Rabu, 29 Juni 2011

Global Problems

Kita menghadapi tantangan global baru, menghadapi permasalahan yang lebih kompleks dalam dunia yang semakin cepat berubah. Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa perubahan iklim dan pemanasan global sedang terjadi. Dan kita membutuhkan solusi yang komprehensif secepatnya karena waktu semakin menipis.
Indonesia sebagai negara terluas keempat di dunia memiliki peran yang besar dan wilayah yang begitu luas untuk diperhitungkan dalam tataran global. Ketika permerintah berusaha keras memecahkan problem-problem diatas, kita sebagai bagian dari masyarakat dunia juga harus berperan dan member kontribusi untuk menyelamatkan bumi kita. Salah satu penyebab utama global warming adalah penggunaan bahan bakar dari fosil, energy yang tak terbarukan dan sama sekali tidak ramah lingkungan.
We’re facing new global challenges, more complex and severe problems that has come into rapid-changing world. Like it or not, we must admit that global warming and climate change are exist. And we need a comprehensive solution as the clock ticking to us.
Indonesia as the fourth largest country in the world will have the big impact and very large area to be calculated on global system. As the government struggles to find the efforts which may reduce the impact of global warming, we, as the part of global community should contribute to save our earth. Any government’s programs would fail unless the society supports them and make things happen.
The very first reason behind global warming is the use of fossil fuel-non-renewable and absolutely non-eco friendly energy- it leads to slowly but sure unstoppable destructions of our mother earth. Nonetheless, we can’t imply and refuse that humans also take part on the today’s global warming or climate change. We can’t give up hands and say that we have no contribution on it. Indeed, we take the main part and also must take all responsibilities in restoring the world.
And what is the fossil fuel aim for? We’ve already knew it. The biggest user of fossil fuel products, such as gasoline, solar, gas, and diesel is transportation system. It is painfully hard to describe that almost all sorts of vehicle use the fuel. Cars, ships, motorbikes, planes, rails, trucks, and boats use the petrol as the main fuel, even when the hybrid and electric ones exist in the markets. The fossil-fueled vehicle still regarded as the main and most important. We cannot simply change or encourage people not to use their cars or their motorbikes because the vehicles are like the heart and lifeblood for them. We simply cannot convince the government to make a new rule or law that environmentally friendly at the same time, yet we can’t prove how important the changes. All we need is step by step, evolutionary not revolutionary changes, to make big impact to the future. And at the very first time we have to underline the message on the matter of transportation problem.


Fosil raksasa Jebal Barez - Salah satu hoax terbaik dunia maya

Pada Oktober 2005, seorang giantology bernama Eric Belson menceritakan mengenai seorang arkeolog Belanda bernama Casper Shilling yang menemukan kerangka makhluk raksasa yang muncul dari kuburannya setelah gempa besar melanda kota Bam, Iran. Kisah ini kemudian menjadi populer di Indonesia dan cukup menarik perhatian di dunia maya.


Para pembaca enigma sebenarnya telah menanyakan soal ini sejak enam bulan yang lalu. Dan saya kembali mendapatkan pertanyaan mengenai penemuan ini beberapa hari yang lalu. Jadi, saya ingin mengklarifikasi berita ini supaya semuanya menjadi jelas.

Walaupun berita mengenai penemuan kerangka itu pertama kali muncul pada tahun 2005, kisah misterius ini baru populer di Indonesia pada tahun 2008 hingga sekarang. Ini cuplikan berita yang beredar di Indonesia:

"Sebuah Fosil makhluk hidup berukuran raksasa (atau bahkan mungkin ultra) yang ditemukan di kawasan Jebal Barez ini sangatlah mengagumkan. Menurut para peneliti, mungkin inilah hewan purba terbesar yang pernah eksis didunia pada masa lalu, ukuran kepalanya saja bisa mencapai panjang 26 meter dengan ketinggian 8 meter!!!"


"Diperkirakan, fosil tersebut mungkin muncul akibat adanya gempa Bumi yang melanda Iran pada 26 Desember 2003 lalu. Reruntuhan batuan akibat gempa bumi di Jebal Barez telah membuka fosil tersebut, yang selama berjuta-juta tahun terkubur didalam bukit-bukit tandus berbatu."

"Tim satuan Kepurbakalaan Iran yang bertanggung jawab penuh atas penggalian sepakat. Mereka menegaskan bahwa ini merupakan kerangka hewan raksasa tunggal, mungkin salah satu hewan purba berjalan melata. Ukurannyapun lebih besar daripada jenis-jenis Dinosaurus yang pernah ada sebelumnya. Tetapi, apakah hewan ini termasuk dalam jajaran Dinosaurus atau bukan, itulah yang belum bisa diterangkan.

"Mungkin inilah yang disebut sebagai kemustahilan Biologis. Setidaknya, kira-kira perlu bertahun-tahun bagi para ahli arkeologi dan paleontologi untuk mengetahui secara pasti mengenai identitas makhluk misterius tersebut."


Nah, sekarang pertanyaannya adalah: Apakah kerangka yang disebut "kemustahilan biologis" tersebut benar-benar ada? Apakah penemuan itu benar-benar terjadi?

Jawabannya adalah: Tidak.

Untuk mendapatkan jawaban ini, tidak butuh analisa yang rumit. Jika kita googling mengenai kerangka Jebal Barez, maka kita akan segera mendapatkan jawabannya.

Kisah penemuan beserta foto yang ditampilkan ini sebenarnya hanyalah bagian dari sebuah viral marketing yang dikerjakan oleh Glenn Sanders dari perusahaan Tequila yang bekerjasama dengan Viral Factory.

Kalian yang menggemari Playstation pasti akan menyukai ini. Soalnya, kisah ini dbuat untuk mempromosikan game "Shadow of the Colossus" dari PS2. Glenn Sanders memang disewa oleh Sony untuk mengerjakan kampanye Viral Marketing ini.

Game ini menceritakan mengenai seorang pemuda yang bernama Wander yang melakukan perjalanan panjang dengan kudanya untuk menyelamatkan seorang gadis. Untuk mencapai tujuannya itu, ia harus berhasil mengalahkan 16 raksasa yang disebut Colossi.

Aspek yang cukup menarik dari kisah ini adalah bagaimana sebuah proses marketing dilakukan dengan jenius (atau serius). Perlu diketahui kalau untuk mempromosikan game ini, Glenn tidak hanya menciptakan kisah penemuan kerangka Jebal Barez, ia juga menciptakan banyak kisah lainnya. Saya akan memberikan beberapa saja sebagai contohnya.

Mari kita lihat bagaimana proses viral marketing ini dilakukan sehingga membawa kesuksesan besar bagi Shadow of the Colossus.

Pertama, Glenn menciptakan seorang tokoh bernama Eric Belson yang meluncurkan sebuah blog yang beralamat di giantology.typepad.com. Di blog itu, ia memberikan banyak data mengenai penemuan kerangka-kerangka raksasa di seluruh dunia. Belson mengklaim dirinya sebagai seorang giantology(istilah yang dia ciptakan untuk menyebut bidang keilmuannya).

Pada tanggal 1 Oktober 2005, Belson mengumumkan kalau ia telah membeli domain giantology.net. Di domain barunya itu, ia memposting mengenai kerangka Jebal Barez pada tanggal 5 Oktober 2005.

Pada bulan itu juga game Shadow of the Colossus diluncurkan di Jepang dan Amerika Utara.

Disinilah muncul tokoh Casper Shilling, seorang arkeolog Belanda yang disebut Belson menemukan kerangka di Jebal Barez. Tentu saja, Shilling juga seorang tokoh fiktif. Shilling menceritakan kisah penemuan kerangka tersebut di websitenya www.paleoshilling.nl.

Sama seperti website lain yang khusus diciptakan untuk viral marketing, setelah Shadow of the Colossus diluncurkan beberapa lama, baik website milik Belson maupun Shilling menghilang begitu saja dari dunia maya. Namun, karena kisahnya di copy paste ke berbagai blog, sekarang kita masih bisa mendapatkan foto-foto yang diposting oleh Shilling.

Mengenai raksasa Jebal Barez, kepala kerangka makhluk itu terlihat seperti sketsa di bawah ini:


Bandingkan dengan Colossi ketigabelas bernama Phalanx yang ada di game Shadow of the Colossus. Lihat kepalanya.


Mirip sekali.

Pada tanggal 6 Oktober berikutnya, Belson memposting mengenai laporan tv lokal India yang memberitakan mengenai penemuan sebuah kerangka raksasa yang terdampar di pantai Tamil Nadu setelah terjadinya Tsunami besar. Namun kisah ini sebenarnya dibuat untuk mempromosikan Colossi pertama,Valus. Kerangka tersebut memang dibuat berdasarkan karakter Valus.


Pada 10 Oktober, Belson memposting mengenai penemuan sebuah kerangka raksasa oleh penyelam Australia Ed Guyler di laut dalam di wilayah Australia. Guyler percaya kalau kerangka itu dulunya adalah milik seekor belut raksasa. Namun kisah ini sebenarnya dibuat untuk mempromosikan Colossi ketujuh, Hydrus, yang memang menyerupai belut raksasa.


Pada tanggal 21 Oktober, Belson memposting berita mengenai seorang ahli geologi bernama Arkady Simkin yang pergi ke Siberia untuk mencari minyak. Namun, ia malah menemukan bangkai raksasa yang disebutnya Taurus Major. Kisah ini sebenarnya dibuat untuk mempromosikan Colossi kedua, Quadratus.


Pada tanggal 18 November, Belson memposting mengenai keluarga Sayre yang ketika sedang berlibur di Peru tanpa sengaja menemukan sebuah patung raksasa yang mirip dengan salah satu robot transformer. Kisah ini malah dilengkapi dengan sebuah foto yang memperlihatkan sebuah hierogliph yang menunjukkan adanya ukiran patung tersebut. Padahal, kisah ini dibuat untuk mempromosikan Gaius, Colossi ketiga.


Pada tanggal 26 Desember, Belson memposting foto cuplikan koran mengenai penemuan hierogliph di Lusaka, Zambia, yang luar biasanya, memperlihatkan empat Colossi sedang bersama-sama.


Terlalu spektakuler dan sangat berbau hoax!

Pada pertengahan April 2006, blog Belson lenyap dari dunia maya. Pada akhir 2007, website milik Casper Shilling juga lenyap dari dunia maya. Saat itu, game Shadow of the Colossus telah menjadi blockbuster di seluruh dunia.

Dari enam kisah yang diposting Belson tersebut, hanya satu yang sepertinya lolos dan menjadi populer di Indonesia.

Viral Marketing yang dibuat untuk mempromosikan Shadow of the Colossus ini dianggap sebagai salah satu hoax online terbesar di dunia. Namun paling tidak, usaha ini tidak percuma karena penjualan game ini cukup baik sehingga masuk ke dalam daftar greatest hits Sony pada Agustus 2006.

Diantara kalian mungkin ada yang bertanya: "Brother enigma, apa keuntungan viral marketing seperti ini? Jika seseorang membaca kisah Jebal Barez, belum tentu orang akan mengkaitkannya dengan Shadow of the Colossus. Jadi apa untungnya bagi game tersebut?"

Disitulah jeniusnya. Justru tujuannya adalah supaya orang lain membongkar rekayasa ini. Contohnya seperti yang saya lakukan sekarang.

Jika kalian yang sedang membaca tulisan ini adalah seorang penggemar PlayStation dan belum pernah memainkan Shadow of the Colossus, saya yakin kalian akan segera pergi ke toko dan membeli CD gamenya. Dan hebatnya, saya tidak dibayar oleh Sony untuk menulis artikel ini.

Bukankah itu jenius namanya?

Sumber: xfile-enigma.blogspot.com, teamico.wikia.com, wikipedia)

Minggu, 26 Juni 2011

ANNUAL REPORTING REQUIREMENTS ON INTERNET

Nearly all nonprofit organizations that are tax-exempt are required to file an annual information return with the IRS. For most exempt organizations, the return is Form 990. Churches, small organizations, and certain other entities are not required to file. This return requires filing organizations to report a considerable amount of information, including gross revenues and expenses, assets and liabilities, expenses on a functional accounting basis, program service accomplishments, expenditures for political purposes, income-producing activities, and relationships with certain other organizations. Charitable organizations must also report information about compensation paid and any expenditures for lobbying. Thus, Internet activities are, as discussed in previous chapters, implicated here. For example, amounts expended for business, lobbying, and/or political activities conducted by means of the Internet must be calculated and reported.

One of the principal difficulties is the assigning of amounts of expenses to, or allocating expenses among, these activities. The IRS is in the process of determining whether there is sufficient interest in the nonprofit community in an electronic filing system (e-filing) for the annual information returns of tax-exempt organizations. Public comment on this subject has been sought.

The IRS observed that the information available to it suggests that the ability to file exempt organization returns electronically would reduce the filing burden of these organizations as well as provide easier and quicker access to information for users of return data. Studies show that 80 percent of these returns filed are prepared using software. The IRS manually inputs a large amount of return data that it and others use. The IRS noted that the returns filed by tax-exempt organizations are unique in several respects. They are filed by diverse organizations, ranging from volunteer membership organizations to complex hospital systems. In addition, they are primarily information returns rather than tax returns. As such, they typically include a significant amount of narrative text in addition to financial data. Another unique aspect of these returns is that most exempt organization information returns are subject to public disclosure. Finally, the returns assist with federal tax administration, state regulation, and public oversight of exempt organizations. The agency stated that the success of an e-filing system for tax-exempt organizations will depend on the extent to which these organizations can use it to fulfill reporting requirements and the extent to which various stakeholders can use it to satisfy their information needs. Accordingly, the IRS has requested comments from exempt organizations and all interested stakeholders on factors to be considered in developing an e-filing system.

The following questions were posed:
• Which Form 990 series returns should be introduced first, and why?
• What factors or concerns would encourage exempt organizations to file electronically?
• What factors or concerns would discourage exempt organizations from filing electronically?
• What could be done to address concerns that would discourage exempt organizations from filing electronically?
• How will your experience with any other IRS e-file program affect your decision to file your exempt organization returns electronically?
• Should the system be designed so organizations can use it to satisfy multiple filing or reporting requirements (such as state reporting requirements or grant reports)?
• What specific changes to the current Form 990 series of returns would facilitate e-filing of these forms?

Tax-exempt organizations and individuals authorized to submit comments on behalf of a specific organization were encouraged to include the following information to help ensure that the needs of various types of exempt organizations were met:
• The organization’s gross receipts and net assets
• Who (lawyer, accountant, employee, volunteer) prepares the organization’s returns • Form filed (such as 990, 990-EZ, or 990-PF)
• How the returns are prepared (tax return software, forms software, spreadsheets, and the like)
Practitioners were encouraged to provide the following information:
• Size of their organization (such as law firm, accounting firm, or sole practitioner)
• Reports prepared (such as Form 990, charitable solicitation, or grant request)
• Volume of reports prepared on an annual basis All other interested parties were encouraged to provide a statement explaining their interest in an e-filing system for exempt organization returns and any other information that would be useful in the development of such a system.

At a briefing on this development on March 13, 2002, the IRS said that, in the short term, the only alterations to be made to the Form 990 will be those necessary to convert the returns to an electronic format. Yet it was also noted that market research and analysis of the information currently requested on the returns may lead to substantive changes. As the IRS Director of Exempt Organizations exclaimed, the “information we’re gathering may be fabulously useful for revising the form down the road.”

Source: The Nonprofits’ Guide to Internet Communications Law. Bruce C. Hopkins. New Jersey: John Wiley & Sons. Inc

SCIENCE EDUCATION CHALLENGES

The science achievement of U.S. elementary and secondary students is uneven. The “nation’s report card,” the National Assessment of Educational Progress, shows that student science scores were stagnant between 1996 and 2005, and disparities in the performance of students of different races and socioeconomic status persisted (Grigg, Lauko, and Brockway, 2006). On the 2006 science test of the Program for International Student Assessment (PISA), U.S. 15-year-olds scored below the average among 30 industrialized nations (Organisation for Economic Co-operation and Development, 2007).

These trends are worrisome for two reasons. First, some of today’s science students will become the next generation of scientists, engineers, and technical workers, creating the innovations that fuel economic growth and international competitiveness (U.S. President, 2009; National Academy of Sciences, National Academy of Engineering, and Institute of Medicine, 2007). A lack of high-achieving science students today could constrain the future scientific and technical workforce. Second, today’s science students will become tomorrow’s citizens, who will require understanding of science and technology to make informed decisions about critical social scientific issues, ranging from global warming to personal medical treatments. Adults in the United States have a naïve understanding of science concepts and the nature of science (National Research Council, 2007b; Pew Research Center and American Association for the Advancement of Science, 2009), and the uneven science achievement of current K-12 students threatens to
perpetuate this problem.

U.S. students’ limited science knowledge results partly from a lack of interest in science and motivation to persist in mastering difficult science concepts, and this lack of interest in, in turn, is related to current approaches to science education (National Research Council, 2005b, 2007a). Although young children come to school with innate curiosity and intuitive ideas about the world around them, science classes rarely tap this potential. In elementary and secondary science classrooms, students often spend time memorizing discrete science facts, rather than developing deep conceptual understanding.

Partly because of a focus on improving student performance on high-stakes accountability tests, science classes typically provide students with few opportunities to conduct investigations, directly observe natural phenomena, or work to formulate scientific explanations for these  phenomena (Banilower, et al., 2008; National Research Council, 2005b).

Over time, students no longer see science as connected to the real world and lose interest in the subject, especially as they move from elementary to middle school (Cavallo and Laubach, 2001; Cohen-Scali, 2003; Gibson and Chase, 2002; Ma and Wilkins, 2002). Within this overall pattern, girls, minorities, students from single-parent homes, and students living in poor socioeconomic conditions generally have more negative perceptions of science than do boys, whites, students from two-parent families, and students with high socioeconomic status (Barman, 1999; Blosser, 1990; Ma and Ma, 2004; Ma and Wilkins, 2002). Among middle and high school students responding to a recent national survey, only half viewed science as important for success in high school and college, and only about 20 percent expressed interest in a science career (Project Tomorrow and PASCO Scientific, 2008).

World Wide Web in General: Basic Knowledge to learn Internet

The Web has become the premier feature of the Internet. It offers vast amounts of information in easily accessible text and graphics format. For this reason, it is appealing to almost any user, regardless of purpose. The Web is viewed through a browser. As noted, a browser is software that allows the user to gain access to the Web. Information on the Web is organized in collections of pages. Each page has its own unique address—its URL (uniform resource locator). In order to access an item of information, its location must be known. The addressing system for the Web is similar to a street address. Each address has a URL. The URL tells the computer what type of protocol is being used, where the site is located, and what type of site it is.

For example, the address http://www.whitehouse.gov brings the user to the Web site for the White House. A Web address is made up of several parts. The first part tells the computer what type of protocol to use to access the site. It is similar to a long-distance access code for the telephone. Many Web site addresses, such as the one for the White House, begin with http (Hypertext Transfer Protocol).The www, of course, stands for World Wide Web. The name of the site is whitehouse. The suffix .gov is the domain name for a government site.

The Web has thousands of sites that consist of a home page and additional pages in which the text may contain embedded hyperlinks to other sites. A hyperlink (or just plain link) is easily distinguishable from other text on the page because it appears in a different color and format, such as blue, underlined text. When a user points to a link and clicks on it with a mouse, the computer is instructed to go to the address embedded within that link and retrieve the document that is housed there. This new page of information may in itself have more links to other pages, so one can easily navigate—browse—from page to page by clicking on links. This activity, as even most newbie know, is commonly called surfing the Web or surfing the Net.

Source: The Nonprofits’ Guide to Internet Communications Law. Bruce C. Hopkins. New Jersey: John Wiley & Sons. Inc

Tanpa Gelar Lagi Indonesia?

Promosi dan dukungan supporter besar-besaran terhadap para pemain timnas merah putih di ajang Djarum Indonesia Open Super Series rupanya belum cukup untuk membawa Indonesia juara. Ya, Indonesia lagi-lagi gagal juara di kandangnya sendiri pada partai final yang dihelat hari ini, Minggu, 26 Juni 2011. Dua wakil Indonesia di sektor ganda campuran dan ganda putri dipaksa takluk oleh lawan-lawannya. Kebetulan, lawan mereka sama-sama berasal dari China, musuh bebuyutan Indonesia di ajang bulutangkis selama ini.


Sejak beberapa tahun terakhir, para pemain Indonesia selalu kalah dan hanya mampu menjadi bayang-bayang para pemain China yang mendominasi seluruh sektor di perbulutangkisan dunia. Padahal, jika melihat dari faktor sejarah Indonesia pernah memiliki pemain-pemain bulutangkis hebat yang telah terbukti menjadi juara dunia. Pemain-pemain tersebut dimulai sejak generasi Liem Swie King, Rudy Hartono, Ivana Lie, Haryanto Arbi, Alan Budikusuma, Susi Susanti, Ricky Subagja/Rexy Mainaky, hingga Taufik Hidayat. Namun kita telah tenggelam dalam masa lalu kita, terlena dengan kejayaan bulutangkis di masa lampau, hingga tak mampu berbuat banyak melawan dominasi China.

Di partai final yang ditonton jutaan pasang mata di seluruh Indonesia, kita dipaksa melihat keunggulan para pemain China. Pada partai pembuka, pasangan ganda putra Cai Yun/Fu Haifeng sukses mengatasi rekan senegaranya pada partai All Chinese Final ini. Lalu partai kedua adalah partai tunggal putri antara Saina Nehwal asal India melawan Wang Yihan (China) dan lagi-lagi pemain China memenangkan pertandingan ini. Partai ketiga mempertemukan tanggal putra terbaik saat ini, Lee Chong Wei (Malaysia) melawan tanggal putra wakil Denmark, Peter Gade. Chong Wei menang mudah di game ini.
Sebenarnya Indonesia memiliki peluang merebut gelar ketika partai keempat digelar dengan mempertemukan Vita Marissa/Nadya Melati melawan ganda putri China, He Hanbin/Yu Yang. Sayangnya Vita/Nadya menyerah straight set atas wakil China tersebut. Partai terakhir di final,sekaligus satu-satunya peluang terakhir bagi Indonesia kembali dimenangkan oleh China. Dengan begitu China sukses meraih 4 gelar dalam Indonesia Open kali ini. Di partai kelima tersebut, Thontowi Ahmad/Lilyana Natsir dipaksa menyerah dalam 3 game, 22-20, 14-21, dan 9-21. Impian masyarakat Indonesia untuk menyaksikan pemain Indonesia menjadi nomor satu kembali kandas.
Inilah kali kedua beruntun para pemain Indonesia gagal mengangkat gelar di negerinya sendiri. Apakah faktor mental penyebabnya? Atau beban dari para penonton begitu berat? Atau pemain kita masih kalah teknik dari pemain-pemain China? Dalam partai final, mental lah yang paling menentukan. Lilyana Natsir sendiri menyatakan kesiapan dan faktor mental akan sangat berpengaruh di final saat diwawancarai oleh Trans7. Apakah ia telah sadar bahwa dirinya belum cukup siap di laga final? Atau ia hanya berusaha menenangkan diri menghadapi ekspektasi pendukung yang begitu tinggi? Kita takkan pernah tahu.
Dalam setiap pertandingan olahraga, tekanan demi tekanan selalu muncul. Diperlukan tidak hanya fisik yang prima tetapi juga mental baja. Terutama di partai puncak. Kadang mental dan sedikit keberuntungan bisa sangat berpengaruh terhadap hasil akhir. Terlepas dari itu semua, tugas berat menanti PBSI. Mampukah kita menghentikan dominasi China dan kembali merajai bulutangkis dunia? Saya percaya skuad bulutangkis yang kuat tidak mungkin dibangun dalam waktu singkat. Pembinaan, latihan yang intensif, dan keikutsertaan dalam berbagai kompetisi akan menempa para pemain Indonesia. Tidak cukup hanya pembinaan dan latihan fisik saja, tetapi pembinaan mental juga sangat diperlukan terutama bagi para pemain muda.
Sebagai contoh, tim-tim sepakbola di Liga Inggris mungkin memiliki porsi latihan fisik yang sama, fasilitas latihan yang sama, dan staf pelatih yang kualitasnya setara. Namun apa yang membedakan tim seperti Blackpool dengan tim sekelas Chelsea atau MU? Jawabannya, jelas motivasi dan suntikan moral yang berbeda dari manajernya. Seorang manajer kelas dunia, tentu memiliki pendekatan interpersonal dan mampu menyuntikkan semangat bagi timnya. Sama seperti timnas Indonesia dan timnas China. Saya yakin fasilitas latihan kita tidak jauh berbeda, begitu pula dengan porsi latihan fisik yang saya kira sepadan. Tetapi para pemain China lebih memiliki semangat, mental baja dan motivasi dibanding pemain Indonesia. Faktor inilah yang harus diperhatikan PBSI dan seluruh insan bulutangkis Indonesia demi meningkatkan prestasi kita. Demi Indonesia satu, Indonesia maju!!

Media Digital di Indonesia Tumbuh Pesat



VIVAnews - Dalam World Economic Forum (WEF) for East Asia ke 20 di Jakarta, masa depan dunia media digital di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik lainnya merupakan salah satu hal yang juga ikut dibahas.

Selain di Indonesia, dalam perhelatan WEF kali ini juga diulas seputar masa depan media digital di Asia Pasifik. Adapun partisipan yang terlibat dalam diskusi media digital ini berasal dari dalam dan luar Indonesia.
Dari luar Indonesia, peserta yang ikut terlibat anatara lain adalah perwakilan dari Yahoo, UBM, CBN, Facebook, Internet Society dan lain-lain. Sedangkan dari Indonesia diwakili Visi Media Asia, group Para dan First Media.

"Dalam sesi ini, delegasi Indonesia melihat perkembangan di sektor media digital khususnya media sosial atau social media yang sangat besar," kata Menteri Perekonomian Hatta Rajasa, 13 Juni 2011. “Perkembangannya juga sangat pesat,” ucapnya.

