Kawan-kawanku, sebangsa
dan setanah air, 2 bulan sebelum hari ulang tahun negara kita izinkanlah aku
membuka beberapa lembaran lama sejarah kita dan izinkan aku pula
menuliskan lembaran baru negara kita, Indonesia. Rasakan pula keresahan
dan kegelisahanku yang tak kunjung usai menyaksikan nasib bangsa.
Renungkanlah, Kawan, seberapa banyak yang kita ketahui dari negara kita
sendiri? Seberapa dekat kita menegenalnya?Perlukah kita mempedulikan
negara ini lagi? Negeri yang seakan telah melupakan rakyatnya karena
disibukkan urusan pejabatnya.
Kawan-kawanku, 400 tahun yang lalu sebuah bangsa berambut jagung mengirimkan ekspedisi untuk mencari rempah-rempah hingga ke daerah-daerah baru termasuk Nusantara. Sebelumnya, dua bangsa serumpun, Spanyol dan Portugis lebih dulu menancapkan kukunya di Maluku dan Filipina. Tetangga kedua bangsa itu, yaitu Belanda tertarik datang kemari dan mulai menjajah bangsa kita. Sayangnya para penjajah itu sangat keterlaluan, mereka malah menginjak-injak harga diri bangsa kita dan mengadu domba para penguasa kerajaan.
Kawanku, masihkah kalian ingat wajah Van den Bosch yang tampan nan rupawan itu? Dibalik ketampanannya, ia tega menerapkan tanam paksa atau "cultuur stelsel" demi mengisi kas keuanganNegeri belanda. Teori bahwa "orang tampan tak selalu sopan dan dermawan" terbukti! Lalu ingatkah kalian pada Sir Thomas Stanford Raffles? Memang benar ia berjasa menuliskan sejarah Jawa pada buku karangannya "The History of Java"dan berjasa menamai bunga bangkai dengan namanya sendiri dan nama penelitinya (Rafflessia arnoldi). Tetapi apakah kalian tahu ia juga sangat "berjasa" mencekik bangsa kita lewat aturan pajak tanah? Ada juga Herman Willem Daendels, suruhan Kaisar Prancis, Napoleon Bonaparte-karena pada waktu itu Belanda di bawah pengaruh Prancis-yang memerintahkan pembuatan jalan raya Anyer-Panarukan sepanjang 1000km. Jalan yang hingga saat ini masih bisa kita lihat jejaknya.
Kawan-kawanku, seiring bergantinya waktu ada juga orang Belanda yang kasihan pada nasib bangsa Indonesia (Hindia Belanda namanya pada waktu itu). Adalah Van de Venter yang menggalakkan politik etis dan Multatuli, nama samaran Edward Douwes Dekker yang mengarangbuku "Max Havelaar" yang prihatin pada nasib kita. Edward Douwes Dekker inilah yang sering membuat rancu/bingung karena namanya hampir sama dengan nama keponakannya, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker/E.F.E Douwes Dekker yang mengganti namanya menjadi Danudirdja Setiabudi, salah satu tokoh pendiri Indische Partij.
Jika kalian masih ingat, Kawanku, bangsa kita pada masa itu tidak pasrah begitu saja menerima penjajahan. Selalu ada perlawanan dari tokoh-tokoh agama, pangeran-pangeran, dan raja-raja yang menentang kolonial Belanda. Ada Teuku Umar dan Cut Nya' Dien di Aceh, Tuanku Imam Bonjol dari Sumatera Barat, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari hingga Thomas Matulessy alias Pattimura yang asli Maluku. Sultan Agung di Mataram dan Sultan Ageng Tirtayasa yang memimpin Banten juga tidak tinggal diam. Mereka semua telah berjuang sekuat tenaga mengusir penjajah Belanda yang semakin hari semakin tak tahu diri.
Di awal abad ke-20 yang menjadi motor penggerak perlawanan terhadap para penjajah adalah kalangan pemuda terpelajar yang kemudian melahirkan Kebangkitan Nasional. R.A Kartini yang meninggal tahun 1904 saat usianya belum genap 25 tahun sebenarnya telah menuliskan ide kebangkitan nasional pada beberapa surat untuk kawannya di Belanda. Beliau juga telah membantu pertumbuhan nasionalisme di kalangan kaum wanita. Namun, kebangkitan tersebut baru bisa terealisasi saat Dr. Wahidin Sudirohusodo, Dr. Sutomo, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan kawan-kawan mendirikan Boedi Oetomo di ruang anatomi STOVIA pada 20 Mei 1908. Sejak saat itu, perlawanan rakyat Indonesia berubah dari yang semula sifatnya kedaerahan menjadi satu tujuan nasional yaitu kemerdekaan.
Saudaraku, Boedi Oetomo sukses menjadi tonggak awal kebangkitan nasional kita. Namun, jika kita mau mengingat,ternyata BO juga memelopori pendirian organisasi lain. Ada IndischeVereeniging/Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda dengan tokoh-tokoh macam Bung Hatta dan Ali Sastroamijoyo. Ada Indische Partij, Sarekat Dagang Islam, SarekatIslam, Parindra, PNI, Gerindo, dll. Para pemuda yang menjadi anggota organisasi diatas kemudian menyelenggarakan Kongres Pemuda I&II yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Masihkah kalian ingat pada Ki Hajar Dewantara yang pernah menulis pamflet berjudul "Als ik eens Nederlander was" (Andai aku seorang Belanda)? Ki Hajar pernah dibuang ke Belanda karena tulisannya tersebut dianggap membahayakan pemerintah kolonial Belanda dan menghasut rakyat. Namun di Belanda, idealisme beliau tidak pernah berubah, semangatnya tak pernah surut, bahkan ia menerbitkan surat kabar "Hindia Poetra" di Belanda!! Bung Karno yang berkali-kali diasingkan juga pernah terang-terangan mengkritik pemerintah kolonial. Saat itu beliau mengajukan pembelaan (pledoi) yang berjudul "Indonesia Menggugat" ketika disidang di PN Bandung walaupun hakim kolonial tetap menjatuhkan hukuman penjara padanya dan ketiga tokoh lainnya.
Kawan-kawanku, penjajah Belanda tak selamanya di negara kita. Pada tanggal 8 Agustus 1942 Belanda menyerahkan daerah Nusantara pada Jepang. Bisa dibilang, Belanda telah takluk pada Jepang setelah kalah dalam Perang Laut Jawa. Jadilah kita negara jajahan Jepang yang terluas wilayahnya di Asia. Jika kalian selama ini hanya mendengar romusha sebagai bentuk penindasan rakyat, maka ingatlah kisah ini.
Para pelajar SMP dan SMA wajib mengikuti kinrohoshi (semacam kerja paksa) setiap minggu yang dimulai pukul 08.00-16.00. Pelajar di Yogyakarta bekerja di Maguwo (sekarang Lanud Adi Sucipto). Mereka hanya diberi satu kali istirahat, yaitu pada waktu makan siang.Makanannya berupa nasi putih kecoklatan yang keras, sayur, daging, dan garam sedikit. Setiap orang yang melakukan pelanggaran sedikit saja langsung dibawa ke markas Keinpetai untuk dihajar sampai babak belur. Banyak dokter-dokter muda yang disiksa Jepang karena tuduhan palsu atau tidak menaati peraturan mereka. Sedangkan para wanita muda yang tidak bekerja di pemerintahan semuanya dikumpulkan dan dikerahkan menjadi jugun ianfu (wanita penghibur) alias pelacur. Dalam asrama rumah bordil mereka harus rela digilir setiap 30 menit sekali untuk melayani anggota militer Jepang dan staf sipilnya. Terkadang mereka terlanjur hamil dan dipaksa aborsi oleh petugas di asrama mereka. Tak terbayangkan betapa menderita mereka yang tersiksa lahir batin sehingga sebagian dari jugun ianfu tersebut sakit dan meninggal karena stress.
Itulah sekelumit kisah sebagai peringatan kepada kita dan generasi penerus lainnya bahwa penjajah pernah berlaku sangat kejam pada bangsa kita. Bahwa para pahlawan gugur karena memiliki satu tekad untuk memerdekakan Indonesia. Kelanjutan kisah ini tak perlu kusampaikan lagi karena kita semua sudah tahu bahwa akhirnya, setelah melewati ujian begitu berat, bangsa Indonesia berhasil memproklamasikan diri sebagai negara merdeka dan berdaulat pada 17 Agustus 1945. Sekarang tugas kitalah mengisi kemerdekaan ini dan mengabdikan diri pada tanah air, bangsa, dan negara. MERDEKA!!
(dari berbagai sumber)
Catatan: tulisan ini merupakan repost dari note FB saya, dengan sedikit perubahan.
Kawan-kawanku, 400 tahun yang lalu sebuah bangsa berambut jagung mengirimkan ekspedisi untuk mencari rempah-rempah hingga ke daerah-daerah baru termasuk Nusantara. Sebelumnya, dua bangsa serumpun, Spanyol dan Portugis lebih dulu menancapkan kukunya di Maluku dan Filipina. Tetangga kedua bangsa itu, yaitu Belanda tertarik datang kemari dan mulai menjajah bangsa kita. Sayangnya para penjajah itu sangat keterlaluan, mereka malah menginjak-injak harga diri bangsa kita dan mengadu domba para penguasa kerajaan.
Kawanku, masihkah kalian ingat wajah Van den Bosch yang tampan nan rupawan itu? Dibalik ketampanannya, ia tega menerapkan tanam paksa atau "cultuur stelsel" demi mengisi kas keuanganNegeri belanda. Teori bahwa "orang tampan tak selalu sopan dan dermawan" terbukti! Lalu ingatkah kalian pada Sir Thomas Stanford Raffles? Memang benar ia berjasa menuliskan sejarah Jawa pada buku karangannya "The History of Java"dan berjasa menamai bunga bangkai dengan namanya sendiri dan nama penelitinya (Rafflessia arnoldi). Tetapi apakah kalian tahu ia juga sangat "berjasa" mencekik bangsa kita lewat aturan pajak tanah? Ada juga Herman Willem Daendels, suruhan Kaisar Prancis, Napoleon Bonaparte-karena pada waktu itu Belanda di bawah pengaruh Prancis-yang memerintahkan pembuatan jalan raya Anyer-Panarukan sepanjang 1000km. Jalan yang hingga saat ini masih bisa kita lihat jejaknya.
Kawan-kawanku, seiring bergantinya waktu ada juga orang Belanda yang kasihan pada nasib bangsa Indonesia (Hindia Belanda namanya pada waktu itu). Adalah Van de Venter yang menggalakkan politik etis dan Multatuli, nama samaran Edward Douwes Dekker yang mengarangbuku "Max Havelaar" yang prihatin pada nasib kita. Edward Douwes Dekker inilah yang sering membuat rancu/bingung karena namanya hampir sama dengan nama keponakannya, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker/E.F.E Douwes Dekker yang mengganti namanya menjadi Danudirdja Setiabudi, salah satu tokoh pendiri Indische Partij.
Jika kalian masih ingat, Kawanku, bangsa kita pada masa itu tidak pasrah begitu saja menerima penjajahan. Selalu ada perlawanan dari tokoh-tokoh agama, pangeran-pangeran, dan raja-raja yang menentang kolonial Belanda. Ada Teuku Umar dan Cut Nya' Dien di Aceh, Tuanku Imam Bonjol dari Sumatera Barat, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari hingga Thomas Matulessy alias Pattimura yang asli Maluku. Sultan Agung di Mataram dan Sultan Ageng Tirtayasa yang memimpin Banten juga tidak tinggal diam. Mereka semua telah berjuang sekuat tenaga mengusir penjajah Belanda yang semakin hari semakin tak tahu diri.
Di awal abad ke-20 yang menjadi motor penggerak perlawanan terhadap para penjajah adalah kalangan pemuda terpelajar yang kemudian melahirkan Kebangkitan Nasional. R.A Kartini yang meninggal tahun 1904 saat usianya belum genap 25 tahun sebenarnya telah menuliskan ide kebangkitan nasional pada beberapa surat untuk kawannya di Belanda. Beliau juga telah membantu pertumbuhan nasionalisme di kalangan kaum wanita. Namun, kebangkitan tersebut baru bisa terealisasi saat Dr. Wahidin Sudirohusodo, Dr. Sutomo, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan kawan-kawan mendirikan Boedi Oetomo di ruang anatomi STOVIA pada 20 Mei 1908. Sejak saat itu, perlawanan rakyat Indonesia berubah dari yang semula sifatnya kedaerahan menjadi satu tujuan nasional yaitu kemerdekaan.
Saudaraku, Boedi Oetomo sukses menjadi tonggak awal kebangkitan nasional kita. Namun, jika kita mau mengingat,ternyata BO juga memelopori pendirian organisasi lain. Ada IndischeVereeniging/Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda dengan tokoh-tokoh macam Bung Hatta dan Ali Sastroamijoyo. Ada Indische Partij, Sarekat Dagang Islam, SarekatIslam, Parindra, PNI, Gerindo, dll. Para pemuda yang menjadi anggota organisasi diatas kemudian menyelenggarakan Kongres Pemuda I&II yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Masihkah kalian ingat pada Ki Hajar Dewantara yang pernah menulis pamflet berjudul "Als ik eens Nederlander was" (Andai aku seorang Belanda)? Ki Hajar pernah dibuang ke Belanda karena tulisannya tersebut dianggap membahayakan pemerintah kolonial Belanda dan menghasut rakyat. Namun di Belanda, idealisme beliau tidak pernah berubah, semangatnya tak pernah surut, bahkan ia menerbitkan surat kabar "Hindia Poetra" di Belanda!! Bung Karno yang berkali-kali diasingkan juga pernah terang-terangan mengkritik pemerintah kolonial. Saat itu beliau mengajukan pembelaan (pledoi) yang berjudul "Indonesia Menggugat" ketika disidang di PN Bandung walaupun hakim kolonial tetap menjatuhkan hukuman penjara padanya dan ketiga tokoh lainnya.
Kawan-kawanku, penjajah Belanda tak selamanya di negara kita. Pada tanggal 8 Agustus 1942 Belanda menyerahkan daerah Nusantara pada Jepang. Bisa dibilang, Belanda telah takluk pada Jepang setelah kalah dalam Perang Laut Jawa. Jadilah kita negara jajahan Jepang yang terluas wilayahnya di Asia. Jika kalian selama ini hanya mendengar romusha sebagai bentuk penindasan rakyat, maka ingatlah kisah ini.
Para pelajar SMP dan SMA wajib mengikuti kinrohoshi (semacam kerja paksa) setiap minggu yang dimulai pukul 08.00-16.00. Pelajar di Yogyakarta bekerja di Maguwo (sekarang Lanud Adi Sucipto). Mereka hanya diberi satu kali istirahat, yaitu pada waktu makan siang.Makanannya berupa nasi putih kecoklatan yang keras, sayur, daging, dan garam sedikit. Setiap orang yang melakukan pelanggaran sedikit saja langsung dibawa ke markas Keinpetai untuk dihajar sampai babak belur. Banyak dokter-dokter muda yang disiksa Jepang karena tuduhan palsu atau tidak menaati peraturan mereka. Sedangkan para wanita muda yang tidak bekerja di pemerintahan semuanya dikumpulkan dan dikerahkan menjadi jugun ianfu (wanita penghibur) alias pelacur. Dalam asrama rumah bordil mereka harus rela digilir setiap 30 menit sekali untuk melayani anggota militer Jepang dan staf sipilnya. Terkadang mereka terlanjur hamil dan dipaksa aborsi oleh petugas di asrama mereka. Tak terbayangkan betapa menderita mereka yang tersiksa lahir batin sehingga sebagian dari jugun ianfu tersebut sakit dan meninggal karena stress.
Itulah sekelumit kisah sebagai peringatan kepada kita dan generasi penerus lainnya bahwa penjajah pernah berlaku sangat kejam pada bangsa kita. Bahwa para pahlawan gugur karena memiliki satu tekad untuk memerdekakan Indonesia. Kelanjutan kisah ini tak perlu kusampaikan lagi karena kita semua sudah tahu bahwa akhirnya, setelah melewati ujian begitu berat, bangsa Indonesia berhasil memproklamasikan diri sebagai negara merdeka dan berdaulat pada 17 Agustus 1945. Sekarang tugas kitalah mengisi kemerdekaan ini dan mengabdikan diri pada tanah air, bangsa, dan negara. MERDEKA!!
(dari berbagai sumber)
Catatan: tulisan ini merupakan repost dari note FB saya, dengan sedikit perubahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar