Jumat, 24 Juni 2011

Mencintai Orang yang Tak Bisa Kucintai

Aku tahu bagaimana perasaanmu, kerinduanmu dan keletihanmu pada semua ini. Aku ada disini, siap sedia membantumu, mendengarkan segalah keluh kesah dan kegundahanmu, menawarkan bahuku untukmu bersandar. Aku ada dan sebenarnya aku ingin kau tahu bahwa rasa ini ada. Rasa ini tumbuh dari hari ke hari, semakin mekar, semakin besar, hingga sesak nafas aku dibuatnya.
Aku sudah sering merasakan hal ini. Yah, setidaknya aku telah berpengalaman sebelumnya terhadap cinta terlarang ini. Aku tidak tahu dan aku tidak mengerti apakah ini perasaan kagum, suka, cinta, sayang atau perasaan lainnya. Satu hal yang pasti, aku merasa melayang saat memikirkanmu. Aku bahagia di dekatmu dan ingin selalu bersamamu. Sebenarnya pandanganku ini terlalu naïf untuk orang sepertiku yang seharusnya sudah bisa bersikap dewasa. Tapi siapa di dunia ini yang bisa bersikap bijaksana terhadap cinta? Semua orang menjadi gila karena cinta. Aku mulai menjadi gila karenamu…
Hari itu aku tak berharap mengalami kisah cinta rumit sekali lagi. Tetapi itu telah terjadi. Aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu. Dan rasa suka itu semakin hari semakin bertambah besar, menggunung, memberontak, memancarkan lava asmara seiring aku mengenalmu. Hari-hariku seakan tak lengkap bila belum melihat Facebook-ku dan mengecek profilmu. Dan selalu, setiap kal kubuka FB selalu kucek apakah kau juga sedang online saat itu.
Maafkan aku, aku tak mungkin mengungkapkan perasaan ini padamu secara langsung. Maafkan aku hanya berani berteman denganmu di dunia maya. Maafkan aku telah memelihara dan menyimpan rasa ini. Seharusnya sejak hari itu, sudah kubuang rasa itu jauh-jauh. Seharusnya aku tak pernah memikirkanmu lagi. Seharusnya aku tahu bahwa kau tak mungkin kucintai.
Tapi apa hatiku mengerti? Hatiku betul-betul egois dan tak mau mengerti. Aku tak ingin membela diri di hadapanmu tapi ini benar-benar terjadi padaku. Pada hatiku. Aku (mungkin) menyukaimu, mencintaimu dan menginginkanmu. Pikiranku sudah tak sanggup berpikir logis lagi dan aku ingin kau mengerti ini. Walaupun aku yakin, pasti sulit bagimu menerima perasaanku.
Aku butuh bantuan dari orang lain dan darimu. Sebelum aku benar-benar gila dan tenggelam dalam lautan cintamu. Sekian lama, kucoba mengerti perasaanku tapi aku terlalu bodoh untuk memahaminya. Mungkin takkan pernah bisa kumengerti Darimana, mengapa dan bagaimana aku bisa jatuh cinta padamu. Mungkin memang benar bahwa aku ditakdirkan bukan untuk siapa-siapa dan bukan untuk apa-apa.
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(Chairil Anwar-Aku)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jumat, 24 Juni 2011

Mencintai Orang yang Tak Bisa Kucintai

Aku tahu bagaimana perasaanmu, kerinduanmu dan keletihanmu pada semua ini. Aku ada disini, siap sedia membantumu, mendengarkan segalah keluh kesah dan kegundahanmu, menawarkan bahuku untukmu bersandar. Aku ada dan sebenarnya aku ingin kau tahu bahwa rasa ini ada. Rasa ini tumbuh dari hari ke hari, semakin mekar, semakin besar, hingga sesak nafas aku dibuatnya.
Aku sudah sering merasakan hal ini. Yah, setidaknya aku telah berpengalaman sebelumnya terhadap cinta terlarang ini. Aku tidak tahu dan aku tidak mengerti apakah ini perasaan kagum, suka, cinta, sayang atau perasaan lainnya. Satu hal yang pasti, aku merasa melayang saat memikirkanmu. Aku bahagia di dekatmu dan ingin selalu bersamamu. Sebenarnya pandanganku ini terlalu naïf untuk orang sepertiku yang seharusnya sudah bisa bersikap dewasa. Tapi siapa di dunia ini yang bisa bersikap bijaksana terhadap cinta? Semua orang menjadi gila karena cinta. Aku mulai menjadi gila karenamu…
Hari itu aku tak berharap mengalami kisah cinta rumit sekali lagi. Tetapi itu telah terjadi. Aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu. Dan rasa suka itu semakin hari semakin bertambah besar, menggunung, memberontak, memancarkan lava asmara seiring aku mengenalmu. Hari-hariku seakan tak lengkap bila belum melihat Facebook-ku dan mengecek profilmu. Dan selalu, setiap kal kubuka FB selalu kucek apakah kau juga sedang online saat itu.
Maafkan aku, aku tak mungkin mengungkapkan perasaan ini padamu secara langsung. Maafkan aku hanya berani berteman denganmu di dunia maya. Maafkan aku telah memelihara dan menyimpan rasa ini. Seharusnya sejak hari itu, sudah kubuang rasa itu jauh-jauh. Seharusnya aku tak pernah memikirkanmu lagi. Seharusnya aku tahu bahwa kau tak mungkin kucintai.
Tapi apa hatiku mengerti? Hatiku betul-betul egois dan tak mau mengerti. Aku tak ingin membela diri di hadapanmu tapi ini benar-benar terjadi padaku. Pada hatiku. Aku (mungkin) menyukaimu, mencintaimu dan menginginkanmu. Pikiranku sudah tak sanggup berpikir logis lagi dan aku ingin kau mengerti ini. Walaupun aku yakin, pasti sulit bagimu menerima perasaanku.
Aku butuh bantuan dari orang lain dan darimu. Sebelum aku benar-benar gila dan tenggelam dalam lautan cintamu. Sekian lama, kucoba mengerti perasaanku tapi aku terlalu bodoh untuk memahaminya. Mungkin takkan pernah bisa kumengerti Darimana, mengapa dan bagaimana aku bisa jatuh cinta padamu. Mungkin memang benar bahwa aku ditakdirkan bukan untuk siapa-siapa dan bukan untuk apa-apa.
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(Chairil Anwar-Aku)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar