonesia merdeka. Bahasa Inggris pun baru menjadi bagian penting dari kurikulum pendidikan di tahun 2000-an. 

Bandingkan dengan Filipina. Sejak kecil, usia TK semua anak sudah mendapat pendidikan bahasa Inggris. Buku-buku, teks, media dan lain sebagainya banyak yang berbahasa Inggris. Dokumen resmi, naskah, forum, rapat-rapat digelar dalam bahasa Inggris. Bahkan ada radio yang bilingual, menggunakan bahasa Tagalog dan Inggris. Mereka juga belajar sastra Inggris sedini mungkin dan dicekoki banyak acara TV dari AS. Bahasa Inggris adalah keseharian mereka dan tidak ada pilihan lain selain belajar dengan benar. Di negara yang katanya 27,8% penduduknya tidak mengikuti atau tidak lulus sekolah dasar, hampir semua orang bisa bahasa Inggris. Plang dan papan di jalan-jalan juga menggunakan bahasa Inggris yang bagus. 

sumber: imageshack
Kata teman saya orang Filipina, secara umum penduduk Filipina bisa berbahasa Inggris dan bisa mengerti apa yang kita katakan sekalipun mungkin dengan bahasa Inggris yang terbatas. Namun banyak juga Grammar Nazi yang siap mengejek jika kita salah atau tidak bisa berbahasa Inggris. Sebenarnya mereka juga tidak selalu berbicara dalam bahasa Inggrus, namun mereka sering menyisipkan kata-kata bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Ada juga kecenderungan semakin banyak orang yang dituntut bisa berbahasa Inggris karena semakin banyak tenaga call center outsourcing di Filipina, orang-orang yang menjawab telepon perusahaan-perusahaan yang berada di Inggris atau AS. Selain itu, universitas top disana mengajarkan mata kuliah mereka dalam bahasa Inggris sehingga Filipina menjadi salah satu negara tujuan untuk mendapat gelar Master atau Doktor. Biayanya juga lebih murah dibanding negara-negara Inggris, AS atau Australia.

Campur-campur. sumber: happysammy.org
Sistem pengajaran dan keseharian mereka, membuat orang Filipina terbiasa menggunakan bahasa Inggris dan akhirnya cukup menguasai bahasa tersebut. Maka, jika nanti AEC 2015 berjalan dan kita harus berebut pekerjaan dengan orang Filipina yang kemampuannya hampir sama dengan kita, jangan heran jika orang Filipina yang lebih dipilih karena mungkin bahasa Inggris mereka lebih bagus daripada kita. Oleh karena itu, menurut saya, karena bahasa Inggris itu menjadi suatu kebutuhan sekarang, sudah selayaknya kita belajar bahasa Inggris yang baik. Namun, sistem pengajaran harus sedikit diubah agar lebih fleksibel. Akan lebih baik jika belajar bahasa Inggris (atau bahasa lainnya) dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, tidak perlu ada tuntutan, tidak perlu tes yang memberatkan, dan membuat setiap orang nyaman.  

Catatan: ketakutan lain dalam berbahasa Inggris adalah dicap tidak nasionalis dan terlalu kebarat-baratan. Sebenarnya tidak ada hubungannya antara belajar bahasa asing dengan melupakan budaya sendiri. Jika benar adanya, maka diplomat-diplomat kita di luar negeri juga pasti tidak nasionalis. Jika memang ingin mempelajari dan mempertahankan budaya, kita bisa meluangkan waktu untuk itu sama dengan kita meluangkan waktu untuk belajar hal lain. Justru dengan kemampuan bahasa Inggris kita bisa mengetahui bagaimana orang asing menilai kita dan malah bisa mempromosikan budaya Indonesia ke dunia internasional.

2 komentar:

  1. Please calm your tilts asshole. For be a person who is addict for kdrama should stafu, you are bringing down idols and is not like k-actors are even better. Watch real movies with real actors then and not from Korea.

    BalasHapus
  2. @Anonim what's the correlation between addicted to Korean dramas and my opinion on English languange in Indonesia? I'm sorry, you're entitled to have your own opinion and as the owner of this bog, I'm also entitled to have and share my own opinion.

    BalasHapus

Selasa, 28 Oktober 2014

Menuju ASEAN Community 2015, Bagaimana Kondisi Bahasa Inggris Kita?


*Sebelum mulai membaca, harap diingat ini tulisan curhat dari pengalaman pribadi saya, pengamatan dan survei kecil-kecilan. Tulisan ini juga disertai data, namun sebagian besar adalah pendapat pribadi penulis.

Sumber: micecapabilities.com
Saya tergelitik dengan topik ini sejak beberapa bulan yang lalu sejak saya menyadari teman-teman ASEAN saya lebih fasih berbahasa Inggris dibanding saya. Saya bergabung dalam sebuah forum  internet yang memiliki satu thread yang rajin saya ikuti, dimana di thread tersebut saya bertemu dengan teman-teman di dunia maya yang sudah seperti teman dan keluarga sendiri. Saat ramai, thread ini bisa dikunjungi oleh lebih dari 100 orang dan sekitar 20an orang yang sibuk berkomentar di thread itu, termasuk saya. Sekitar 5 orang berasal dari Filipina, 1 orang dari Malaysia, 2 dari Singapura, 1 dari Vietnam, 2 dari Indonesia (termasuk saya). Sisanya dari negara lain. Sedangkan pembuat thread itu berasal dari Filipina. 

Forum ini menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama sehingga para pengguna berdiskusi menggunakan bahasa Inggris. Terkadang ID mereka juga mencantumkan asal, sehingga kita bisa tahu darimana mereka berasal. Setelah berbulan-bulan bergabung di thread itu, saya kagum terhadap teman-teman saya orang Filipina dan Singapura. Mereka punya kemampuan bahasa Inggris yang sangat baik. Bahasa Inggris adalah salah satu dari 2 bahasa resmi yang digunakan di Filipina, selain Filipino (Tagalog). Sedangkan di Singapura bahasa Inggris adalah satu dari 4 bahasa resmi dan merupakan bahasa utama. Tidak mengherankan bukan jika mereka pandai berbahasa Inggris? Bukan itu saja, 2 teman saya dari Singapura yang kebetulan keturunan China mereka menggunakan bahasa Mandarin dan bahasa Inggris dalam kesehariannya. Selain itu, mereka juga bisa berbahasa Melayu, 1 orang fasih berbahasa Korea dan 1 orang lainnya bisa sedikit bahasa Korea dan Jepang. Di Indonesia, bisa lebih dari 2 bahasa saja sudah merupakan prestasi.

Sedangkan teman-teman Filipina, fasih berbahasa Filipino (Tagalog) dan bahasa Inggris. Bahkan, saya sempat salah sangka dan mengira pembuat thread yang orang Filipina itu adalah orang asing (native speaker) dan ekspat di Filipina karena kemampuannya yang setara native. Ketika saya tanya mengapa dia tidak pernah menggunakan tagalog dan memakai bahasa Inggris, dia menjawab kalau dia berbicara dalam Tagalog tapi lebih nyaman menulis dengan bahasa Inggris. Whew.

Saya pun berpikir sejauh mana sebenarnya kemampuan bahasa Inggris orang Indonesia dan apakah kita memang kalah dibandingkan negara-negara tetangga. Lalu bagaimana jika ASEAN Community 2015 berjalan nantinya, jika dari kemampuan bahasa Inggris saja sudah kalah, bagaimana dengan kemampuan (skill) yang lain? Wacananya ketika ASEAN Economic Community (AEC) 2015 berjalan, maka arus perpindahan pekerja dari dan ke negara ASEAN lain akan semakin mudah. Artinya, pekerja Indonesia tidak bisa hanya diam saja karena mereka sekarang harus bersaing dengan sesama pekerja lain dari negara-negara ASEAN. Salah satu kemampuan yang paling dibutuhkan dan pastinya akan ditanyakan sekarang adalah kemampuan bahasa Inggris sebagai bahasa global. Selain itu, 10 negara anggota ASEAN juga punya bahasa yang berbeda-beda. Bahasa Thailand jelas beda dengan bahasa Indonesia dan bahasanya orang Myanmar jelas beda dengan orang Brunei. Jadi, hampir bisa dipastikan, jika kita berkomunikasi dengan sesama penduduk negara ASEAN diluar negara kita, kita akan menggunakan bahasa Inggis. Nah, sudahkah kita merasa mampu berbahasa Inggris?

Kondisi di Indonesia
Berdasarkan data EF English Proficiency Index Third Edition, kemampuan bahasa Inggris orang Indonesia berada di peringkat 25 dari 60 negara atau termasuk moderate proficiency. Diantara 5 negara ASEAN yang disurvei kita hanya kalah dari Malaysia dan Singapura yang berada di peringkat 11 dan 12. Negara Vietnam di posisi 28 dan Thailand di posisi 55. Pada laporan ketiga ini, EF mengakui menggunakan data dari 750.000 peserta tes bahasa Inggris di tempat mereka pada tahun 2012 serta menganalisa tren kemampuan bahasa Inggris pada tahun 2007-2012 menggunakan data dari hampir 5 juta orang dewasa. Bagaimana legitimasi dan kredibilitas indeks ini? Jika yang dihitung hanya dari peserta tes EF, maka saya sedikit skeptis ini bisa menggambarkan kemampuan bahasa Inggris suatu negara karena biasanya peserta tes bahasa Inggris di EF juga belajar bahasa Inggris di EF, jadi secara umum kemampuan bahasa Inggris mereka lebih baik dari rata-rata. 

Sedikit curhat tentang pengalaman saya belajar bahasa Inggris. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Jawa dengan tingkat pendidikan yang lebih baik dibanding wilayah lain di Indonesia, saya menikmati fasilitas pengajaran yang baik. Belajar bahasa Inggris sejak kelas 4 SD, hingga SMP dan SMA. Saya beruntung selalu mendapat guru bahasa Inggris yang baik. Bahkan, menurut saya guru terbaik saya hampir selalu guru bahasa Inggris. Itulah mengapa saya suka bahasa Inggris, karena guru-guru saya membuat saya semangat belajar dan dapat mengajar dengan baik. Kebalikan dari guru matematika saya dan saya kebetulan tidak suka matematika :p. 

Saya sendiri melihat dan merasa bahasa Inggris yang diajarkan di sekolah masih terlalu kaku, berfokus pada grammar, tenses, vocab, dan lain-lain. Kita diajar supaya bisa membaca dan menulis, hingga kaku atau kagok saat berbicara bahasa itu. Jika kita mencoba memakai bahasa Inggris untuk percakapan dengan teman atau kenalan maka kita akan dibilang sok atau dalam bahasa Jawa keminggris. Jika kebetulan di sekolah kita punya peraturan menggunakan bahasa Inggris dalam sehari, paling-paling peraturan itu hanya dipakai di dalam kelas selama beberapa menit sebelum dilupakan. Ketika ujian nasional dan mata pelajaran bahasa Inggris diujikan, saat itu pula para siswa tampak kalang kabut, cemas, gelisah, takut tidak lulus, dll. Harus diakui ujian mata pelajaran Inggris pada ujian nasional merupakan salah satu ujian yang paling ditakuti siswa. Makanya lembaga les-les bahasa Inggris semacam EF, ILP, TBI, dll laris manis di Indonesia. 

Menurut teman-teman saya, masalah utama belajar bahasa Inggris di Indonesia adalah ketakutan kita untuk berbicara, takut salah, tidak ada lawan bicara, dan dicap sok Inggris tadi. Padahal, disadari atau tidak, sudah banyak kata serapan dan kosakata yang diambil dari bahasa Inggris. Penggunaan istilah (khususnya di bidang teknologi) seperti WiFi, wireless, smartphone, 3G, download, upload, streaming, dll sudah menjamur di kalangan anak muda di kota-kota besar Indonesia. Namun sayangnya masih sebatas itu, jika kita disuruh berbicara di depan publik menggunakan bahasa Inggris pasti banyak yang tidak pede, takut, dan minder. Jika menulis di forum-forum internet pun, banyak orang Indonesia yang takut salah tulis. Takut salah. Itu kata kunci belajar bahasa Inggris di Indonesia. Takut salah grammar atau tense. Padahal bahasa Inggris orang native pun atau yang sudah lama tinggal di negara mayoritas berbahasa Inggris belum tentu benar grammar atau tense-nya. Mereka bisa karena mereka terbiasa menggunakan bahasa Inggris sehari-hari.

Ada pandangan bahwa kemampuan bahasa seseorang akan meningkat jika semakin banyak paparan (exposure) bahasa tersebut. Jika ingin bisa berbahasa Inggris, yang harus ditingkatkan adalah paparan kita terhadap bahasa Inggris. Nah, inilah yang masih memprihatinkan di Indonesia. Banyak kata serapan atau kata bahasa asing yang langsung disalin di Indonesia. Terkadang orang tidak tahu tulisan atau pengucapannya yang benar sehingga sering salah tulis dan ejaan. Hanya tahu ketika digunakan dalam percakapan sehari-hari atau di media. Media yang berbahasa Inggris masih jarang, native juga jarang ditemui dan kalaupun ada belum tentu bisa bercakap-cakap entah karena kita sungkan atau tidak mau. Lalu orang tua kita dan tetangga-tetangga juga jarang yang bisa. Teman sendiri yang bisa bahasa Inggris belum tentu mau mengajari. Buku teks atau kamus juga mahal. Pendek kata, selain anak jurusan bahasa Inggris, sekolah internasional atau orang yang belajar menggunakan banyak sumber bahasa Inggris, jarang ada orang yang fasih berbahasa Inggris. Generasi muda di Indonesia masih lumayan, karena mereka mendapat pelajaran bahasa Inggris sejak dini namun bagi generasi diatas usia 40-an tidak mudah untuk mempelajari bahasa Inggris, apalagi dari nol. Inilah kondisi akar rumput di Indonesia dan ini pun dilihat dari kacamata orang Jawa, bukan yang tinggal di Sumatra atau Papua.   

sumber: kaskus.co.id

sumber: forum.indowebster.com
Rumput Tetangga Lebih Hijau
Saya mengakui saya melihat rumput tetangga kita lebih hijau. Dalam kasus ini saya akan ambil contoh Filipina. Negara yang pernah dijajah Spanyol, sehingga sebagian populasinya bisa berbahasa Spanyol dan dijajah AS sehingga hampir semua orang bisa berbahasa Inggris. Indonesia pernah dijajah Spanyol, Portugis, Belanda, dan Jepang, berapa persen populasi kita yang bisa bahasa-bahasa tersebut? Memang tidak banyak, karena konon di abad ke-17 ketika para penjajah Eropa datang, bahasa Melayu adalah lingua franca, bahasa penghubung. Lalu ketika penyelenggaraan Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 (tepat hari ini, 106 tahun yang lalu) kita sepakat menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan dikukuhkan ketika Indonesia merdeka. Bahasa Inggris pun baru menjadi bagian penting dari kurikulum pendidikan di tahun 2000-an. 

Bandingkan dengan Filipina. Sejak kecil, usia TK semua anak sudah mendapat pendidikan bahasa Inggris. Buku-buku, teks, media dan lain sebagainya banyak yang berbahasa Inggris. Dokumen resmi, naskah, forum, rapat-rapat digelar dalam bahasa Inggris. Bahkan ada radio yang bilingual, menggunakan bahasa Tagalog dan Inggris. Mereka juga belajar sastra Inggris sedini mungkin dan dicekoki banyak acara TV dari AS. Bahasa Inggris adalah keseharian mereka dan tidak ada pilihan lain selain belajar dengan benar. Di negara yang katanya 27,8% penduduknya tidak mengikuti atau tidak lulus sekolah dasar, hampir semua orang bisa bahasa Inggris. Plang dan papan di jalan-jalan juga menggunakan bahasa Inggris yang bagus. 

sumber: imageshack
Kata teman saya orang Filipina, secara umum penduduk Filipina bisa berbahasa Inggris dan bisa mengerti apa yang kita katakan sekalipun mungkin dengan bahasa Inggris yang terbatas. Namun banyak juga Grammar Nazi yang siap mengejek jika kita salah atau tidak bisa berbahasa Inggris. Sebenarnya mereka juga tidak selalu berbicara dalam bahasa Inggrus, namun mereka sering menyisipkan kata-kata bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Ada juga kecenderungan semakin banyak orang yang dituntut bisa berbahasa Inggris karena semakin banyak tenaga call center outsourcing di Filipina, orang-orang yang menjawab telepon perusahaan-perusahaan yang berada di Inggris atau AS. Selain itu, universitas top disana mengajarkan mata kuliah mereka dalam bahasa Inggris sehingga Filipina menjadi salah satu negara tujuan untuk mendapat gelar Master atau Doktor. Biayanya juga lebih murah dibanding negara-negara Inggris, AS atau Australia.

Campur-campur. sumber: happysammy.org
Sistem pengajaran dan keseharian mereka, membuat orang Filipina terbiasa menggunakan bahasa Inggris dan akhirnya cukup menguasai bahasa tersebut. Maka, jika nanti AEC 2015 berjalan dan kita harus berebut pekerjaan dengan orang Filipina yang kemampuannya hampir sama dengan kita, jangan heran jika orang Filipina yang lebih dipilih karena mungkin bahasa Inggris mereka lebih bagus daripada kita. Oleh karena itu, menurut saya, karena bahasa Inggris itu menjadi suatu kebutuhan sekarang, sudah selayaknya kita belajar bahasa Inggris yang baik. Namun, sistem pengajaran harus sedikit diubah agar lebih fleksibel. Akan lebih baik jika belajar bahasa Inggris (atau bahasa lainnya) dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, tidak perlu ada tuntutan, tidak perlu tes yang memberatkan, dan membuat setiap orang nyaman.  

Catatan: ketakutan lain dalam berbahasa Inggris adalah dicap tidak nasionalis dan terlalu kebarat-baratan. Sebenarnya tidak ada hubungannya antara belajar bahasa asing dengan melupakan budaya sendiri. Jika benar adanya, maka diplomat-diplomat kita di luar negeri juga pasti tidak nasionalis. Jika memang ingin mempelajari dan mempertahankan budaya, kita bisa meluangkan waktu untuk itu sama dengan kita meluangkan waktu untuk belajar hal lain. Justru dengan kemampuan bahasa Inggris kita bisa mengetahui bagaimana orang asing menilai kita dan malah bisa mempromosikan budaya Indonesia ke dunia internasional.

2 komentar:

  1. Please calm your tilts asshole. For be a person who is addict for kdrama should stafu, you are bringing down idols and is not like k-actors are even better. Watch real movies with real actors then and not from Korea.

    BalasHapus
  2. @Anonim what's the correlation between addicted to Korean dramas and my opinion on English languange in Indonesia? I'm sorry, you're entitled to have your own opinion and as the owner of this bog, I'm also entitled to have and share my own opinion.

    BalasHapus