Jumat, 24 Juni 2011

Analisa Penggunaan Cahaya sebagai Media Transfer Data

TIK telah menjadi kebutuhan yang sangat penting di zaman serba modern seperti sekarang ini. Transfer data diharapkan makin cepat setiap harinya sementara pengguna komputer semakin hari semakin bertambah. Hal ini memunculkan masalah baru bagaimana caranya agar transfer data bisa lebih cepat, hemat, dan efisien. Teknologi yang ada sekarang baru sebatas penggunaan Wi-Fi secara missal oleh masyarakat terutama di institusi-institusi pendidikan seperti kampus dan sekolah. Teknologi diatas Wi-Fi yaitu Wi-Max baru sebatas digunakan kalangan tertentu saja karena biaya yang lebih mahal. 
Jika banyak pengguna menggunakan telpon genggam atau berselancar di internet pada saat yang bersamaan, maka transfer data menjadi lamban. Ini mungkin terjadi di stadion sepak bola yang penuh. Di New York, yang merupakan hotspot untuk penguna iPad, iPhone dan telpon pintar, lambannya akses internet sudah menjadi keseharian. Menjelang maghrib, transfer data nirkabel hampir tidak berfungsi lagi. Apalagi, gelombang yang digunakan untuk mengirim data bisa saling menadirkan sehingga penerimaan data kerap terganggu dan terputus-putus.
 Baru-baru ini kalangan peneliti di Jerman sedang mengembangkan peluang cahaya berbasis lampu LED sebagai teknologi pentransfer data di masa depan. Di masa depan, data dalam jumlah besar bisa dikirim lewat cahaya. Sebuah lampu baca cukup bagi seseorang untuk bisa menjelajahi internet. Cepat dan tidak ada halangan berarti. Profesor Harald Haas mengembangkan teknologi baru untuk mentransfer data nirkabel: cahaya yang bersuara. Komunikasi data optis nirkabel, itulah kata kuncinya. Profesor Haas mneliti di dua lokasi Institut Komunikasi Digital di Universitas Edinburgh di Skotlandia. Selain itu, ia adalah profesor kehormatan di Universitas Jacobs di Bremen. Kedua perguruan tinggi ini memiliki satu kesamaan, yakni kuliah dalam Bahasa Inggris dan mahasiswa yang berasal dari mancanegara. Tim riset Harald Haas terdiri dari hampir selusin peneliti yang berasal dari India, Cina, Rumania, Bulgaria, Mesir dan Jerman.
Haas ingin menggunakan gelombang elektromagnetis cahaya yang terlihat mata. Prinsip dasarnya sangat sederhana: Lampu LED sengaja dipasok dengan listrik yang tidak stabil. Cahaya berkedip dengan kecepatan tinggi sehingga mata tidak dapat menangkapnya. Dan kedipan cahaya inilah yang mengandung informasi. Laptop dan iPhone yang dilengkapi detektor dapat menangkap dan membaca informasi dari lampu LED. Dengan cara ini, data dalam jumlah sangat besar ditransfer dengan kecepatan tinggi menggunakan teknologi morse cahaya.

Di masa depan, lampu jalanan dan bahkan lampu lalu-lintas dapat dimanfaatkan untuk mentransmisikan data. Teknologi ini dapat merevolusi transfer data dan kehidupan sehari-hari manusia. Jalur lebar nirkabel – kapan dan di mana saja, lebih cepat daripada kecepatan rata-rata internet di rumah atau di kantor saat ini. Teknologi ini memungkinkan banyak sekali aplikasi. Misalnya, transfer data pasien di rumah sakit. Saat ini, itu belum bisa dilakukan karena transmisi data terganggu oleh komputer tomografi. Kemungkinan lainnya adalah transfer data video di ruang tamu untuk menonton film. Transfer data ini tidak dapat disadap, karena cahaya tidak meninggalkan ruangan. Cahaya juga tidak menghasilkan smog elektro yang kerap dikritik penggiat lingkungan. Selain itu, transfer data melalui cahaya sangat hemat energi. Di seluruh dunia ada persaingan ketat untuk meriset teknologi ini. Pemanfaatan cahaya, demikian dikatakan Haas, akan merevolusi komunikasi nirkabel.
Peneliti di perusahaan Siemens, Jerman juga telah berhasil mengembangkan teknologi ini. Namun peneliti Siemens telah berhasil memanfaatkan cahaya putih yang dipancarkan oleh lampu LED menjadi media komunikasi wireless dengan kecepatan transfer data mencapai 500 Mbps (500 juta bits per detik). Seperti yang dilansir oleh situs resmi Siemens, pada awalnya para peneliti tersebut hanya dapat mencapai kecepatan 200 Mbps saja. Namun setelah dilakukan penelitian yang lebih mendalam, rekor tersebut berhasil dipecahkan sendiri menjadi 500 Mbps. Perangkat ini disebut sebagai VLC (Visible Light Communication) yang berarti komunikasi melalui cahaya tampak.

Peluang teknologi baru ini sangat menjanjikan. Sebagai contoh VLC dapat digunakan sebagai media alternatif komunikasi nirkabel selain WiFi atau HotSpot. VLC memiliki kelebihan sebagai berikut :
  • Biaya perangkat menjadi lebih murah karena VLC tidak membutuhkan pemancar dan penerima sinyal radio digital berfrekuensi tinggi seperti yang ditemukan pada WiFi. VLC hanya membutuhkan lampu LED putih sebagai pemancar dan sensor cahaya sebagai penerimanya.
  • Sinyal yang dihasilkan oleh VLC tidak akan menginterferensi (mengganggu) sinyal radio yang dipancarkan oleh perangkat nirkabel lainnya (seperti TV, Radio, WiFi, atau perangkat radio lainnya) karena VLC sudah sangat jelas memiliki panjang gelombang yang berbeda. VLC menggunakan panjang gelombang cahaya tampak (cahaya lampu LED) sebagai media sedangkan perangkat radio menggunakan panjang gelombang tidak tampak (sinyal radio) sebagai medianya.
  • Cocok digunakan untuk komunikasi jarak pendek di dalam satu bangunan atau gedung. Pemancar VLC dapat dipasang diatas langit-langit bangunan dengan penerima yang dapat diletakkan di manapun didalam satu ruangan yang sama sehingga dapat digunakan sebagai perangkat alternatif pengganti WiFi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jumat, 24 Juni 2011

Analisa Penggunaan Cahaya sebagai Media Transfer Data

TIK telah menjadi kebutuhan yang sangat penting di zaman serba modern seperti sekarang ini. Transfer data diharapkan makin cepat setiap harinya sementara pengguna komputer semakin hari semakin bertambah. Hal ini memunculkan masalah baru bagaimana caranya agar transfer data bisa lebih cepat, hemat, dan efisien. Teknologi yang ada sekarang baru sebatas penggunaan Wi-Fi secara missal oleh masyarakat terutama di institusi-institusi pendidikan seperti kampus dan sekolah. Teknologi diatas Wi-Fi yaitu Wi-Max baru sebatas digunakan kalangan tertentu saja karena biaya yang lebih mahal. 
Jika banyak pengguna menggunakan telpon genggam atau berselancar di internet pada saat yang bersamaan, maka transfer data menjadi lamban. Ini mungkin terjadi di stadion sepak bola yang penuh. Di New York, yang merupakan hotspot untuk penguna iPad, iPhone dan telpon pintar, lambannya akses internet sudah menjadi keseharian. Menjelang maghrib, transfer data nirkabel hampir tidak berfungsi lagi. Apalagi, gelombang yang digunakan untuk mengirim data bisa saling menadirkan sehingga penerimaan data kerap terganggu dan terputus-putus.
 Baru-baru ini kalangan peneliti di Jerman sedang mengembangkan peluang cahaya berbasis lampu LED sebagai teknologi pentransfer data di masa depan. Di masa depan, data dalam jumlah besar bisa dikirim lewat cahaya. Sebuah lampu baca cukup bagi seseorang untuk bisa menjelajahi internet. Cepat dan tidak ada halangan berarti. Profesor Harald Haas mengembangkan teknologi baru untuk mentransfer data nirkabel: cahaya yang bersuara. Komunikasi data optis nirkabel, itulah kata kuncinya. Profesor Haas mneliti di dua lokasi Institut Komunikasi Digital di Universitas Edinburgh di Skotlandia. Selain itu, ia adalah profesor kehormatan di Universitas Jacobs di Bremen. Kedua perguruan tinggi ini memiliki satu kesamaan, yakni kuliah dalam Bahasa Inggris dan mahasiswa yang berasal dari mancanegara. Tim riset Harald Haas terdiri dari hampir selusin peneliti yang berasal dari India, Cina, Rumania, Bulgaria, Mesir dan Jerman.
Haas ingin menggunakan gelombang elektromagnetis cahaya yang terlihat mata. Prinsip dasarnya sangat sederhana: Lampu LED sengaja dipasok dengan listrik yang tidak stabil. Cahaya berkedip dengan kecepatan tinggi sehingga mata tidak dapat menangkapnya. Dan kedipan cahaya inilah yang mengandung informasi. Laptop dan iPhone yang dilengkapi detektor dapat menangkap dan membaca informasi dari lampu LED. Dengan cara ini, data dalam jumlah sangat besar ditransfer dengan kecepatan tinggi menggunakan teknologi morse cahaya.

Di masa depan, lampu jalanan dan bahkan lampu lalu-lintas dapat dimanfaatkan untuk mentransmisikan data. Teknologi ini dapat merevolusi transfer data dan kehidupan sehari-hari manusia. Jalur lebar nirkabel – kapan dan di mana saja, lebih cepat daripada kecepatan rata-rata internet di rumah atau di kantor saat ini. Teknologi ini memungkinkan banyak sekali aplikasi. Misalnya, transfer data pasien di rumah sakit. Saat ini, itu belum bisa dilakukan karena transmisi data terganggu oleh komputer tomografi. Kemungkinan lainnya adalah transfer data video di ruang tamu untuk menonton film. Transfer data ini tidak dapat disadap, karena cahaya tidak meninggalkan ruangan. Cahaya juga tidak menghasilkan smog elektro yang kerap dikritik penggiat lingkungan. Selain itu, transfer data melalui cahaya sangat hemat energi. Di seluruh dunia ada persaingan ketat untuk meriset teknologi ini. Pemanfaatan cahaya, demikian dikatakan Haas, akan merevolusi komunikasi nirkabel.
Peneliti di perusahaan Siemens, Jerman juga telah berhasil mengembangkan teknologi ini. Namun peneliti Siemens telah berhasil memanfaatkan cahaya putih yang dipancarkan oleh lampu LED menjadi media komunikasi wireless dengan kecepatan transfer data mencapai 500 Mbps (500 juta bits per detik). Seperti yang dilansir oleh situs resmi Siemens, pada awalnya para peneliti tersebut hanya dapat mencapai kecepatan 200 Mbps saja. Namun setelah dilakukan penelitian yang lebih mendalam, rekor tersebut berhasil dipecahkan sendiri menjadi 500 Mbps. Perangkat ini disebut sebagai VLC (Visible Light Communication) yang berarti komunikasi melalui cahaya tampak.

Peluang teknologi baru ini sangat menjanjikan. Sebagai contoh VLC dapat digunakan sebagai media alternatif komunikasi nirkabel selain WiFi atau HotSpot. VLC memiliki kelebihan sebagai berikut :
  • Biaya perangkat menjadi lebih murah karena VLC tidak membutuhkan pemancar dan penerima sinyal radio digital berfrekuensi tinggi seperti yang ditemukan pada WiFi. VLC hanya membutuhkan lampu LED putih sebagai pemancar dan sensor cahaya sebagai penerimanya.
  • Sinyal yang dihasilkan oleh VLC tidak akan menginterferensi (mengganggu) sinyal radio yang dipancarkan oleh perangkat nirkabel lainnya (seperti TV, Radio, WiFi, atau perangkat radio lainnya) karena VLC sudah sangat jelas memiliki panjang gelombang yang berbeda. VLC menggunakan panjang gelombang cahaya tampak (cahaya lampu LED) sebagai media sedangkan perangkat radio menggunakan panjang gelombang tidak tampak (sinyal radio) sebagai medianya.
  • Cocok digunakan untuk komunikasi jarak pendek di dalam satu bangunan atau gedung. Pemancar VLC dapat dipasang diatas langit-langit bangunan dengan penerima yang dapat diletakkan di manapun didalam satu ruangan yang sama sehingga dapat digunakan sebagai perangkat alternatif pengganti WiFi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar