Sabtu, 11 April 2015

Candi Cetho, Pesona Magis Candi Hindu dari Karanganyar

Magis dan mistis, mungkin itulah yang saya rasakan ketika menjejakkan kaki untuk pertama kali di sebuah sebuah candi yang selalu berselimut kabut. Candi yang terletak di lereng gunung itu bernama Candi Cetho. Cetho artinya jelas dalam bahasa Jawa. Saat saya disana, makna jelas yang saya pahami disini adalah karena candi ini berada di lereng gunung dan pemandangan ke kota-kota dan rumah-rumah penduduk di bawahnya menjadi jelas, sangat jelas dan sangat indah.

Sejujurnya tak banyak kesempatan bagi saya untuk berjalan-jalan, apalagi berjalan-jalan ke provinsi Jawa Tengah. Berkat salah satu teman saya yang tinggal di Solo, saya pun berniat menghabiskan liburan akhir tahun ke Solo bersama keempat teman saya yang lain. Supaya liburan kami sedikit berbeda kali ini, kami berlima memilih berjalan-jalan ke Kabupaten Karanganyar dan berwisata ke Candi Cetho.
Jawa Tengah, provinsi yang juga dikenal sebagai Provinsi 1000 Candi ini punya banyak sekali situs-situs bersejarah yang bercorak Hindu maupun Buddha. Sejumlah candi terkenal terletak di provinsi ini seperti Candi Borobodur yang pastinya sudah tak asing lagi bagi siapapun, Candi Gedong Songo, Candi Dieng, Candi Sukuh, dan lain-lain. Namun, ternyata masih banyak lagi candi-candi lain di provinsi Jateng yang tak kalah cantik. Salah satunya, Candi Cetho.

Candi Cetho berlokasi Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasinya tak begitu jauh dari pusat Kota Solo, sekitar 2,5 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi. Bisa juga ditempuh dengan bis umum yang menuju Candi Cetho. Dari Solo, ambil arah ke Karanganyar dan masuk ke Kabupaten Karanganyar. Awalnya perjalanan hanya melalui jalan-jalan di tengah kota yang beraspal mulus, namun begitu memasuki wilayah Kabupaten Karanganyar siap-siap menikmati perjalanan bak roller-coaster. Setelah melewati Kota Karanganyar, jalan yang ditempuh menjadi berliku-liku, menanjak dan terjal. Jalannya mirip dengan jalan ke tempat-tempat wisata di lereng gunung seperti di Lembang, Bandung dan Batu, Jawa Timur. Penumpang yang tidak biasa melewati daerah ini bisa jadi akan pusing dan mabuk darat.

Namun, pemandangan yang didapat juga setimpal, di kiri dan kanan jalan terdapat hamparan berbagai macam tanaman dan perkebunan. Hamparan perkebunan teh yang begitu luas juga menyapa kami dan semakin mengingatkan saya pada tempat tinggal saya di Malang yang juga punya areal perkebunan teh. Jalannya cukup mulus, namun setiap pengendara tetap harus berhati-hati jika tidak ingin tergelincir, terutama di saat hujan. Kadang terlihat juga penduduk lokal atau ibu-ibu pemetik teh yang memakai caping dan menggendong keranjang. Di kejauhan terlihat Gunung Lawu yang berdiri gagah seakan menjaga wilayah ini dari bahaya.

Kami pun akhirnya sampai di Candi Cetho setelah menempuh jalan yang berliku-liku namun indah itu. Hawa dingin menusuk kulit langsung menyambut kami begitu keluar dari mobil. Suhu udaranya jelas di bawah 20 derajat Celsius dan kompleks candi tertutup kabut yang cukup tebal. Dari bangunannya saja, orang bisa mengira candi ini adalah candi Hindu. Jawa Tengah sendiri pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Hindu, seperti Kerajaan Mataram Kuno. Kompleks candi berada beberapa meter dari lahan parkir, namun kami harus mendaki jalan yang cukup menanjak dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Sebelum memasuki kompleks, pengunjung cukup membayar Rp 3.500 sebagai tiket masuk. Selain itu, setiap pengunjung juga mendapat sarung bermotif kotak-kotak khas Bali yang bisa dipakai selama berada di kompleks candi. Teman-teman saya pun sangat senang memakai sarung kotak-kotak ini. Sebelum masuk, kami berfoto-foto dulu tepat di tangga depan pintu masuk candi. Candi ini memiliki pola halaman berteras dengan susunan 13 teras meninggi ke arah puncak. Bentuk bangunan berteras seperti punden berundak dari zaman prasejarah.
Dari kejauhan, Candi Cetho terlihat indah dengan kaki-kakinya seakan menancap di kaki langit. Di area depan kompleks candi, ada taman-taman di sepanjang jalan sebelum mencapai candi. Ada juga arca-arca di tengah kompleks candi, seperti arca kura-kura, katak, dan lingga (alat kelamin laki-laki sebagai simbol penciptaan manusia). Setelah itu, pengunjung harus menaiki beberapa anak tangga lagi yang diapit gapura dan pendapa-pendapa dari batu dan beratap kayu untuk upacara keagamaan Hindu. Di kompleks candi juga terdapat bangunan-bangunan dari kayu dan arca-arca yang berada di dalam rumah kayu. Candi Cetho sendiri berada di level teratas dari kompleks candi. Candi ini memiliki ukuran panjang 190m lebar 30m dan berada di ketinggian 1496 m dari pemukaan air laut. Bau dupa menyengat di tempat ini dan beberapa orang tampak khidmat memanjatkan doa atau melakukan pradaksina atau ritual mengelilingi candi.
Bangunannya bercorak Hindu, namun masih sederhana dan tidak dipenuhi relief-relief kuno. Namun ada beberapa arca disini, seperti arca kera dan arca Aryobimo (Raja Brawijaya V). Uniknya meskipun sederhana, candi ini tetap menarik bagi saya dan tentu saja juga menarik bagi orang-orang yang silih berganti berdatangan, walaupun tentu tak sebanyak wisatawan ke kompleks wisata Candi Borobudur atau Prambanan. Tak hanya wisatawan lokal, namun beberapa wisatawan asing juga mengunjungi kompleks candi ini.

Masa pendirian Candi Cetho diperkirakan abad ke-15, ini didasarkan dari adanya tulisan angka tahun yang terpahat pada gapura teras ketujuh yang berbunyi aksara Jawa Kuna berbahasa Jawa Kuna berbunyi pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397 yang berarti 1397 saka atau 1476 masehi. Diperkirakan candi ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit. Fungsi utama candi ini diperkirakan digunakan untuk ruwatan (mengusir roh jahat), bukan sebagai tempat pemujaan dewa-dewa atau menyimpan abu raja (wikipedia).
Selain Candi Cetho, di sekitar kompleks candi ini juga ada Candi Kethek (candi monyet) dan Puri Taman Saraswati. Saya dan teman-teman memilih pergi ke Puri Taman Saraswati. Lokasinya hanya berjarak sekitar 5 menit berjalan kaki. Di Puri Taman Saraswati, pengunjung hanya cukup membayar 2.500 rupiah sebagai tiket masuk. Setiap pengunjung harus melepas alas kaki di areal kompleks, kaki pun merasakan dinginnya lantai batu sekalipun hari sudah siang. Pengunjung dapat pergi ke sendang atau telaga kecil yang digunakan untuk mencuci muka. Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk merasakan dinginnya air yang segar dan jernih.

Di tengah puri, ada Patung Dewi Saraswati yang terletak diatas sebuah kolam. Kesan cantik dan elegan terpancar dari patung itu. Patung Dewi Saraswati berdiri di atas bunga teratai dan diapit dua ekor angsa di atas kolam. Puri Taman Saraswati juga tampak sederhana dengan hanya sebuah patung di atas kolam, namun tempat yang sepi dan jauh dari keramaian ini bisa membawa kedamaian bagi para pengunjungnya dan memikat hati setiap wisatawan.

Setelah puas berada di kompleks candi, kami pun kembali ke mobil dan menempuh perjalanan pulang. Namun mata saya tak bisa lepas dari memandangi pemandangan di kaki gunung yang benar-benar indah. Rumah-rumah penduduk diselingi dengan perkebunan dan hamparan sawah, sepeda motor dan mobil sesekali mengusir kesepian di wilayah ini dan membuat hiruk pikuk kehidupan warga semakin hidup. Sebagai seseorang yang juga tinggal di dataran tinggi, berada di Dusun Cetho ini membawa nostalgia tersendiri bagi saya. Daerah ini begitu jauh dari rumah saya, namun begitu mirip satu sama lain, bahkan hawa dinginnya yang menusuk tulang pun mirip.
Dalam perjalanan pulang melewati jalan yang sama berlikunya, namun sekarang melandai, kami melewati pemandangan yang begitu menyegarkan mata. Kami akhirnya berhenti di satu titik areal perkebunan teh dan mengabadikan momen disini. Pemandangannya terlalu indah untuk dilewatkan dan perkebunan teh ini membuat kami serasa berada di film “Petualangan Sherina”. Di seberang jalan, berseberangan dengan kebun teh, kita bisa melihat rumah-rumah penduduk yang tampak kerdil di bawahnya. Terlihat pula air terjun dan perbukitan nan indah. Tak hanya itu, kembali dari Candi Cetho, orang bisa melihat pemandangan jejeran gunung di tanah Jawa seperti Gunung Merapi, Merbabu, Lawu, Sindoro dan Sumbing. Benar-benar pemandangan yang menakjubkan! Bagi saya, perjalanan ke tempat ini tak akan terlupakan, pesona Candi Cetho yang magis seakan mampu menyihir saya untuk kembali ke tempat ini.
 


Foto: dokumentasi pribadi

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog: Visit Jawa Tengah 2015 Periode 2 “Cagar Budaya Jawa Tengah”


1 komentar:

  1. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    BalasHapus

Sabtu, 11 April 2015

Candi Cetho, Pesona Magis Candi Hindu dari Karanganyar

Magis dan mistis, mungkin itulah yang saya rasakan ketika menjejakkan kaki untuk pertama kali di sebuah sebuah candi yang selalu berselimut kabut. Candi yang terletak di lereng gunung itu bernama Candi Cetho. Cetho artinya jelas dalam bahasa Jawa. Saat saya disana, makna jelas yang saya pahami disini adalah karena candi ini berada di lereng gunung dan pemandangan ke kota-kota dan rumah-rumah penduduk di bawahnya menjadi jelas, sangat jelas dan sangat indah.

Sejujurnya tak banyak kesempatan bagi saya untuk berjalan-jalan, apalagi berjalan-jalan ke provinsi Jawa Tengah. Berkat salah satu teman saya yang tinggal di Solo, saya pun berniat menghabiskan liburan akhir tahun ke Solo bersama keempat teman saya yang lain. Supaya liburan kami sedikit berbeda kali ini, kami berlima memilih berjalan-jalan ke Kabupaten Karanganyar dan berwisata ke Candi Cetho.
Jawa Tengah, provinsi yang juga dikenal sebagai Provinsi 1000 Candi ini punya banyak sekali situs-situs bersejarah yang bercorak Hindu maupun Buddha. Sejumlah candi terkenal terletak di provinsi ini seperti Candi Borobodur yang pastinya sudah tak asing lagi bagi siapapun, Candi Gedong Songo, Candi Dieng, Candi Sukuh, dan lain-lain. Namun, ternyata masih banyak lagi candi-candi lain di provinsi Jateng yang tak kalah cantik. Salah satunya, Candi Cetho.

Candi Cetho berlokasi Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasinya tak begitu jauh dari pusat Kota Solo, sekitar 2,5 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi. Bisa juga ditempuh dengan bis umum yang menuju Candi Cetho. Dari Solo, ambil arah ke Karanganyar dan masuk ke Kabupaten Karanganyar. Awalnya perjalanan hanya melalui jalan-jalan di tengah kota yang beraspal mulus, namun begitu memasuki wilayah Kabupaten Karanganyar siap-siap menikmati perjalanan bak roller-coaster. Setelah melewati Kota Karanganyar, jalan yang ditempuh menjadi berliku-liku, menanjak dan terjal. Jalannya mirip dengan jalan ke tempat-tempat wisata di lereng gunung seperti di Lembang, Bandung dan Batu, Jawa Timur. Penumpang yang tidak biasa melewati daerah ini bisa jadi akan pusing dan mabuk darat.

Namun, pemandangan yang didapat juga setimpal, di kiri dan kanan jalan terdapat hamparan berbagai macam tanaman dan perkebunan. Hamparan perkebunan teh yang begitu luas juga menyapa kami dan semakin mengingatkan saya pada tempat tinggal saya di Malang yang juga punya areal perkebunan teh. Jalannya cukup mulus, namun setiap pengendara tetap harus berhati-hati jika tidak ingin tergelincir, terutama di saat hujan. Kadang terlihat juga penduduk lokal atau ibu-ibu pemetik teh yang memakai caping dan menggendong keranjang. Di kejauhan terlihat Gunung Lawu yang berdiri gagah seakan menjaga wilayah ini dari bahaya.

Kami pun akhirnya sampai di Candi Cetho setelah menempuh jalan yang berliku-liku namun indah itu. Hawa dingin menusuk kulit langsung menyambut kami begitu keluar dari mobil. Suhu udaranya jelas di bawah 20 derajat Celsius dan kompleks candi tertutup kabut yang cukup tebal. Dari bangunannya saja, orang bisa mengira candi ini adalah candi Hindu. Jawa Tengah sendiri pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Hindu, seperti Kerajaan Mataram Kuno. Kompleks candi berada beberapa meter dari lahan parkir, namun kami harus mendaki jalan yang cukup menanjak dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Sebelum memasuki kompleks, pengunjung cukup membayar Rp 3.500 sebagai tiket masuk. Selain itu, setiap pengunjung juga mendapat sarung bermotif kotak-kotak khas Bali yang bisa dipakai selama berada di kompleks candi. Teman-teman saya pun sangat senang memakai sarung kotak-kotak ini. Sebelum masuk, kami berfoto-foto dulu tepat di tangga depan pintu masuk candi. Candi ini memiliki pola halaman berteras dengan susunan 13 teras meninggi ke arah puncak. Bentuk bangunan berteras seperti punden berundak dari zaman prasejarah.
Dari kejauhan, Candi Cetho terlihat indah dengan kaki-kakinya seakan menancap di kaki langit. Di area depan kompleks candi, ada taman-taman di sepanjang jalan sebelum mencapai candi. Ada juga arca-arca di tengah kompleks candi, seperti arca kura-kura, katak, dan lingga (alat kelamin laki-laki sebagai simbol penciptaan manusia). Setelah itu, pengunjung harus menaiki beberapa anak tangga lagi yang diapit gapura dan pendapa-pendapa dari batu dan beratap kayu untuk upacara keagamaan Hindu. Di kompleks candi juga terdapat bangunan-bangunan dari kayu dan arca-arca yang berada di dalam rumah kayu. Candi Cetho sendiri berada di level teratas dari kompleks candi. Candi ini memiliki ukuran panjang 190m lebar 30m dan berada di ketinggian 1496 m dari pemukaan air laut. Bau dupa menyengat di tempat ini dan beberapa orang tampak khidmat memanjatkan doa atau melakukan pradaksina atau ritual mengelilingi candi.
Bangunannya bercorak Hindu, namun masih sederhana dan tidak dipenuhi relief-relief kuno. Namun ada beberapa arca disini, seperti arca kera dan arca Aryobimo (Raja Brawijaya V). Uniknya meskipun sederhana, candi ini tetap menarik bagi saya dan tentu saja juga menarik bagi orang-orang yang silih berganti berdatangan, walaupun tentu tak sebanyak wisatawan ke kompleks wisata Candi Borobudur atau Prambanan. Tak hanya wisatawan lokal, namun beberapa wisatawan asing juga mengunjungi kompleks candi ini.

Masa pendirian Candi Cetho diperkirakan abad ke-15, ini didasarkan dari adanya tulisan angka tahun yang terpahat pada gapura teras ketujuh yang berbunyi aksara Jawa Kuna berbahasa Jawa Kuna berbunyi pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397 yang berarti 1397 saka atau 1476 masehi. Diperkirakan candi ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit. Fungsi utama candi ini diperkirakan digunakan untuk ruwatan (mengusir roh jahat), bukan sebagai tempat pemujaan dewa-dewa atau menyimpan abu raja (wikipedia).
Selain Candi Cetho, di sekitar kompleks candi ini juga ada Candi Kethek (candi monyet) dan Puri Taman Saraswati. Saya dan teman-teman memilih pergi ke Puri Taman Saraswati. Lokasinya hanya berjarak sekitar 5 menit berjalan kaki. Di Puri Taman Saraswati, pengunjung hanya cukup membayar 2.500 rupiah sebagai tiket masuk. Setiap pengunjung harus melepas alas kaki di areal kompleks, kaki pun merasakan dinginnya lantai batu sekalipun hari sudah siang. Pengunjung dapat pergi ke sendang atau telaga kecil yang digunakan untuk mencuci muka. Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk merasakan dinginnya air yang segar dan jernih.

Di tengah puri, ada Patung Dewi Saraswati yang terletak diatas sebuah kolam. Kesan cantik dan elegan terpancar dari patung itu. Patung Dewi Saraswati berdiri di atas bunga teratai dan diapit dua ekor angsa di atas kolam. Puri Taman Saraswati juga tampak sederhana dengan hanya sebuah patung di atas kolam, namun tempat yang sepi dan jauh dari keramaian ini bisa membawa kedamaian bagi para pengunjungnya dan memikat hati setiap wisatawan.

Setelah puas berada di kompleks candi, kami pun kembali ke mobil dan menempuh perjalanan pulang. Namun mata saya tak bisa lepas dari memandangi pemandangan di kaki gunung yang benar-benar indah. Rumah-rumah penduduk diselingi dengan perkebunan dan hamparan sawah, sepeda motor dan mobil sesekali mengusir kesepian di wilayah ini dan membuat hiruk pikuk kehidupan warga semakin hidup. Sebagai seseorang yang juga tinggal di dataran tinggi, berada di Dusun Cetho ini membawa nostalgia tersendiri bagi saya. Daerah ini begitu jauh dari rumah saya, namun begitu mirip satu sama lain, bahkan hawa dinginnya yang menusuk tulang pun mirip.
Dalam perjalanan pulang melewati jalan yang sama berlikunya, namun sekarang melandai, kami melewati pemandangan yang begitu menyegarkan mata. Kami akhirnya berhenti di satu titik areal perkebunan teh dan mengabadikan momen disini. Pemandangannya terlalu indah untuk dilewatkan dan perkebunan teh ini membuat kami serasa berada di film “Petualangan Sherina”. Di seberang jalan, berseberangan dengan kebun teh, kita bisa melihat rumah-rumah penduduk yang tampak kerdil di bawahnya. Terlihat pula air terjun dan perbukitan nan indah. Tak hanya itu, kembali dari Candi Cetho, orang bisa melihat pemandangan jejeran gunung di tanah Jawa seperti Gunung Merapi, Merbabu, Lawu, Sindoro dan Sumbing. Benar-benar pemandangan yang menakjubkan! Bagi saya, perjalanan ke tempat ini tak akan terlupakan, pesona Candi Cetho yang magis seakan mampu menyihir saya untuk kembali ke tempat ini.
 


Foto: dokumentasi pribadi

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog: Visit Jawa Tengah 2015 Periode 2 “Cagar Budaya Jawa Tengah”


1 komentar:

  1. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    BalasHapus