Pemerintah Italia dan
Prancis memperingatkan komunitas internasional untuk menghentikan pembelian
produk minyak bumi dari Libya. Italia dan Prancis tidak akan menerima
hidrokarbon yg dijual rezim Khadafy. Pernyataan tersebut dilahirkan setelah
pertemuan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy dan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi.
Pernyataan tersebut merupakan suatu foreign policy making.
Foreign policy making merupakan strategi –
strategi atau kebijakan yang dipilih oleh suatu negara untuk melindungi
kepentingan nasionalnya dan mencapai tujuan-tujuan dalam Hubungan Internasional.
Sebagai anggota NATO Italia dan Prancis memiliki kepentingan yg sama dengan
sekutunya yakni menghentikan rezim Khadafy yang terus berkuasa di Libya. Tujuan
mereka melakukan embargo minyak dan gas adalah membantu pihak pemberontak di
timur Libya dalam melawan rezim pemerintahan Khadafy.
Dalam proses pembuatan foreign policy,
pendekatannya dilakukan secara strategis dengan berinteraksi dengan negara
lain, dalam artikel ini dilakukan oleh itali dan perancis dan dilakukan
langsung oleh kedua kepala pemerintahan negara tersebut. Hal ini membuktikan
bahwa peluncuran kampanye boikot tersebut telah melalui beberapa tahap dlm
pembuatan kebijakan luar negeri.
Dalam proses pembuatan suatu foreign
policy, ada 3 tingkatan level of analysis yang berperan. Pertama, pengaruh
lingkungan global, dimana dalam berita diatas adalah kondisi terkini perang di
Libya antara pasukan pemerintahan Khadafy dengan kelompok pemberontak. Karena
keadaan kelompok pemberontak sedang terjepit maka NATO dan sekutunya berusaha
membantu mereka dengan memboikot minyak mentah asal pemerintah Libya. Sehingga
diharapkan pasukan Khadafy akan kehilangan dukungan dan kekurangan biaya.
Lalu, yang kedua adalah pengaruh dari
kondisi dalam negeri suatu negara. Seperti yang kita tahu, Italia dan Prancis
adalah anggota aktif Uni Eropa dan UE sendiri telah mengecam Libya. Hal itu
berarti telah ada tuntutan dari rakyat mereka untuk memboikot Libya. Terakhir,
adalah pengaruh individu dimana kepribadian, kepercayaan dan nilai-nilai yang
dianut menjadi dasar pengambilan keputusan seorang kepala pemerintahan.
Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy berkali-kali telah menyerukan perdamaian dan menjunjung
tinggi HAM. Sedangkan PM Italia, Berlusconi adalah orang yang idealis dan
memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Hal ini tentu berpengaruh pada kebijakan
yang disepakati oleh kedua negara, yaitu hanya menyerukan kepada negara-negara
lain agar memboikot minyak mentah Libya tanpa langkah-langkah lanjutan seperti
embargo senjata misalnya.
Terdapat beberapa tahap pembuatan kebijakan
luar negeri, diantaranya:
1. Penilaian terhadap lingkungan politik dan
internasional: lingkungan dan kondisi politik terkini harus dimengerti untuk
mencetuskan pilihan yg terbaik. Dalam artikel diatas Italia dan Prancis
terlihat telah memahami dengan baik lingkungan dan kondisi politik global.
2. Goal setting: suatu negara menentukan
tujuan yang menentukan prioritas. Tujuan mereka jelas, yaitu menjatuhkan rezim
pemerintahan Khadafy dan melindungi warga sipil Libya
3. Determination of policy options: pilihan
mana yang paling tepat untk mencapai. Ada beberapa opsi lain yang juga bisa
dipilih, misalnya embargo senjata, penyerangan markas tentara pro-Khadafy dan
embargo minyak dan gas. Namun menurut kedua negara tersebut, pilihan yang
paling mungkin dan paling kecil resikonya adalah memperingatkan negara-negara
lain agar tidak membeli minyak dari Libya.
4. Formal decision making action: dibuat di
level eksekutif; Presiden, PM, kabinet dan menteri. Proses pembuatannya
dilakukan melalui pernyataan bersama Presiden Prancis dan PM Italia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar