Jumat, 24 Juni 2011

To Be or Not To Be A Debater: A Matter of Psychological Complex plus Time (Part2)


Pembaca sekalian, di part 1 saya telah membahas latar belakang dan awal debating life saya. Kali ini saya akan lebih meng-elaborate debating life saya selama tahun-tahun kedua, ketiga di SMA, lulus SMA dan kuliah. Di tahun 2008, pencapaian terbaik kami adalah lolos ke babak 8 besar atau Octo Final BET 2008. Kami juga sempat mengikuti turnamen-turnamen yang lebih kecil dari BET dengan hasil yang tidak terlalu bagus. Just info, BET (Brawijaya English Tournament) adalah turnamen Bahasa Inggris tahunan, khususnya Story telling dan debate se-Jawa Timur dan Bali. Lomba ini diselenggarakan FORMASI (Forum Mahasiswa Studi Bahasa Inggris) Universitas Brawijaya. Sejak keikutsertaan di BET, saya ingin sekali masuk FORMASI nanti waktu kuliah karena pada waktu itu saya melihat panitia yang begitu keren, begitu hebat mengorganisir acara sebesar itu. Niat ini benar-benar tercapai dan ketika saya kuliah di UB dan sekarang saya pun masuk FORMASI (sedikit promosi).



Satu hal yang pasti, kami terus berlatih dan berlatih. Perubahan kami tidak signifikan, tetapi bertahap, dan perubahan itu lamaaa sekali hingga Regi sering sekali memarahi kami karena kebodohan kami. Hukuman favoritnya adalah melempar potongan-potongan kapur setiap kali speech kami jelek. No offense, Reg, but I still remember those days, hahhaha. Kadang saya merasa sangat jenuh dengan debate dan merasa tidak ada perubahan sama sekali. Tapi debate ini sesungguhnya adalah pelarian saya dari segenap masalah pribadi saya di sekolah. Setidak-tidaknya dengan berdebat, saya bisa melupakan masalah saya sejenak dan fokus pada masalah-masalah besar dunia seperti human rights, global warming, government policy, etc.

Tahun 2009, kami mengikuti BET lagi dengan hasil sama (lagi) yakni Octo Finalist saja. Perjalanan kami di BET 2009 dimulai dengan tes tertulis lagi dan kami lolos ke babak 32 besar atau babak presentasi dengan peringkat yang jauh lebih baik dibanding tahun 2008. Lalu kami presentasi, lolos 16 besar dan fase debate pun dimulai dengan sistem knockout atau one-round. Kami sukses menang atas lawan yang, yah, memang kualitasnya masih dibawah kami. Tapi Regi tetap mengkritik kami karena kami gagal menang dengan margin besar. Di babak 8 besar, kami bertemu tim dari Sidoarjo (kalau tidak salah) dengan motion tentang Lumpur Lapindo (I forgot what exactly the motion says). Hasilnya… kami mendapat hadiah caci maki dari coach tercinta (sekaligus paling menyebalkan), Mr. Regi Hasibuan. Tak tanggung-tanggung Regi memarahi kami di saat kami seharusnya memakan jatah makan siang kami, dan di depan tim lawan, coach, LO dan semua orang yang ada di koridor, bahkan saat kami belum mendengarkan verbal assessment dari para adjudicator. Yah, walaupun akhirnya kami kalah karena kebodohan (dan kegoblokan) yang telah diutarakan Regi tadi.

Turnamen terakhir saya selama di SMA berlangsung pada akhir 2009 (atau awal 2010? Saya lupa). Yang jelas, lomba itu diselenggarakan oleh AKPER Lawang yang dekat jaraknya dengan SMA saya. Tim saya masih tetap beranggotakan saya, Jeny dan Nani. Bukan karena tim kami adalah tim terbaik melainkan karena tidak ada lagi tim debate yang mau meneruskan perjuangan senior kami. Namun waktu lomba di Lawang itu, SMA kami mengirimkan 2 tim, tim saya dan 1 tim lagi yang dadakan dibentuk dan mereka belum ada pengalaman debate sama sekali. Hasilnya, tim kami lolos preliminary namun gagal masuk semifinal karena hanya bertengger di peringkat lima just because of margins and VP. Di turnamen ini lagi-lagi saya bertemu dengan tim dari SMA 5, yaitu Kak Luthfi dengan team-mate Kak Punjung dan mereka sukses juara (lagi). Disini saya juga bertemu Sunariyah alias Sunsun asal SMAN 1 Kepanjen.

Sayangnya, regenerasi tidak berjalan mulus di sekolah saya karena pergantian pelatih dan pergantian kebijakan kepala sekolah (memperhalus rasa dongkol dan jengkel terhadap kepsek). Sekedar info, selama saya bersekolah di Smanela, tim saya ditangani oleh 7 pelatih berbeda dari Mas Ary, Regi, Mas Wira, Kian, Nila, Pak Arief, hingga Mam Ive. Setelah generasi saya, sayangnya adik kelas saya belum bisa berprestasi atau sekedar mengikuti jejak pendahulunya karena masalah dana dan keengganan kepala sekolah mengijinkan murid-muridnya berprestasi di luar sekolah (kepsek yang takut dananya nggak kembali dan muridnya jadi terlalu pandai di luar sekolah atau kepsek yang takut didebat oleh muridnya sendiri?!).

Setelah masuk kuliah, organisasi pertama saya adalah Formasi dan saya pun bercita-cita jadi kapel BET suatu hari nanti… (*makanya latihan dong, sering-sering ke Formasi*) Tapi saya menghadapi kendala waktu. Ya, saya mengalokasikan begitu banyak waktu untuk begitu banyak kegiatan. And I particularly still can’t settled in Formasi. Saya mengikuti terlalu banyak oraganisasi dan punya terlalu banyak tanggung jawab yang tidak mungkin diabaikan. Bahkan saya terpaksa tidak ikut menjadi panitia BET tahun ini karena tanggung jawab saya sebagai Ketua Kel.Besar 6 Pengmas FISIP. It’s rather complex and hard to fight against the time-killer and stress.

Alhasil selama di Formasi saya hanya sempat ikut menjadi observer selama turnamen open debate di ITS dan SODE di SMAN 2 Surabaya awal Juni lalu sebagai trainee adjudicator. Namun turnamen itu telah membuka horizon saya dan saya kembali memiliki motivasi dan passion debate. Apalagi setelah bertemu debater dan adjudicator dari UGM, UI, ITB, Unpad, dll. Saya harus segera memilih: to be or not to be a debater. Jika jawabannya Ya, saya harus segera berlatih keras untuk mendapat tempat di Formasi. Saya tahu, tidak mudah untuk membagi waktu ditengah kesibukan saya. Tetapi saya harus berkomitmen. Semua debater tahu, jika mereka ingin menjadi a good one, mereka harus berlatih. Latihan, itulah yang saya perlukan. Dorongan dan dukungan, itulah yang saya harapkan dari orang-orang terdekat saya, teman-teman terbaik saya. Do’akan saya mampu terus berkomitmen dan menikmati debating life. Here, at 4mc UB..
Here I am, still learn and wanna promise to you, I’ll improve and get the best out of me to be a good debater….

1 komentar:

  1. After analyzing your article you have to recognize what I surely have written here apple cider vinegar fruit flies . This one is being written after you have a proposal from you.

    BalasHapus

Jumat, 24 Juni 2011

To Be or Not To Be A Debater: A Matter of Psychological Complex plus Time (Part2)


Pembaca sekalian, di part 1 saya telah membahas latar belakang dan awal debating life saya. Kali ini saya akan lebih meng-elaborate debating life saya selama tahun-tahun kedua, ketiga di SMA, lulus SMA dan kuliah. Di tahun 2008, pencapaian terbaik kami adalah lolos ke babak 8 besar atau Octo Final BET 2008. Kami juga sempat mengikuti turnamen-turnamen yang lebih kecil dari BET dengan hasil yang tidak terlalu bagus. Just info, BET (Brawijaya English Tournament) adalah turnamen Bahasa Inggris tahunan, khususnya Story telling dan debate se-Jawa Timur dan Bali. Lomba ini diselenggarakan FORMASI (Forum Mahasiswa Studi Bahasa Inggris) Universitas Brawijaya. Sejak keikutsertaan di BET, saya ingin sekali masuk FORMASI nanti waktu kuliah karena pada waktu itu saya melihat panitia yang begitu keren, begitu hebat mengorganisir acara sebesar itu. Niat ini benar-benar tercapai dan ketika saya kuliah di UB dan sekarang saya pun masuk FORMASI (sedikit promosi).



Satu hal yang pasti, kami terus berlatih dan berlatih. Perubahan kami tidak signifikan, tetapi bertahap, dan perubahan itu lamaaa sekali hingga Regi sering sekali memarahi kami karena kebodohan kami. Hukuman favoritnya adalah melempar potongan-potongan kapur setiap kali speech kami jelek. No offense, Reg, but I still remember those days, hahhaha. Kadang saya merasa sangat jenuh dengan debate dan merasa tidak ada perubahan sama sekali. Tapi debate ini sesungguhnya adalah pelarian saya dari segenap masalah pribadi saya di sekolah. Setidak-tidaknya dengan berdebat, saya bisa melupakan masalah saya sejenak dan fokus pada masalah-masalah besar dunia seperti human rights, global warming, government policy, etc.

Tahun 2009, kami mengikuti BET lagi dengan hasil sama (lagi) yakni Octo Finalist saja. Perjalanan kami di BET 2009 dimulai dengan tes tertulis lagi dan kami lolos ke babak 32 besar atau babak presentasi dengan peringkat yang jauh lebih baik dibanding tahun 2008. Lalu kami presentasi, lolos 16 besar dan fase debate pun dimulai dengan sistem knockout atau one-round. Kami sukses menang atas lawan yang, yah, memang kualitasnya masih dibawah kami. Tapi Regi tetap mengkritik kami karena kami gagal menang dengan margin besar. Di babak 8 besar, kami bertemu tim dari Sidoarjo (kalau tidak salah) dengan motion tentang Lumpur Lapindo (I forgot what exactly the motion says). Hasilnya… kami mendapat hadiah caci maki dari coach tercinta (sekaligus paling menyebalkan), Mr. Regi Hasibuan. Tak tanggung-tanggung Regi memarahi kami di saat kami seharusnya memakan jatah makan siang kami, dan di depan tim lawan, coach, LO dan semua orang yang ada di koridor, bahkan saat kami belum mendengarkan verbal assessment dari para adjudicator. Yah, walaupun akhirnya kami kalah karena kebodohan (dan kegoblokan) yang telah diutarakan Regi tadi.

Turnamen terakhir saya selama di SMA berlangsung pada akhir 2009 (atau awal 2010? Saya lupa). Yang jelas, lomba itu diselenggarakan oleh AKPER Lawang yang dekat jaraknya dengan SMA saya. Tim saya masih tetap beranggotakan saya, Jeny dan Nani. Bukan karena tim kami adalah tim terbaik melainkan karena tidak ada lagi tim debate yang mau meneruskan perjuangan senior kami. Namun waktu lomba di Lawang itu, SMA kami mengirimkan 2 tim, tim saya dan 1 tim lagi yang dadakan dibentuk dan mereka belum ada pengalaman debate sama sekali. Hasilnya, tim kami lolos preliminary namun gagal masuk semifinal karena hanya bertengger di peringkat lima just because of margins and VP. Di turnamen ini lagi-lagi saya bertemu dengan tim dari SMA 5, yaitu Kak Luthfi dengan team-mate Kak Punjung dan mereka sukses juara (lagi). Disini saya juga bertemu Sunariyah alias Sunsun asal SMAN 1 Kepanjen.

Sayangnya, regenerasi tidak berjalan mulus di sekolah saya karena pergantian pelatih dan pergantian kebijakan kepala sekolah (memperhalus rasa dongkol dan jengkel terhadap kepsek). Sekedar info, selama saya bersekolah di Smanela, tim saya ditangani oleh 7 pelatih berbeda dari Mas Ary, Regi, Mas Wira, Kian, Nila, Pak Arief, hingga Mam Ive. Setelah generasi saya, sayangnya adik kelas saya belum bisa berprestasi atau sekedar mengikuti jejak pendahulunya karena masalah dana dan keengganan kepala sekolah mengijinkan murid-muridnya berprestasi di luar sekolah (kepsek yang takut dananya nggak kembali dan muridnya jadi terlalu pandai di luar sekolah atau kepsek yang takut didebat oleh muridnya sendiri?!).

Setelah masuk kuliah, organisasi pertama saya adalah Formasi dan saya pun bercita-cita jadi kapel BET suatu hari nanti… (*makanya latihan dong, sering-sering ke Formasi*) Tapi saya menghadapi kendala waktu. Ya, saya mengalokasikan begitu banyak waktu untuk begitu banyak kegiatan. And I particularly still can’t settled in Formasi. Saya mengikuti terlalu banyak oraganisasi dan punya terlalu banyak tanggung jawab yang tidak mungkin diabaikan. Bahkan saya terpaksa tidak ikut menjadi panitia BET tahun ini karena tanggung jawab saya sebagai Ketua Kel.Besar 6 Pengmas FISIP. It’s rather complex and hard to fight against the time-killer and stress.

Alhasil selama di Formasi saya hanya sempat ikut menjadi observer selama turnamen open debate di ITS dan SODE di SMAN 2 Surabaya awal Juni lalu sebagai trainee adjudicator. Namun turnamen itu telah membuka horizon saya dan saya kembali memiliki motivasi dan passion debate. Apalagi setelah bertemu debater dan adjudicator dari UGM, UI, ITB, Unpad, dll. Saya harus segera memilih: to be or not to be a debater. Jika jawabannya Ya, saya harus segera berlatih keras untuk mendapat tempat di Formasi. Saya tahu, tidak mudah untuk membagi waktu ditengah kesibukan saya. Tetapi saya harus berkomitmen. Semua debater tahu, jika mereka ingin menjadi a good one, mereka harus berlatih. Latihan, itulah yang saya perlukan. Dorongan dan dukungan, itulah yang saya harapkan dari orang-orang terdekat saya, teman-teman terbaik saya. Do’akan saya mampu terus berkomitmen dan menikmati debating life. Here, at 4mc UB..
Here I am, still learn and wanna promise to you, I’ll improve and get the best out of me to be a good debater….

1 komentar:

  1. After analyzing your article you have to recognize what I surely have written here apple cider vinegar fruit flies . This one is being written after you have a proposal from you.

    BalasHapus