Pesatnya perkembangan sosial media dalam beberapa tahun belakangan, kata Hatta, dapat dilihat dari bagaimana Indonesia telah menjadi pengguna Facebook kedua terbesar di dunia.

“Penetration rate-nya besar. Penggunaan internet juga terus meningkat,” kata Hatta. “Kini kita juga terus meningkatkan penetrasi broadband dengan membangun sebanyak mungkin infrastruktur ICT,” ucapnya.

Dalam hal informasi dan teknologi, kata Hatta, kita memerlukan investasi dalam bidang infrastruktur komunikasi yang nantinya berguna membantu meningkatkan akses data dan pertukaran informasi.

"Contoh proyek kerja sama yang telah dilakukan adalah pada proyek di Batam yang melibatkan negara-negara tertentu seperti Malaysia, Singapura dan Indonesia," kata Hatta.

Sumber: teknologi.vivanews.com

Kiat Pemasaran di Media Sosial


KOMPAS.com Media sosial atau situs jejaring sosial semacam Facebook, Twitter, dan Koprol sudah menjadi lebih dari sekadar ajang berteman. Media sosial juga bisa berfungsi sebagai media membangun kepedulian dan memasarkan produk. Lalu, bagaimana cara memanfaatkan media sosial untuk tujuan itu?
Danny Wirianto, Chief Marketing Officer KasKus, forum internet terbesar di Tanah Air, mengungkapkan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memulai pemasaran di media sosial. Pertama, kata Danny, "Read before write." Artinya, proses pemasaran lewat media sosial harus didahului dengan riset.
Riset akan mengefektifkan mekanisme pemasaran yang dilakukan. Riset bisa berkisar tentang karakter pengguna media sosial, misalnya dengan melihat cara komunikasi dan apa yang dikomunikasikan dalam media itu.

"Kenali apa yang mereka bicarakan," kata Danny. "Setelah tahu, lalu buat analisis. Susun strategi kecil dan lemparkan. Lakukan inception, persis seperti yang ada di film Inception itu," papar Danny dalam ajang SparxUp Seminar bertema "Understanding Social Media 2011" di Jakarta, pekan lalu.

Untuk melakukannya, berbagai cara bisa diaplikasikan. Danny mencontohkan satu langkah yang bisa diterapkan. Caranya, mengomunikasikan secara personal sehingga produk baru seolah dianggap rahasia. Dengan cara itu, orang akan dianggap istimewa.

"Informasi yang tadinya dianggap rahasia nantinya pasti malah disebarkan. Untungnya ada pada kita. Secara tidak langsung kita berhasil menyebarkan berita tentang produk kita," kata Danny. Setelah itu, lihat apa yang terjadi. Kalau enggak berhasil, ubah strateginya.

Dalam pemasaran lewat media sosial, dia juga menggarisbawahi bahwa setiap media sosial unik. Jadi, cara pemasaran di setiap media sosial mesti memiliki strategi yang berbeda sesuai dengan karakter penggunanya. "Jangan pukul rata. Jadi, kalau di Facebook, misalnya, jangan lalu pasang hasil scan pamflet promosi dan di-tag ke banyak nama. Kalau caranya seperti itu, pasti akan diabaikan oleh pengguna," papar Danny.
Sementara itu, Danny juga mengemukakan pentingnya membangun engagement (keterikatan) dengan konsumen. Hal ini berguna untuk mempertahankan relasi dengan konsumen, membangun kepercayaan dan loyalitas produk. Dalam membangun engagement, memberi konsumen pengalaman bisa menjadi senjata. Ia mencontohkan aplikasi game yang digarap beberapa situs sebagai salah satu cara membangun engagement.

"Seperti jejaring sosial Facebook. Pengguna tidak pernah lupa karena pernah memainkan Farmville. Ini yang jadi satu nilai lebih untuk Facebook sekarang sehingga masih bisa bertahan," kata Danny.

Dalam skala yang lebih luas, media sosial bisa berfungsi sebagai media untuk melakukan engagement. Media sosial menjadi cara ampuh mengetahui isu-isu tentang produk yang beredar di masyarakat. "Kalau ada produk yang dijelekin, obrolannya pasti ada di social media. Jadi, pihak perusahaan harus seperti PR (humas), harus juga memantau social media, tidak hanya koran-koran besar," katanya.

Engagement bisa dilakukan dengan merespons secara cepat masalah yang muncul. Klarifikasi yang cepat dalam menangani masalah sangat berpengaruh pada citra produk.

Sumber:  http://tekno.kompas.com/read/2011/01/17/11475037/Kiat.Pemasaran.di.Media.Sosial

Puluhan Tablet Penantang iPad Bakal Unjuk Gigi


KOMPAS.com - Ajang Computex 2011, pameran produk teknologi informasi terbesar kedua di dunia yang digelar di Taipei, Taiwan, 31 Mei - 4 Juni 2011 akan diramaikan dengan puluhan tablet PC si penantang iPad. Tak heran, sebab sejak peluncuran iPad, semua vendor seperti berlomba untuk mendapatkan kue pasar dengan memproduksi tablet.
Berdasarkan laporan Taipei Computer Association yang dikutip The Economic Times, Minggu (29/5/2011), kurang lebih ada 50 jenis tablet yang akan unjuk gigi di pameran yang akan berlangsung selama lima hari itu. Beberapa tablet membawa nama brand besar, seperti yang diproduksi oleh Toshiba Corporation dan Lenovo Corporation. Brand penantang seperti MSI yang asli Taiwan juga akan muncul beberapa model pilihan.
Ramainya produk tablet bisa menjadi tanda pergeseran konsumsi masyarakat ke arah tablet daripada PC. Berdasarkan riset Gartner, prediksi penjualan PC pada tahun 2011 akan turun menjadi 10,5 persen dari 15,9 persen sebelumnya. Data IHS iSuppli juga meunjukkan bahwa distribusi PC turun 0,3 persen dari tahun ke tahun, menjadi hanya 8,1 juta pada kuartal pertama 2011.
Banyak analis mengatakan bahwa butuh waktu sekitar 2 - 3 tahun bagi perangkat lunak mobile device dari Google dan Microsoft untuk bisa mengejar iPad yang memiliki ribuan aplikasi yang bisa dipilih pengguna. Hal itu bisa jadi indikasi masa-masa berat bagi para produsen PC dalam jangka pendek.
Untuk pasar tablet sendiri, berdasarkan riset CDC, pada tahun 2010 Apple mendominasi pasar dengan market share 73 persen sementara Samsung meski pada posisi kedua tertinggal jauh dengan market share 17 persen. Total penjuualan tablet pada tahun 2010 sebanyak 18 juta dan diperkirakan tahun ini akan mencapai 50 juta unit.
Selain tablet, di ajang Computex 2011 juga akan dipamerkan server rumah dan korporat serta perlengkapan dan jasa cloud computing.

Sumber: tekno.kompas.com

MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA

Sebuah puisi karya: Taufiq Ismail
I.
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun
Terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku narasumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari US Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini

II.
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku terserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung d belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

III.
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang
curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki, anak perempuan, kemenakan, sepupu dan cucu dimanja
kuasa ayah, paman, kakek secara hancur-hancuran
seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan, senjata,
pesawat tempur, kapal selam, kedele, etrigu dan peuyeum dipotong
birokrasi lebih dari separuh masuk kantong jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden, menteri,
jenderal, sekjen dan dirjen sejati, agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-sangat-sangat-
sangat jelas penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun
bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan sandiwara yang
opininya bersilang tak habis dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual beli,
kabarnya dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta
secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam tekanan,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror
penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan yang
disetujui bersama,
Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita
tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagipula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di Indonesia ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat
terang-terangan di Aceh, Tanjung Priok, Lampung, Haur Koneng, Nipah,
Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan
sebagai saksi terang-etrangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam
di tumpukan jerami selepas menuai padi.

IV.
Langit akhlak rubuh, di aas negeriku etrserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung d belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

65TAHUN INDONESIA MERDEKA: PERJALANAN MELINTASI WAKTU

Kawan-kawanku, sebangsa dan setanah air, 2 bulan sebelum hari ulang tahun negara kita izinkanlah aku membuka beberapa lembaran lama sejarah kita dan izinkan aku pula menuliskan lembaran baru negara kita, Indonesia. Rasakan pula keresahan dan kegelisahanku yang tak kunjung usai menyaksikan nasib bangsa. Renungkanlah, Kawan, seberapa banyak yang kita ketahui dari negara kita sendiri? Seberapa dekat kita menegenalnya?Perlukah kita mempedulikan negara ini lagi? Negeri yang seakan telah melupakan rakyatnya karena disibukkan urusan pejabatnya.

Kawan-kawanku, 400 tahun yang lalu sebuah bangsa berambut jagung mengirimkan ekspedisi untuk mencari rempah-rempah hingga ke daerah-daerah baru termasuk Nusantara. Sebelumnya, dua bangsa serumpun, Spanyol dan Portugis lebih dulu menancapkan kukunya di Maluku dan Filipina. Tetangga kedua bangsa itu, yaitu Belanda tertarik datang kemari dan mulai menjajah bangsa kita. Sayangnya para penjajah itu sangat keterlaluan, mereka malah menginjak-injak harga diri bangsa kita dan mengadu domba para penguasa kerajaan.

Kawanku, masihkah kalian ingat wajah Van den Bosch yang tampan nan rupawan itu? Dibalik ketampanannya, ia tega menerapkan tanam paksa atau "cultuur stelsel" demi mengisi kas keuanganNegeri belanda. Teori bahwa "orang tampan tak selalu sopan dan dermawan" terbukti! Lalu ingatkah kalian pada Sir Thomas Stanford Raffles? Memang benar ia berjasa menuliskan sejarah Jawa pada buku karangannya "The History of Java"dan berjasa menamai bunga bangkai dengan namanya sendiri dan nama penelitinya (Rafflessia arnoldi). Tetapi apakah kalian tahu ia juga sangat "berjasa" mencekik bangsa kita lewat aturan pajak tanah? Ada juga Herman Willem Daendels, suruhan Kaisar Prancis, Napoleon Bonaparte-karena pada waktu itu Belanda di bawah pengaruh Prancis-yang memerintahkan pembuatan jalan raya Anyer-Panarukan sepanjang 1000km. Jalan yang hingga saat ini masih bisa kita lihat jejaknya.

Kawan-kawanku, seiring bergantinya waktu ada juga orang Belanda yang kasihan pada nasib bangsa Indonesia (Hindia Belanda namanya pada waktu itu). Adalah Van de Venter yang menggalakkan politik etis dan Multatuli, nama samaran Edward Douwes Dekker yang mengarangbuku "Max Havelaar" yang prihatin pada nasib kita. Edward Douwes Dekker inilah yang sering membuat rancu/bingung karena namanya hampir sama dengan nama keponakannya, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker/E.F.E Douwes Dekker yang mengganti namanya menjadi Danudirdja Setiabudi, salah satu tokoh pendiri Indische Partij.

Jika kalian masih ingat, Kawanku, bangsa kita pada masa itu tidak pasrah begitu saja menerima penjajahan. Selalu ada perlawanan dari tokoh-tokoh agama, pangeran-pangeran, dan raja-raja yang menentang kolonial Belanda. Ada Teuku Umar dan Cut Nya' Dien di Aceh, Tuanku Imam Bonjol dari Sumatera Barat, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari hingga Thomas Matulessy alias Pattimura yang asli Maluku. Sultan Agung di Mataram dan Sultan Ageng Tirtayasa yang memimpin Banten juga tidak tinggal diam. Mereka semua telah berjuang sekuat tenaga mengusir penjajah Belanda yang semakin hari semakin tak tahu diri.

Di awal abad ke-20 yang menjadi motor penggerak perlawanan terhadap para penjajah adalah kalangan pemuda terpelajar yang kemudian melahirkan Kebangkitan Nasional. R.A Kartini yang meninggal tahun 1904 saat usianya belum genap 25 tahun sebenarnya telah menuliskan ide kebangkitan nasional pada beberapa surat untuk kawannya di Belanda. Beliau juga telah membantu pertumbuhan nasionalisme di kalangan kaum wanita. Namun, kebangkitan tersebut baru bisa terealisasi saat Dr. Wahidin Sudirohusodo, Dr. Sutomo, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan kawan-kawan mendirikan Boedi Oetomo di ruang anatomi STOVIA pada 20 Mei 1908. Sejak saat itu, perlawanan rakyat Indonesia berubah dari yang semula sifatnya kedaerahan menjadi satu tujuan nasional yaitu kemerdekaan.

Saudaraku, Boedi Oetomo sukses menjadi tonggak awal kebangkitan nasional kita. Namun, jika kita mau mengingat,ternyata BO juga memelopori pendirian organisasi lain. Ada IndischeVereeniging/Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda dengan tokoh-tokoh macam Bung Hatta dan Ali Sastroamijoyo. Ada Indische Partij, Sarekat Dagang Islam, SarekatIslam, Parindra, PNI, Gerindo, dll. Para pemuda yang menjadi anggota organisasi diatas kemudian menyelenggarakan Kongres Pemuda I&II yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Masihkah kalian ingat pada Ki Hajar Dewantara yang pernah menulis pamflet berjudul "Als ik eens Nederlander was" (Andai aku seorang Belanda)? Ki Hajar pernah dibuang ke Belanda karena tulisannya tersebut dianggap membahayakan pemerintah kolonial Belanda dan menghasut rakyat. Namun di Belanda, idealisme beliau tidak pernah berubah, semangatnya tak pernah surut, bahkan ia menerbitkan surat kabar "Hindia Poetra" di Belanda!! Bung Karno yang berkali-kali diasingkan juga pernah terang-terangan mengkritik pemerintah kolonial.  Saat itu beliau mengajukan pembelaan (pledoi) yang berjudul "Indonesia Menggugat" ketika disidang di PN Bandung walaupun hakim kolonial tetap menjatuhkan hukuman penjara padanya dan ketiga tokoh lainnya.

Kawan-kawanku, penjajah Belanda tak selamanya di negara kita. Pada tanggal 8 Agustus 1942 Belanda menyerahkan daerah Nusantara pada Jepang. Bisa dibilang, Belanda telah takluk pada Jepang setelah kalah dalam Perang Laut Jawa. Jadilah kita negara jajahan Jepang yang terluas wilayahnya di Asia. Jika kalian selama ini hanya mendengar romusha sebagai bentuk penindasan rakyat, maka ingatlah kisah ini.

Para pelajar SMP dan SMA wajib mengikuti kinrohoshi (semacam kerja paksa) setiap minggu yang dimulai pukul 08.00-16.00. Pelajar di Yogyakarta bekerja di Maguwo (sekarang Lanud Adi Sucipto). Mereka hanya diberi satu kali istirahat, yaitu pada waktu makan siang.Makanannya berupa nasi putih kecoklatan yang keras, sayur, daging, dan garam sedikit. Setiap orang yang melakukan pelanggaran sedikit saja langsung dibawa ke markas Keinpetai untuk dihajar sampai babak belur. Banyak dokter-dokter muda yang disiksa Jepang karena tuduhan palsu atau tidak menaati peraturan mereka. Sedangkan para wanita muda yang tidak bekerja di pemerintahan semuanya dikumpulkan dan dikerahkan menjadi jugun ianfu (wanita penghibur) alias pelacur. Dalam asrama rumah bordil mereka harus rela digilir setiap 30 menit sekali untuk melayani anggota militer Jepang dan staf sipilnya. Terkadang mereka terlanjur hamil dan dipaksa aborsi oleh petugas di asrama mereka. Tak terbayangkan betapa menderita mereka yang tersiksa lahir batin sehingga sebagian dari jugun ianfu tersebut sakit dan meninggal karena stress.

Itulah sekelumit kisah sebagai peringatan kepada kita dan generasi penerus lainnya bahwa penjajah pernah berlaku sangat kejam pada bangsa kita. Bahwa para pahlawan gugur karena memiliki satu tekad untuk memerdekakan Indonesia. Kelanjutan kisah ini tak perlu kusampaikan lagi karena kita semua sudah tahu bahwa akhirnya, setelah melewati ujian begitu berat, bangsa Indonesia berhasil memproklamasikan diri sebagai negara merdeka dan berdaulat pada 17 Agustus 1945. Sekarang tugas kitalah mengisi kemerdekaan ini dan mengabdikan diri pada tanah air, bangsa, dan negara. MERDEKA!!

(dari berbagai sumber)

Catatan: tulisan ini merupakan repost dari note FB saya, dengan sedikit perubahan.

Liberalisme dan Neoliberalisme

LIBERALISME adalah paham yang menghendaki keamanan dan perdamaian yang mana kondisi tersebut akan tercapai jika aktor aktornya menggiatkan kerjasama. Example: kerjasama dalam perdagangan dan pertukaran teknologi dll. (Non-Govermental Organization dan Inter-Govermental Organization)

Liberalisme pasca perang dunia 2
1. LIBERALISME SOSIOLOGIS: Hubungan antar rakyat lebih kooperatif dibanding dengan pemerintah
2. LIBERALISME INTERDEPENDENSI: Aktor-aktor transnasional semakin penting, kekuatan militer kurang berguna, kesejahteraan bukan keamanan adalah tujuan dominan negara-negara
3. LIBERALISME INSTITUSIONAL: Institusional bertujuan untuk memajukan kerjasama diantara negara-negara dan mengurangi masalah yang berkenaan dengan ketidakpercayaan antar negara serta mengurangi ketakutan negara satu sama lain
4. LIBERALISME REPUBLIKAN: Negara2 demokrasi tidak berperang satu sama lain karena budaya domestiknya atas penyelesaian konflik secara damai, kerjasama ekonomi dan interdependensinya yang menguntungkan

Neoliberalisme
Neo-Liberalis dan Neo-Realis sama-sama menekankan struktur dalam sistem internasional, organisasi internasional merupakan hal yang mutlak bagi kerjasama namun keberadaannya sangat bergantung kepada negara. Neoliberalisme berusaha memperbarui liberalisme dengan menyetujui asumsi neorealis bahwa negara-negara adalah aktor-aktor kunci dalam hubungan internasional, tetapi tetap mempertahankan pendapat bahwa aktor-aktor bukan negara dan organisasi-organisasi antarpemerintah adalah juga penting.
Kaum neoliberal memandang adanya sebuah institusi ditujukan sebagai mediator atau perantara untuk mencapai kerjasama antara aktor di dalam sistem internasional. Keadaan saling tergantung satu sama lain yang terus meningkat selama dan sesudah Perang Dingin menyebabkan neoliberalisme didefinisikan sebagai institusionalisme.

Logika utama dan asumsi dasar:
• Aktor utama tidak hanya negara
• Sistem cenderung anarki
• Saling ketergantungan antarnegara
• Kerjasama yang saling menguntungkan
• Ekonomi dan perdagangan sebagai peredam konflik Perdebatan antara liberalisme vs realisme

Perdebatan antara liberal vs realis 
Terjadi sekitar Perang dingin kedua berkenaan dengan sifat dasar manusia. Liberal mengambil pandangan positif dan realis cenderung negatif yang melihat manusia itu jahat. HANS MORGENTHAU mengkritik liberal dengan substansi “Anda telah salah memahami politik sebab anda telah salah memperkirakan sifat manusia”(waltz 1959 :40)
• Realis: tidak progresif terhadap sejarah. Bahwasanya negara tetap negara meskipun ada perubahan sejarah yang mana selalu hidup dalam sistem anarki yang tidak berubah.
• Liberal: sejarah = potential progresif
• Neorealis memandang bahwa liberal cenderung hidup sejak dulu tanpa mencegah konflik kekerasan diantara negara-negara
Collective Security
• Adalah Kejadian yang terjadi pada suatu negara misalnya isu keamanan juga menjadi perhatian negara lain dan oleh karena itu negara secara kolektif mesti berkumpul untuk mengatasinya.
• Ini membentuk norma keamanan kolektif yang melatarbelakangi pentingnya untuk mendirikan suatu pemerintah dunia dan insitusi internasional untuk memfasilitasi konflik kepentingan yang ada

Catatan: tulisan ini dibuat berdasarkan hasil kerja kelompok atas tugas presentasi yang diberikan dosen kami. Oleh karena itu, hargai pikiran dan hasil karya orang lain dengan menyertakan sumber. Terima kasih

Theories of International Integration and Cooperation: IR’s matter

Sejarah teori ini muncul pasca Perang Dunia II. Berkembang di Eropa, diawali dengan terbentuknya European Steel and Coal Community (Komunitas Batubara dan Baja Eropa) pada 1951. Tujuan jangka panjang adalah sebagai upaya mengurangi konflik. Sedangkan untuk jangka pendek sebagai resolusi konflik.
Definisi Integrasi
  John Galtung: The creation of new actors
  Karl Deutsch: Turning previously separate entities into components of a coherent system
  Definisi : Integrasi adalah proses yang mengarah pada kondisi untuk membangun komunitas politik baru dan institusi supranasional/intergovernmental dengan menyerahkan sebagian kekuasaan negara.
Teori-teori Integrasi
        Supranasionalisme:
  1. Federalisme
  2. Fungsonalisme
  3. Neofungsionalisme
  4. Transaksionalisme
  5. Interdependensi Kompleks
      Intergovermentalisme
Fungsionalisme
      Dikemukakan oleh David Mitrany dalam buku “The Fuctional Approach to World organization” dan “A Working Peace System”.
      Definisi : integrasi dalam bidang – bidang non-politik yang diharapkan akan semakin meluas (spill-over) integrasinya apabila unit – unit yang terlibat mendapatkan keuntungan dan keterlibatannya dalam integrasi tersebut.
Neofungsionalisme
      Dikemukakan oleh Ernst Haas dalam tulisannya yang berjudul “The Uniting of Europe”
      Definisi : bentuk integrasi yang memerlukan beberapa prakondisi unutk mencapai komunitas Supra-nasional.
      Strategi ini menitik beratkan pada proses kerjasama dalam perumusan keputusan serta sikap para elit dalam memperhitungkan kemajuan menuju integrasi.
Intergovernmentalisme
      Ditulis oleh Stanley Hoffman dalam tulisan berjudul “Obstinate or Obsolete? The Fate of Nation-State and the Case of Western Europe”
      Muncul ketika proses integrasi Eropa terhambat akibat kebijakan Presiden Prancis, Charles de Gaulle pada   1960-an
      Hoffman à politik internasional adalah interaksi antar negara-negara yang punya kepentingan sendiri-sendiri
      Negara berusaha melindungi kedaulatan mereka dari sistem yang anarkis
      Namun, intergovernmentalisme mengakui:
            1. adanya kemugkinan kerjasama,
            2. norma yang mengatur politik internasional
            3. pengaruh politik domestik
      Kerjasama antarnegara mengubah sistem interaksi negara, tetapi tidak menghilangkan kedaulatan negara
      Integrasi terjadi ketika negara - negara berdaulat, yang punya national interest berbeda, bernegosiasi tentang suatu penjanjian kerjasama = INTERGOVERNMENTALISME
Regionalisme
      Para teoritisi regionalis mengajukan beberapa integrasi kawasan. Rogers D. Masters melihat integrasi dari struktur organisasi negara yang terlibat (dalam hal ini negara satu kawasan), struktur tersebut membentuk  mulai dari minimalis sampai yang paling besar.
      Perbedaan bentuk integrasi yang muncul setelah Perang Dunia II (old regionalism) dan yang banyak berkembang pada tahun 80-90 an (new regionalism).
Catatan: tulisan ini dibuat berdasarkan hasil kerja kelompok atas tugas presentasi yang diberikan dosen kami. Oleh karena itu, hargai pikiran dan hasil karya orang lain dengan menyertakan sumber. Terima kasih

CONSTRUCTIVISM: The Most Favourite Perspective for Me Ever

I’ve already worked hard to understand the perspectives used in the field of international relations. However, as I increase my study, I didn’t understand much of the theories or perspective. A big blow for me!! But constructivism is rather different. I don’t know whether I’ve fallen in love with constructivism or I was born to be constructivist?! Not to mention that at the very first I learned constructivism, I can easily understand the theory and the basic logics of it. Here I compile the perspective that would be my most favourite from the book that also I like most.

Constructivism is a distinctive approach to international relations that emphasises the social, or inter-subjective, dimension of world politics. Constructivists insist that international relations cannot be reduced to rational action and interaction within material constraints (as some realists claim) or within institutional constraints at the international and national levels (as argued by some liberal internationalists).

For constructivists, state interaction is not among fixed national interests, but must be understood as a pattern of action that shapes and is shaped by identities over time. In contrast to other theoretical approaches, social constructivism presents a model of international interaction that explores the normative influence of fundamental institutional structures and the connection between normative changes and state identity and interests. At the same time, however, institutions themselves are constantly reproduced and, potentially, changed by the activities of states and other actors. Institutions and actors are mutually conditioning entities.
According to constructivists, international institutions have both regulative and constitutive functions. Regulative norms set basic rules for standards of conduct by prescribing or proscribing certain behaviours. Constitutive norms define behaviour and assign meanings to that behaviour. Without constitutive norms, actions would be unintelligible. The familiar analogy that constructivists use to explain constitutive norms is that of the rules of a game, such as chess. Constitutive norms enable the actors to play the game and provide the actors with the knowledge necessary to respond to each other’s moves in a meaningful way.

States have a corporate identity that generates basic state goals, such as physical security, stability, recognition by others, and economic development. However, how states fulfil their goals depends upon their social identities, i.e. how states see themselves in relation to other states in international society. On the basis of these identities, states construct their national interests. Constructivists accept that anarchy is the characteristic condition of the international system, but argue that, by itself, it means nothing. For example, anarchy of friends is quite different from anarchy of enemies, but both are possible. What matters is the variety of social structures that is possible under anarchy. It is important to understand that states may have many different social identities that these can be cooperative or conflict, and that state interests vary accordingly. States define their interests in the process of interpreting the social situations in which they are participants. Thus, one might argue that the cold war relationship between the United States and the Soviet Union was a social structure wherein the two principals identified each other as enemies and defined their national interests regarding each other in antagonistic terms. When they no longer defined each other in these terms, the cold war ended.

Constructivism emphasises that the international system consists of social relationships as well as material capabilities. Indeed, social relationships give meaning to material capabilities. Inter-subjective systemic structures consist of the shared understandings, expectations, and social knowledge embedded in international institutions. It should be understood that by ‘institutions’, constructivists mean much more than actual organisations. Instead, they regard an ‘institution’ as a stable set or ‘structure’ of identities and interests. Institutions are fundamentally cognitive entities that do not exist apart from actors’ ideas about how the world works. Institutions and states therefore mutually constitute entities.

Institutions embody the constitutive and regulative norms and rules of international interaction; as such, they shape, constrain, and give meaning to state action and in part define what it is to be a state. At the same time, institutions continue to exist because states produce and reproduce them through practice. States usually assign meanings to social situations on the basis of institutionally defined roles. Constructivism suggests that state identities and interests – and how states relate to one another – can be altered at the systemic level through institutionally mediated interactions. Constructivists focus most of their attention on institutions that exist at a fundamental level of international society, such as international law, diplomacy, and sovereignty. However, regimes are also important.

Constructivists argue that these regimes also reproduce constitutive as well as regulative norms. They help to create a common social world for interpreting the meaning of behaviour. A regime’s proper functioning, however, also presupposes that the more fundamental institutions are already in place, making its activities possible. These regimes, therefore, do not create cooperation; they benefit from the cooperative effects of much deeper structures.

As a theoretical approach, constructivism is difficult to employ. Constructivism, for example, does not predict any particular social structure to govern the behaviour of states. Rather, it requires that a given social relationship be examined, articulated and, ultimately, understood. When this is done, then it may be possible to predict state behaviour within that particular structure. However, if these predictions prove false, it could be that the governing social structures were not properly understood or have simply changed. Thus, realist descriptions of the implications of anarchy proceed from an interpretation of international society as a Hobbesian ‘state of nature’. This is a description of a set of social relationships that give meaning to the material capabilities of states.

If constructivism’s utility as an explanatory theory remains unclear, it is still productive as a theoretical framework. How and why particular social structures and relationships develop among different states is a matter for historical research and analysis. Past interactions between states set the context for the present, and may produce fairly rigid identities and interests, but such an outcome is not inherent to the logic of the international political structure. The relationship between agents and structures is at the heart of the ‘agent–structure debate’ between constructivism and other schools of thought in the study of international relations.

Rabu, 29 Juni 2011

Global Problems

Kita menghadapi tantangan global baru, menghadapi permasalahan yang lebih kompleks dalam dunia yang semakin cepat berubah. Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa perubahan iklim dan pemanasan global sedang terjadi. Dan kita membutuhkan solusi yang komprehensif secepatnya karena waktu semakin menipis.
Indonesia sebagai negara terluas keempat di dunia memiliki peran yang besar dan wilayah yang begitu luas untuk diperhitungkan dalam tataran global. Ketika permerintah berusaha keras memecahkan problem-problem diatas, kita sebagai bagian dari masyarakat dunia juga harus berperan dan member kontribusi untuk menyelamatkan bumi kita. Salah satu penyebab utama global warming adalah penggunaan bahan bakar dari fosil, energy yang tak terbarukan dan sama sekali tidak ramah lingkungan.
We’re facing new global challenges, more complex and severe problems that has come into rapid-changing world. Like it or not, we must admit that global warming and climate change are exist. And we need a comprehensive solution as the clock ticking to us.
Indonesia as the fourth largest country in the world will have the big impact and very large area to be calculated on global system. As the government struggles to find the efforts which may reduce the impact of global warming, we, as the part of global community should contribute to save our earth. Any government’s programs would fail unless the society supports them and make things happen.
The very first reason behind global warming is the use of fossil fuel-non-renewable and absolutely non-eco friendly energy- it leads to slowly but sure unstoppable destructions of our mother earth. Nonetheless, we can’t imply and refuse that humans also take part on the today’s global warming or climate change. We can’t give up hands and say that we have no contribution on it. Indeed, we take the main part and also must take all responsibilities in restoring the world.
And what is the fossil fuel aim for? We’ve already knew it. The biggest user of fossil fuel products, such as gasoline, solar, gas, and diesel is transportation system. It is painfully hard to describe that almost all sorts of vehicle use the fuel. Cars, ships, motorbikes, planes, rails, trucks, and boats use the petrol as the main fuel, even when the hybrid and electric ones exist in the markets. The fossil-fueled vehicle still regarded as the main and most important. We cannot simply change or encourage people not to use their cars or their motorbikes because the vehicles are like the heart and lifeblood for them. We simply cannot convince the government to make a new rule or law that environmentally friendly at the same time, yet we can’t prove how important the changes. All we need is step by step, evolutionary not revolutionary changes, to make big impact to the future. And at the very first time we have to underline the message on the matter of transportation problem.


Fosil raksasa Jebal Barez - Salah satu hoax terbaik dunia maya

Pada Oktober 2005, seorang giantology bernama Eric Belson menceritakan mengenai seorang arkeolog Belanda bernama Casper Shilling yang menemukan kerangka makhluk raksasa yang muncul dari kuburannya setelah gempa besar melanda kota Bam, Iran. Kisah ini kemudian menjadi populer di Indonesia dan cukup menarik perhatian di dunia maya.


Para pembaca enigma sebenarnya telah menanyakan soal ini sejak enam bulan yang lalu. Dan saya kembali mendapatkan pertanyaan mengenai penemuan ini beberapa hari yang lalu. Jadi, saya ingin mengklarifikasi berita ini supaya semuanya menjadi jelas.

Walaupun berita mengenai penemuan kerangka itu pertama kali muncul pada tahun 2005, kisah misterius ini baru populer di Indonesia pada tahun 2008 hingga sekarang. Ini cuplikan berita yang beredar di Indonesia:

"Sebuah Fosil makhluk hidup berukuran raksasa (atau bahkan mungkin ultra) yang ditemukan di kawasan Jebal Barez ini sangatlah mengagumkan. Menurut para peneliti, mungkin inilah hewan purba terbesar yang pernah eksis didunia pada masa lalu, ukuran kepalanya saja bisa mencapai panjang 26 meter dengan ketinggian 8 meter!!!"


"Diperkirakan, fosil tersebut mungkin muncul akibat adanya gempa Bumi yang melanda Iran pada 26 Desember 2003 lalu. Reruntuhan batuan akibat gempa bumi di Jebal Barez telah membuka fosil tersebut, yang selama berjuta-juta tahun terkubur didalam bukit-bukit tandus berbatu."

"Tim satuan Kepurbakalaan Iran yang bertanggung jawab penuh atas penggalian sepakat. Mereka menegaskan bahwa ini merupakan kerangka hewan raksasa tunggal, mungkin salah satu hewan purba berjalan melata. Ukurannyapun lebih besar daripada jenis-jenis Dinosaurus yang pernah ada sebelumnya. Tetapi, apakah hewan ini termasuk dalam jajaran Dinosaurus atau bukan, itulah yang belum bisa diterangkan.

"Mungkin inilah yang disebut sebagai kemustahilan Biologis. Setidaknya, kira-kira perlu bertahun-tahun bagi para ahli arkeologi dan paleontologi untuk mengetahui secara pasti mengenai identitas makhluk misterius tersebut."


Nah, sekarang pertanyaannya adalah: Apakah kerangka yang disebut "kemustahilan biologis" tersebut benar-benar ada? Apakah penemuan itu benar-benar terjadi?

Jawabannya adalah: Tidak.

Untuk mendapatkan jawaban ini, tidak butuh analisa yang rumit. Jika kita googling mengenai kerangka Jebal Barez, maka kita akan segera mendapatkan jawabannya.

Kisah penemuan beserta foto yang ditampilkan ini sebenarnya hanyalah bagian dari sebuah viral marketing yang dikerjakan oleh Glenn Sanders dari perusahaan Tequila yang bekerjasama dengan Viral Factory.

Kalian yang menggemari Playstation pasti akan menyukai ini. Soalnya, kisah ini dbuat untuk mempromosikan game "Shadow of the Colossus" dari PS2. Glenn Sanders memang disewa oleh Sony untuk mengerjakan kampanye Viral Marketing ini.

Game ini menceritakan mengenai seorang pemuda yang bernama Wander yang melakukan perjalanan panjang dengan kudanya untuk menyelamatkan seorang gadis. Untuk mencapai tujuannya itu, ia harus berhasil mengalahkan 16 raksasa yang disebut Colossi.

Aspek yang cukup menarik dari kisah ini adalah bagaimana sebuah proses marketing dilakukan dengan jenius (atau serius). Perlu diketahui kalau untuk mempromosikan game ini, Glenn tidak hanya menciptakan kisah penemuan kerangka Jebal Barez, ia juga menciptakan banyak kisah lainnya. Saya akan memberikan beberapa saja sebagai contohnya.

Mari kita lihat bagaimana proses viral marketing ini dilakukan sehingga membawa kesuksesan besar bagi Shadow of the Colossus.

Pertama, Glenn menciptakan seorang tokoh bernama Eric Belson yang meluncurkan sebuah blog yang beralamat di giantology.typepad.com. Di blog itu, ia memberikan banyak data mengenai penemuan kerangka-kerangka raksasa di seluruh dunia. Belson mengklaim dirinya sebagai seorang giantology(istilah yang dia ciptakan untuk menyebut bidang keilmuannya).

Pada tanggal 1 Oktober 2005, Belson mengumumkan kalau ia telah membeli domain giantology.net. Di domain barunya itu, ia memposting mengenai kerangka Jebal Barez pada tanggal 5 Oktober 2005.

Pada bulan itu juga game Shadow of the Colossus diluncurkan di Jepang dan Amerika Utara.

Disinilah muncul tokoh Casper Shilling, seorang arkeolog Belanda yang disebut Belson menemukan kerangka di Jebal Barez. Tentu saja, Shilling juga seorang tokoh fiktif. Shilling menceritakan kisah penemuan kerangka tersebut di websitenya www.paleoshilling.nl.

Sama seperti website lain yang khusus diciptakan untuk viral marketing, setelah Shadow of the Colossus diluncurkan beberapa lama, baik website milik Belson maupun Shilling menghilang begitu saja dari dunia maya. Namun, karena kisahnya di copy paste ke berbagai blog, sekarang kita masih bisa mendapatkan foto-foto yang diposting oleh Shilling.

Mengenai raksasa Jebal Barez, kepala kerangka makhluk itu terlihat seperti sketsa di bawah ini:


Bandingkan dengan Colossi ketigabelas bernama Phalanx yang ada di game Shadow of the Colossus. Lihat kepalanya.


Mirip sekali.

Pada tanggal 6 Oktober berikutnya, Belson memposting mengenai laporan tv lokal India yang memberitakan mengenai penemuan sebuah kerangka raksasa yang terdampar di pantai Tamil Nadu setelah terjadinya Tsunami besar. Namun kisah ini sebenarnya dibuat untuk mempromosikan Colossi pertama,Valus. Kerangka tersebut memang dibuat berdasarkan karakter Valus.


Pada 10 Oktober, Belson memposting mengenai penemuan sebuah kerangka raksasa oleh penyelam Australia Ed Guyler di laut dalam di wilayah Australia. Guyler percaya kalau kerangka itu dulunya adalah milik seekor belut raksasa. Namun kisah ini sebenarnya dibuat untuk mempromosikan Colossi ketujuh, Hydrus, yang memang menyerupai belut raksasa.


Pada tanggal 21 Oktober, Belson memposting berita mengenai seorang ahli geologi bernama Arkady Simkin yang pergi ke Siberia untuk mencari minyak. Namun, ia malah menemukan bangkai raksasa yang disebutnya Taurus Major. Kisah ini sebenarnya dibuat untuk mempromosikan Colossi kedua, Quadratus.


Pada tanggal 18 November, Belson memposting mengenai keluarga Sayre yang ketika sedang berlibur di Peru tanpa sengaja menemukan sebuah patung raksasa yang mirip dengan salah satu robot transformer. Kisah ini malah dilengkapi dengan sebuah foto yang memperlihatkan sebuah hierogliph yang menunjukkan adanya ukiran patung tersebut. Padahal, kisah ini dibuat untuk mempromosikan Gaius, Colossi ketiga.


Pada tanggal 26 Desember, Belson memposting foto cuplikan koran mengenai penemuan hierogliph di Lusaka, Zambia, yang luar biasanya, memperlihatkan empat Colossi sedang bersama-sama.


Terlalu spektakuler dan sangat berbau hoax!

Pada pertengahan April 2006, blog Belson lenyap dari dunia maya. Pada akhir 2007, website milik Casper Shilling juga lenyap dari dunia maya. Saat itu, game Shadow of the Colossus telah menjadi blockbuster di seluruh dunia.

Dari enam kisah yang diposting Belson tersebut, hanya satu yang sepertinya lolos dan menjadi populer di Indonesia.

Viral Marketing yang dibuat untuk mempromosikan Shadow of the Colossus ini dianggap sebagai salah satu hoax online terbesar di dunia. Namun paling tidak, usaha ini tidak percuma karena penjualan game ini cukup baik sehingga masuk ke dalam daftar greatest hits Sony pada Agustus 2006.

Diantara kalian mungkin ada yang bertanya: "Brother enigma, apa keuntungan viral marketing seperti ini? Jika seseorang membaca kisah Jebal Barez, belum tentu orang akan mengkaitkannya dengan Shadow of the Colossus. Jadi apa untungnya bagi game tersebut?"

Disitulah jeniusnya. Justru tujuannya adalah supaya orang lain membongkar rekayasa ini. Contohnya seperti yang saya lakukan sekarang.

Jika kalian yang sedang membaca tulisan ini adalah seorang penggemar PlayStation dan belum pernah memainkan Shadow of the Colossus, saya yakin kalian akan segera pergi ke toko dan membeli CD gamenya. Dan hebatnya, saya tidak dibayar oleh Sony untuk menulis artikel ini.

Bukankah itu jenius namanya?

Sumber: xfile-enigma.blogspot.com, teamico.wikia.com, wikipedia)

Minggu, 26 Juni 2011

ANNUAL REPORTING REQUIREMENTS ON INTERNET

Nearly all nonprofit organizations that are tax-exempt are required to file an annual information return with the IRS. For most exempt organizations, the return is Form 990. Churches, small organizations, and certain other entities are not required to file. This return requires filing organizations to report a considerable amount of information, including gross revenues and expenses, assets and liabilities, expenses on a functional accounting basis, program service accomplishments, expenditures for political purposes, income-producing activities, and relationships with certain other organizations. Charitable organizations must also report information about compensation paid and any expenditures for lobbying. Thus, Internet activities are, as discussed in previous chapters, implicated here. For example, amounts expended for business, lobbying, and/or political activities conducted by means of the Internet must be calculated and reported.

One of the principal difficulties is the assigning of amounts of expenses to, or allocating expenses among, these activities. The IRS is in the process of determining whether there is sufficient interest in the nonprofit community in an electronic filing system (e-filing) for the annual information returns of tax-exempt organizations. Public comment on this subject has been sought.

The IRS observed that the information available to it suggests that the ability to file exempt organization returns electronically would reduce the filing burden of these organizations as well as provide easier and quicker access to information for users of return data. Studies show that 80 percent of these returns filed are prepared using software. The IRS manually inputs a large amount of return data that it and others use. The IRS noted that the returns filed by tax-exempt organizations are unique in several respects. They are filed by diverse organizations, ranging from volunteer membership organizations to complex hospital systems. In addition, they are primarily information returns rather than tax returns. As such, they typically include a significant amount of narrative text in addition to financial data. Another unique aspect of these returns is that most exempt organization information returns are subject to public disclosure. Finally, the returns assist with federal tax administration, state regulation, and public oversight of exempt organizations. The agency stated that the success of an e-filing system for tax-exempt organizations will depend on the extent to which these organizations can use it to fulfill reporting requirements and the extent to which various stakeholders can use it to satisfy their information needs. Accordingly, the IRS has requested comments from exempt organizations and all interested stakeholders on factors to be considered in developing an e-filing system.

The following questions were posed:
• Which Form 990 series returns should be introduced first, and why?
• What factors or concerns would encourage exempt organizations to file electronically?
• What factors or concerns would discourage exempt organizations from filing electronically?
• What could be done to address concerns that would discourage exempt organizations from filing electronically?
• How will your experience with any other IRS e-file program affect your decision to file your exempt organization returns electronically?
• Should the system be designed so organizations can use it to satisfy multiple filing or reporting requirements (such as state reporting requirements or grant reports)?
• What specific changes to the current Form 990 series of returns would facilitate e-filing of these forms?

Tax-exempt organizations and individuals authorized to submit comments on behalf of a specific organization were encouraged to include the following information to help ensure that the needs of various types of exempt organizations were met:
• The organization’s gross receipts and net assets
• Who (lawyer, accountant, employee, volunteer) prepares the organization’s returns • Form filed (such as 990, 990-EZ, or 990-PF)
• How the returns are prepared (tax return software, forms software, spreadsheets, and the like)
Practitioners were encouraged to provide the following information:
• Size of their organization (such as law firm, accounting firm, or sole practitioner)
• Reports prepared (such as Form 990, charitable solicitation, or grant request)
• Volume of reports prepared on an annual basis All other interested parties were encouraged to provide a statement explaining their interest in an e-filing system for exempt organization returns and any other information that would be useful in the development of such a system.

At a briefing on this development on March 13, 2002, the IRS said that, in the short term, the only alterations to be made to the Form 990 will be those necessary to convert the returns to an electronic format. Yet it was also noted that market research and analysis of the information currently requested on the returns may lead to substantive changes. As the IRS Director of Exempt Organizations exclaimed, the “information we’re gathering may be fabulously useful for revising the form down the road.”

Source: The Nonprofits’ Guide to Internet Communications Law. Bruce C. Hopkins. New Jersey: John Wiley & Sons. Inc

SCIENCE EDUCATION CHALLENGES

The science achievement of U.S. elementary and secondary students is uneven. The “nation’s report card,” the National Assessment of Educational Progress, shows that student science scores were stagnant between 1996 and 2005, and disparities in the performance of students of different races and socioeconomic status persisted (Grigg, Lauko, and Brockway, 2006). On the 2006 science test of the Program for International Student Assessment (PISA), U.S. 15-year-olds scored below the average among 30 industrialized nations (Organisation for Economic Co-operation and Development, 2007).

These trends are worrisome for two reasons. First, some of today’s science students will become the next generation of scientists, engineers, and technical workers, creating the innovations that fuel economic growth and international competitiveness (U.S. President, 2009; National Academy of Sciences, National Academy of Engineering, and Institute of Medicine, 2007). A lack of high-achieving science students today could constrain the future scientific and technical workforce. Second, today’s science students will become tomorrow’s citizens, who will require understanding of science and technology to make informed decisions about critical social scientific issues, ranging from global warming to personal medical treatments. Adults in the United States have a naïve understanding of science concepts and the nature of science (National Research Council, 2007b; Pew Research Center and American Association for the Advancement of Science, 2009), and the uneven science achievement of current K-12 students threatens to
perpetuate this problem.

U.S. students’ limited science knowledge results partly from a lack of interest in science and motivation to persist in mastering difficult science concepts, and this lack of interest in, in turn, is related to current approaches to science education (National Research Council, 2005b, 2007a). Although young children come to school with innate curiosity and intuitive ideas about the world around them, science classes rarely tap this potential. In elementary and secondary science classrooms, students often spend time memorizing discrete science facts, rather than developing deep conceptual understanding.

Partly because of a focus on improving student performance on high-stakes accountability tests, science classes typically provide students with few opportunities to conduct investigations, directly observe natural phenomena, or work to formulate scientific explanations for these  phenomena (Banilower, et al., 2008; National Research Council, 2005b).

Over time, students no longer see science as connected to the real world and lose interest in the subject, especially as they move from elementary to middle school (Cavallo and Laubach, 2001; Cohen-Scali, 2003; Gibson and Chase, 2002; Ma and Wilkins, 2002). Within this overall pattern, girls, minorities, students from single-parent homes, and students living in poor socioeconomic conditions generally have more negative perceptions of science than do boys, whites, students from two-parent families, and students with high socioeconomic status (Barman, 1999; Blosser, 1990; Ma and Ma, 2004; Ma and Wilkins, 2002). Among middle and high school students responding to a recent national survey, only half viewed science as important for success in high school and college, and only about 20 percent expressed interest in a science career (Project Tomorrow and PASCO Scientific, 2008).

World Wide Web in General: Basic Knowledge to learn Internet

The Web has become the premier feature of the Internet. It offers vast amounts of information in easily accessible text and graphics format. For this reason, it is appealing to almost any user, regardless of purpose. The Web is viewed through a browser. As noted, a browser is software that allows the user to gain access to the Web. Information on the Web is organized in collections of pages. Each page has its own unique address—its URL (uniform resource locator). In order to access an item of information, its location must be known. The addressing system for the Web is similar to a street address. Each address has a URL. The URL tells the computer what type of protocol is being used, where the site is located, and what type of site it is.

For example, the address http://www.whitehouse.gov brings the user to the Web site for the White House. A Web address is made up of several parts. The first part tells the computer what type of protocol to use to access the site. It is similar to a long-distance access code for the telephone. Many Web site addresses, such as the one for the White House, begin with http (Hypertext Transfer Protocol).The www, of course, stands for World Wide Web. The name of the site is whitehouse. The suffix .gov is the domain name for a government site.

The Web has thousands of sites that consist of a home page and additional pages in which the text may contain embedded hyperlinks to other sites. A hyperlink (or just plain link) is easily distinguishable from other text on the page because it appears in a different color and format, such as blue, underlined text. When a user points to a link and clicks on it with a mouse, the computer is instructed to go to the address embedded within that link and retrieve the document that is housed there. This new page of information may in itself have more links to other pages, so one can easily navigate—browse—from page to page by clicking on links. This activity, as even most newbie know, is commonly called surfing the Web or surfing the Net.

Source: The Nonprofits’ Guide to Internet Communications Law. Bruce C. Hopkins. New Jersey: John Wiley & Sons. Inc

Tanpa Gelar Lagi Indonesia?

Promosi dan dukungan supporter besar-besaran terhadap para pemain timnas merah putih di ajang Djarum Indonesia Open Super Series rupanya belum cukup untuk membawa Indonesia juara. Ya, Indonesia lagi-lagi gagal juara di kandangnya sendiri pada partai final yang dihelat hari ini, Minggu, 26 Juni 2011. Dua wakil Indonesia di sektor ganda campuran dan ganda putri dipaksa takluk oleh lawan-lawannya. Kebetulan, lawan mereka sama-sama berasal dari China, musuh bebuyutan Indonesia di ajang bulutangkis selama ini.


Sejak beberapa tahun terakhir, para pemain Indonesia selalu kalah dan hanya mampu menjadi bayang-bayang para pemain China yang mendominasi seluruh sektor di perbulutangkisan dunia. Padahal, jika melihat dari faktor sejarah Indonesia pernah memiliki pemain-pemain bulutangkis hebat yang telah terbukti menjadi juara dunia. Pemain-pemain tersebut dimulai sejak generasi Liem Swie King, Rudy Hartono, Ivana Lie, Haryanto Arbi, Alan Budikusuma, Susi Susanti, Ricky Subagja/Rexy Mainaky, hingga Taufik Hidayat. Namun kita telah tenggelam dalam masa lalu kita, terlena dengan kejayaan bulutangkis di masa lampau, hingga tak mampu berbuat banyak melawan dominasi China.

Di partai final yang ditonton jutaan pasang mata di seluruh Indonesia, kita dipaksa melihat keunggulan para pemain China. Pada partai pembuka, pasangan ganda putra Cai Yun/Fu Haifeng sukses mengatasi rekan senegaranya pada partai All Chinese Final ini. Lalu partai kedua adalah partai tunggal putri antara Saina Nehwal asal India melawan Wang Yihan (China) dan lagi-lagi pemain China memenangkan pertandingan ini. Partai ketiga mempertemukan tanggal putra terbaik saat ini, Lee Chong Wei (Malaysia) melawan tanggal putra wakil Denmark, Peter Gade. Chong Wei menang mudah di game ini.
Sebenarnya Indonesia memiliki peluang merebut gelar ketika partai keempat digelar dengan mempertemukan Vita Marissa/Nadya Melati melawan ganda putri China, He Hanbin/Yu Yang. Sayangnya Vita/Nadya menyerah straight set atas wakil China tersebut. Partai terakhir di final,sekaligus satu-satunya peluang terakhir bagi Indonesia kembali dimenangkan oleh China. Dengan begitu China sukses meraih 4 gelar dalam Indonesia Open kali ini. Di partai kelima tersebut, Thontowi Ahmad/Lilyana Natsir dipaksa menyerah dalam 3 game, 22-20, 14-21, dan 9-21. Impian masyarakat Indonesia untuk menyaksikan pemain Indonesia menjadi nomor satu kembali kandas.
Inilah kali kedua beruntun para pemain Indonesia gagal mengangkat gelar di negerinya sendiri. Apakah faktor mental penyebabnya? Atau beban dari para penonton begitu berat? Atau pemain kita masih kalah teknik dari pemain-pemain China? Dalam partai final, mental lah yang paling menentukan. Lilyana Natsir sendiri menyatakan kesiapan dan faktor mental akan sangat berpengaruh di final saat diwawancarai oleh Trans7. Apakah ia telah sadar bahwa dirinya belum cukup siap di laga final? Atau ia hanya berusaha menenangkan diri menghadapi ekspektasi pendukung yang begitu tinggi? Kita takkan pernah tahu.
Dalam setiap pertandingan olahraga, tekanan demi tekanan selalu muncul. Diperlukan tidak hanya fisik yang prima tetapi juga mental baja. Terutama di partai puncak. Kadang mental dan sedikit keberuntungan bisa sangat berpengaruh terhadap hasil akhir. Terlepas dari itu semua, tugas berat menanti PBSI. Mampukah kita menghentikan dominasi China dan kembali merajai bulutangkis dunia? Saya percaya skuad bulutangkis yang kuat tidak mungkin dibangun dalam waktu singkat. Pembinaan, latihan yang intensif, dan keikutsertaan dalam berbagai kompetisi akan menempa para pemain Indonesia. Tidak cukup hanya pembinaan dan latihan fisik saja, tetapi pembinaan mental juga sangat diperlukan terutama bagi para pemain muda.
Sebagai contoh, tim-tim sepakbola di Liga Inggris mungkin memiliki porsi latihan fisik yang sama, fasilitas latihan yang sama, dan staf pelatih yang kualitasnya setara. Namun apa yang membedakan tim seperti Blackpool dengan tim sekelas Chelsea atau MU? Jawabannya, jelas motivasi dan suntikan moral yang berbeda dari manajernya. Seorang manajer kelas dunia, tentu memiliki pendekatan interpersonal dan mampu menyuntikkan semangat bagi timnya. Sama seperti timnas Indonesia dan timnas China. Saya yakin fasilitas latihan kita tidak jauh berbeda, begitu pula dengan porsi latihan fisik yang saya kira sepadan. Tetapi para pemain China lebih memiliki semangat, mental baja dan motivasi dibanding pemain Indonesia. Faktor inilah yang harus diperhatikan PBSI dan seluruh insan bulutangkis Indonesia demi meningkatkan prestasi kita. Demi Indonesia satu, Indonesia maju!!

Media Digital di Indonesia Tumbuh Pesat



VIVAnews - Dalam World Economic Forum (WEF) for East Asia ke 20 di Jakarta, masa depan dunia media digital di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik lainnya merupakan salah satu hal yang juga ikut dibahas.

Selain di Indonesia, dalam perhelatan WEF kali ini juga diulas seputar masa depan media digital di Asia Pasifik. Adapun partisipan yang terlibat dalam diskusi media digital ini berasal dari dalam dan luar Indonesia.
Dari luar Indonesia, peserta yang ikut terlibat anatara lain adalah perwakilan dari Yahoo, UBM, CBN, Facebook, Internet Society dan lain-lain. Sedangkan dari Indonesia diwakili Visi Media Asia, group Para dan First Media.

"Dalam sesi ini, delegasi Indonesia melihat perkembangan di sektor media digital khususnya media sosial atau social media yang sangat besar," kata Menteri Perekonomian Hatta Rajasa, 13 Juni 2011. “Perkembangannya juga sangat pesat,” ucapnya.

Pesatnya perkembangan sosial media dalam beberapa tahun belakangan, kata Hatta, dapat dilihat dari bagaimana Indonesia telah menjadi pengguna Facebook kedua terbesar di dunia.

“Penetration rate-nya besar. Penggunaan internet juga terus meningkat,” kata Hatta. “Kini kita juga terus meningkatkan penetrasi broadband dengan membangun sebanyak mungkin infrastruktur ICT,” ucapnya.

Dalam hal informasi dan teknologi, kata Hatta, kita memerlukan investasi dalam bidang infrastruktur komunikasi yang nantinya berguna membantu meningkatkan akses data dan pertukaran informasi.

"Contoh proyek kerja sama yang telah dilakukan adalah pada proyek di Batam yang melibatkan negara-negara tertentu seperti Malaysia, Singapura dan Indonesia," kata Hatta.

Sumber: teknologi.vivanews.com

Kiat Pemasaran di Media Sosial


KOMPAS.com Media sosial atau situs jejaring sosial semacam Facebook, Twitter, dan Koprol sudah menjadi lebih dari sekadar ajang berteman. Media sosial juga bisa berfungsi sebagai media membangun kepedulian dan memasarkan produk. Lalu, bagaimana cara memanfaatkan media sosial untuk tujuan itu?
Danny Wirianto, Chief Marketing Officer KasKus, forum internet terbesar di Tanah Air, mengungkapkan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memulai pemasaran di media sosial. Pertama, kata Danny, "Read before write." Artinya, proses pemasaran lewat media sosial harus didahului dengan riset.
Riset akan mengefektifkan mekanisme pemasaran yang dilakukan. Riset bisa berkisar tentang karakter pengguna media sosial, misalnya dengan melihat cara komunikasi dan apa yang dikomunikasikan dalam media itu.

"Kenali apa yang mereka bicarakan," kata Danny. "Setelah tahu, lalu buat analisis. Susun strategi kecil dan lemparkan. Lakukan inception, persis seperti yang ada di film Inception itu," papar Danny dalam ajang SparxUp Seminar bertema "Understanding Social Media 2011" di Jakarta, pekan lalu.

Untuk melakukannya, berbagai cara bisa diaplikasikan. Danny mencontohkan satu langkah yang bisa diterapkan. Caranya, mengomunikasikan secara personal sehingga produk baru seolah dianggap rahasia. Dengan cara itu, orang akan dianggap istimewa.

"Informasi yang tadinya dianggap rahasia nantinya pasti malah disebarkan. Untungnya ada pada kita. Secara tidak langsung kita berhasil menyebarkan berita tentang produk kita," kata Danny. Setelah itu, lihat apa yang terjadi. Kalau enggak berhasil, ubah strateginya.

Dalam pemasaran lewat media sosial, dia juga menggarisbawahi bahwa setiap media sosial unik. Jadi, cara pemasaran di setiap media sosial mesti memiliki strategi yang berbeda sesuai dengan karakter penggunanya. "Jangan pukul rata. Jadi, kalau di Facebook, misalnya, jangan lalu pasang hasil scan pamflet promosi dan di-tag ke banyak nama. Kalau caranya seperti itu, pasti akan diabaikan oleh pengguna," papar Danny.
Sementara itu, Danny juga mengemukakan pentingnya membangun engagement (keterikatan) dengan konsumen. Hal ini berguna untuk mempertahankan relasi dengan konsumen, membangun kepercayaan dan loyalitas produk. Dalam membangun engagement, memberi konsumen pengalaman bisa menjadi senjata. Ia mencontohkan aplikasi game yang digarap beberapa situs sebagai salah satu cara membangun engagement.

"Seperti jejaring sosial Facebook. Pengguna tidak pernah lupa karena pernah memainkan Farmville. Ini yang jadi satu nilai lebih untuk Facebook sekarang sehingga masih bisa bertahan," kata Danny.

Dalam skala yang lebih luas, media sosial bisa berfungsi sebagai media untuk melakukan engagement. Media sosial menjadi cara ampuh mengetahui isu-isu tentang produk yang beredar di masyarakat. "Kalau ada produk yang dijelekin, obrolannya pasti ada di social media. Jadi, pihak perusahaan harus seperti PR (humas), harus juga memantau social media, tidak hanya koran-koran besar," katanya.

Engagement bisa dilakukan dengan merespons secara cepat masalah yang muncul. Klarifikasi yang cepat dalam menangani masalah sangat berpengaruh pada citra produk.

Sumber:  http://tekno.kompas.com/read/2011/01/17/11475037/Kiat.Pemasaran.di.Media.Sosial

Puluhan Tablet Penantang iPad Bakal Unjuk Gigi


KOMPAS.com - Ajang Computex 2011, pameran produk teknologi informasi terbesar kedua di dunia yang digelar di Taipei, Taiwan, 31 Mei - 4 Juni 2011 akan diramaikan dengan puluhan tablet PC si penantang iPad. Tak heran, sebab sejak peluncuran iPad, semua vendor seperti berlomba untuk mendapatkan kue pasar dengan memproduksi tablet.
Berdasarkan laporan Taipei Computer Association yang dikutip The Economic Times, Minggu (29/5/2011), kurang lebih ada 50 jenis tablet yang akan unjuk gigi di pameran yang akan berlangsung selama lima hari itu. Beberapa tablet membawa nama brand besar, seperti yang diproduksi oleh Toshiba Corporation dan Lenovo Corporation. Brand penantang seperti MSI yang asli Taiwan juga akan muncul beberapa model pilihan.
Ramainya produk tablet bisa menjadi tanda pergeseran konsumsi masyarakat ke arah tablet daripada PC. Berdasarkan riset Gartner, prediksi penjualan PC pada tahun 2011 akan turun menjadi 10,5 persen dari 15,9 persen sebelumnya. Data IHS iSuppli juga meunjukkan bahwa distribusi PC turun 0,3 persen dari tahun ke tahun, menjadi hanya 8,1 juta pada kuartal pertama 2011.
Banyak analis mengatakan bahwa butuh waktu sekitar 2 - 3 tahun bagi perangkat lunak mobile device dari Google dan Microsoft untuk bisa mengejar iPad yang memiliki ribuan aplikasi yang bisa dipilih pengguna. Hal itu bisa jadi indikasi masa-masa berat bagi para produsen PC dalam jangka pendek.
Untuk pasar tablet sendiri, berdasarkan riset CDC, pada tahun 2010 Apple mendominasi pasar dengan market share 73 persen sementara Samsung meski pada posisi kedua tertinggal jauh dengan market share 17 persen. Total penjuualan tablet pada tahun 2010 sebanyak 18 juta dan diperkirakan tahun ini akan mencapai 50 juta unit.
Selain tablet, di ajang Computex 2011 juga akan dipamerkan server rumah dan korporat serta perlengkapan dan jasa cloud computing.

Sumber: tekno.kompas.com

MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA

Sebuah puisi karya: Taufiq Ismail
I.
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun
Terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku narasumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari US Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini

II.
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku terserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung d belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

III.
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang
curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki, anak perempuan, kemenakan, sepupu dan cucu dimanja
kuasa ayah, paman, kakek secara hancur-hancuran
seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan, senjata,
pesawat tempur, kapal selam, kedele, etrigu dan peuyeum dipotong
birokrasi lebih dari separuh masuk kantong jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden, menteri,
jenderal, sekjen dan dirjen sejati, agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-sangat-sangat-
sangat jelas penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun
bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan sandiwara yang
opininya bersilang tak habis dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual beli,
kabarnya dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta
secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam tekanan,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror
penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan yang
disetujui bersama,
Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita
tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagipula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di Indonesia ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat
terang-terangan di Aceh, Tanjung Priok, Lampung, Haur Koneng, Nipah,
Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan
sebagai saksi terang-etrangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam
di tumpukan jerami selepas menuai padi.

IV.
Langit akhlak rubuh, di aas negeriku etrserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung d belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

65TAHUN INDONESIA MERDEKA: PERJALANAN MELINTASI WAKTU

Kawan-kawanku, sebangsa dan setanah air, 2 bulan sebelum hari ulang tahun negara kita izinkanlah aku membuka beberapa lembaran lama sejarah kita dan izinkan aku pula menuliskan lembaran baru negara kita, Indonesia. Rasakan pula keresahan dan kegelisahanku yang tak kunjung usai menyaksikan nasib bangsa. Renungkanlah, Kawan, seberapa banyak yang kita ketahui dari negara kita sendiri? Seberapa dekat kita menegenalnya?Perlukah kita mempedulikan negara ini lagi? Negeri yang seakan telah melupakan rakyatnya karena disibukkan urusan pejabatnya.

Kawan-kawanku, 400 tahun yang lalu sebuah bangsa berambut jagung mengirimkan ekspedisi untuk mencari rempah-rempah hingga ke daerah-daerah baru termasuk Nusantara. Sebelumnya, dua bangsa serumpun, Spanyol dan Portugis lebih dulu menancapkan kukunya di Maluku dan Filipina. Tetangga kedua bangsa itu, yaitu Belanda tertarik datang kemari dan mulai menjajah bangsa kita. Sayangnya para penjajah itu sangat keterlaluan, mereka malah menginjak-injak harga diri bangsa kita dan mengadu domba para penguasa kerajaan.

Kawanku, masihkah kalian ingat wajah Van den Bosch yang tampan nan rupawan itu? Dibalik ketampanannya, ia tega menerapkan tanam paksa atau "cultuur stelsel" demi mengisi kas keuanganNegeri belanda. Teori bahwa "orang tampan tak selalu sopan dan dermawan" terbukti! Lalu ingatkah kalian pada Sir Thomas Stanford Raffles? Memang benar ia berjasa menuliskan sejarah Jawa pada buku karangannya "The History of Java"dan berjasa menamai bunga bangkai dengan namanya sendiri dan nama penelitinya (Rafflessia arnoldi). Tetapi apakah kalian tahu ia juga sangat "berjasa" mencekik bangsa kita lewat aturan pajak tanah? Ada juga Herman Willem Daendels, suruhan Kaisar Prancis, Napoleon Bonaparte-karena pada waktu itu Belanda di bawah pengaruh Prancis-yang memerintahkan pembuatan jalan raya Anyer-Panarukan sepanjang 1000km. Jalan yang hingga saat ini masih bisa kita lihat jejaknya.

Kawan-kawanku, seiring bergantinya waktu ada juga orang Belanda yang kasihan pada nasib bangsa Indonesia (Hindia Belanda namanya pada waktu itu). Adalah Van de Venter yang menggalakkan politik etis dan Multatuli, nama samaran Edward Douwes Dekker yang mengarangbuku "Max Havelaar" yang prihatin pada nasib kita. Edward Douwes Dekker inilah yang sering membuat rancu/bingung karena namanya hampir sama dengan nama keponakannya, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker/E.F.E Douwes Dekker yang mengganti namanya menjadi Danudirdja Setiabudi, salah satu tokoh pendiri Indische Partij.

Jika kalian masih ingat, Kawanku, bangsa kita pada masa itu tidak pasrah begitu saja menerima penjajahan. Selalu ada perlawanan dari tokoh-tokoh agama, pangeran-pangeran, dan raja-raja yang menentang kolonial Belanda. Ada Teuku Umar dan Cut Nya' Dien di Aceh, Tuanku Imam Bonjol dari Sumatera Barat, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari hingga Thomas Matulessy alias Pattimura yang asli Maluku. Sultan Agung di Mataram dan Sultan Ageng Tirtayasa yang memimpin Banten juga tidak tinggal diam. Mereka semua telah berjuang sekuat tenaga mengusir penjajah Belanda yang semakin hari semakin tak tahu diri.

Di awal abad ke-20 yang menjadi motor penggerak perlawanan terhadap para penjajah adalah kalangan pemuda terpelajar yang kemudian melahirkan Kebangkitan Nasional. R.A Kartini yang meninggal tahun 1904 saat usianya belum genap 25 tahun sebenarnya telah menuliskan ide kebangkitan nasional pada beberapa surat untuk kawannya di Belanda. Beliau juga telah membantu pertumbuhan nasionalisme di kalangan kaum wanita. Namun, kebangkitan tersebut baru bisa terealisasi saat Dr. Wahidin Sudirohusodo, Dr. Sutomo, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan kawan-kawan mendirikan Boedi Oetomo di ruang anatomi STOVIA pada 20 Mei 1908. Sejak saat itu, perlawanan rakyat Indonesia berubah dari yang semula sifatnya kedaerahan menjadi satu tujuan nasional yaitu kemerdekaan.

Saudaraku, Boedi Oetomo sukses menjadi tonggak awal kebangkitan nasional kita. Namun, jika kita mau mengingat,ternyata BO juga memelopori pendirian organisasi lain. Ada IndischeVereeniging/Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda dengan tokoh-tokoh macam Bung Hatta dan Ali Sastroamijoyo. Ada Indische Partij, Sarekat Dagang Islam, SarekatIslam, Parindra, PNI, Gerindo, dll. Para pemuda yang menjadi anggota organisasi diatas kemudian menyelenggarakan Kongres Pemuda I&II yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Masihkah kalian ingat pada Ki Hajar Dewantara yang pernah menulis pamflet berjudul "Als ik eens Nederlander was" (Andai aku seorang Belanda)? Ki Hajar pernah dibuang ke Belanda karena tulisannya tersebut dianggap membahayakan pemerintah kolonial Belanda dan menghasut rakyat. Namun di Belanda, idealisme beliau tidak pernah berubah, semangatnya tak pernah surut, bahkan ia menerbitkan surat kabar "Hindia Poetra" di Belanda!! Bung Karno yang berkali-kali diasingkan juga pernah terang-terangan mengkritik pemerintah kolonial.  Saat itu beliau mengajukan pembelaan (pledoi) yang berjudul "Indonesia Menggugat" ketika disidang di PN Bandung walaupun hakim kolonial tetap menjatuhkan hukuman penjara padanya dan ketiga tokoh lainnya.

Kawan-kawanku, penjajah Belanda tak selamanya di negara kita. Pada tanggal 8 Agustus 1942 Belanda menyerahkan daerah Nusantara pada Jepang. Bisa dibilang, Belanda telah takluk pada Jepang setelah kalah dalam Perang Laut Jawa. Jadilah kita negara jajahan Jepang yang terluas wilayahnya di Asia. Jika kalian selama ini hanya mendengar romusha sebagai bentuk penindasan rakyat, maka ingatlah kisah ini.

Para pelajar SMP dan SMA wajib mengikuti kinrohoshi (semacam kerja paksa) setiap minggu yang dimulai pukul 08.00-16.00. Pelajar di Yogyakarta bekerja di Maguwo (sekarang Lanud Adi Sucipto). Mereka hanya diberi satu kali istirahat, yaitu pada waktu makan siang.Makanannya berupa nasi putih kecoklatan yang keras, sayur, daging, dan garam sedikit. Setiap orang yang melakukan pelanggaran sedikit saja langsung dibawa ke markas Keinpetai untuk dihajar sampai babak belur. Banyak dokter-dokter muda yang disiksa Jepang karena tuduhan palsu atau tidak menaati peraturan mereka. Sedangkan para wanita muda yang tidak bekerja di pemerintahan semuanya dikumpulkan dan dikerahkan menjadi jugun ianfu (wanita penghibur) alias pelacur. Dalam asrama rumah bordil mereka harus rela digilir setiap 30 menit sekali untuk melayani anggota militer Jepang dan staf sipilnya. Terkadang mereka terlanjur hamil dan dipaksa aborsi oleh petugas di asrama mereka. Tak terbayangkan betapa menderita mereka yang tersiksa lahir batin sehingga sebagian dari jugun ianfu tersebut sakit dan meninggal karena stress.

Itulah sekelumit kisah sebagai peringatan kepada kita dan generasi penerus lainnya bahwa penjajah pernah berlaku sangat kejam pada bangsa kita. Bahwa para pahlawan gugur karena memiliki satu tekad untuk memerdekakan Indonesia. Kelanjutan kisah ini tak perlu kusampaikan lagi karena kita semua sudah tahu bahwa akhirnya, setelah melewati ujian begitu berat, bangsa Indonesia berhasil memproklamasikan diri sebagai negara merdeka dan berdaulat pada 17 Agustus 1945. Sekarang tugas kitalah mengisi kemerdekaan ini dan mengabdikan diri pada tanah air, bangsa, dan negara. MERDEKA!!

(dari berbagai sumber)

Catatan: tulisan ini merupakan repost dari note FB saya, dengan sedikit perubahan.

Liberalisme dan Neoliberalisme

LIBERALISME adalah paham yang menghendaki keamanan dan perdamaian yang mana kondisi tersebut akan tercapai jika aktor aktornya menggiatkan kerjasama. Example: kerjasama dalam perdagangan dan pertukaran teknologi dll. (Non-Govermental Organization dan Inter-Govermental Organization)

Liberalisme pasca perang dunia 2
1. LIBERALISME SOSIOLOGIS: Hubungan antar rakyat lebih kooperatif dibanding dengan pemerintah
2. LIBERALISME INTERDEPENDENSI: Aktor-aktor transnasional semakin penting, kekuatan militer kurang berguna, kesejahteraan bukan keamanan adalah tujuan dominan negara-negara
3. LIBERALISME INSTITUSIONAL: Institusional bertujuan untuk memajukan kerjasama diantara negara-negara dan mengurangi masalah yang berkenaan dengan ketidakpercayaan antar negara serta mengurangi ketakutan negara satu sama lain
4. LIBERALISME REPUBLIKAN: Negara2 demokrasi tidak berperang satu sama lain karena budaya domestiknya atas penyelesaian konflik secara damai, kerjasama ekonomi dan interdependensinya yang menguntungkan

Neoliberalisme
Neo-Liberalis dan Neo-Realis sama-sama menekankan struktur dalam sistem internasional, organisasi internasional merupakan hal yang mutlak bagi kerjasama namun keberadaannya sangat bergantung kepada negara. Neoliberalisme berusaha memperbarui liberalisme dengan menyetujui asumsi neorealis bahwa negara-negara adalah aktor-aktor kunci dalam hubungan internasional, tetapi tetap mempertahankan pendapat bahwa aktor-aktor bukan negara dan organisasi-organisasi antarpemerintah adalah juga penting.
Kaum neoliberal memandang adanya sebuah institusi ditujukan sebagai mediator atau perantara untuk mencapai kerjasama antara aktor di dalam sistem internasional. Keadaan saling tergantung satu sama lain yang terus meningkat selama dan sesudah Perang Dingin menyebabkan neoliberalisme didefinisikan sebagai institusionalisme.

Logika utama dan asumsi dasar:
• Aktor utama tidak hanya negara
• Sistem cenderung anarki
• Saling ketergantungan antarnegara
• Kerjasama yang saling menguntungkan
• Ekonomi dan perdagangan sebagai peredam konflik Perdebatan antara liberalisme vs realisme

Perdebatan antara liberal vs realis 
Terjadi sekitar Perang dingin kedua berkenaan dengan sifat dasar manusia. Liberal mengambil pandangan positif dan realis cenderung negatif yang melihat manusia itu jahat. HANS MORGENTHAU mengkritik liberal dengan substansi “Anda telah salah memahami politik sebab anda telah salah memperkirakan sifat manusia”(waltz 1959 :40)
• Realis: tidak progresif terhadap sejarah. Bahwasanya negara tetap negara meskipun ada perubahan sejarah yang mana selalu hidup dalam sistem anarki yang tidak berubah.
• Liberal: sejarah = potential progresif
• Neorealis memandang bahwa liberal cenderung hidup sejak dulu tanpa mencegah konflik kekerasan diantara negara-negara
Collective Security
• Adalah Kejadian yang terjadi pada suatu negara misalnya isu keamanan juga menjadi perhatian negara lain dan oleh karena itu negara secara kolektif mesti berkumpul untuk mengatasinya.
• Ini membentuk norma keamanan kolektif yang melatarbelakangi pentingnya untuk mendirikan suatu pemerintah dunia dan insitusi internasional untuk memfasilitasi konflik kepentingan yang ada

Catatan: tulisan ini dibuat berdasarkan hasil kerja kelompok atas tugas presentasi yang diberikan dosen kami. Oleh karena itu, hargai pikiran dan hasil karya orang lain dengan menyertakan sumber. Terima kasih

Theories of International Integration and Cooperation: IR’s matter

Sejarah teori ini muncul pasca Perang Dunia II. Berkembang di Eropa, diawali dengan terbentuknya European Steel and Coal Community (Komunitas Batubara dan Baja Eropa) pada 1951. Tujuan jangka panjang adalah sebagai upaya mengurangi konflik. Sedangkan untuk jangka pendek sebagai resolusi konflik.
Definisi Integrasi
  John Galtung: The creation of new actors
  Karl Deutsch: Turning previously separate entities into components of a coherent system
  Definisi : Integrasi adalah proses yang mengarah pada kondisi untuk membangun komunitas politik baru dan institusi supranasional/intergovernmental dengan menyerahkan sebagian kekuasaan negara.
Teori-teori Integrasi
        Supranasionalisme:
  1. Federalisme
  2. Fungsonalisme
  3. Neofungsionalisme
  4. Transaksionalisme
  5. Interdependensi Kompleks
      Intergovermentalisme
Fungsionalisme
      Dikemukakan oleh David Mitrany dalam buku “The Fuctional Approach to World organization” dan “A Working Peace System”.
      Definisi : integrasi dalam bidang – bidang non-politik yang diharapkan akan semakin meluas (spill-over) integrasinya apabila unit – unit yang terlibat mendapatkan keuntungan dan keterlibatannya dalam integrasi tersebut.
Neofungsionalisme
      Dikemukakan oleh Ernst Haas dalam tulisannya yang berjudul “The Uniting of Europe”
      Definisi : bentuk integrasi yang memerlukan beberapa prakondisi unutk mencapai komunitas Supra-nasional.
      Strategi ini menitik beratkan pada proses kerjasama dalam perumusan keputusan serta sikap para elit dalam memperhitungkan kemajuan menuju integrasi.
Intergovernmentalisme
      Ditulis oleh Stanley Hoffman dalam tulisan berjudul “Obstinate or Obsolete? The Fate of Nation-State and the Case of Western Europe”
      Muncul ketika proses integrasi Eropa terhambat akibat kebijakan Presiden Prancis, Charles de Gaulle pada   1960-an
      Hoffman à politik internasional adalah interaksi antar negara-negara yang punya kepentingan sendiri-sendiri
      Negara berusaha melindungi kedaulatan mereka dari sistem yang anarkis
      Namun, intergovernmentalisme mengakui:
            1. adanya kemugkinan kerjasama,
            2. norma yang mengatur politik internasional
            3. pengaruh politik domestik
      Kerjasama antarnegara mengubah sistem interaksi negara, tetapi tidak menghilangkan kedaulatan negara
      Integrasi terjadi ketika negara - negara berdaulat, yang punya national interest berbeda, bernegosiasi tentang suatu penjanjian kerjasama = INTERGOVERNMENTALISME
Regionalisme
      Para teoritisi regionalis mengajukan beberapa integrasi kawasan. Rogers D. Masters melihat integrasi dari struktur organisasi negara yang terlibat (dalam hal ini negara satu kawasan), struktur tersebut membentuk  mulai dari minimalis sampai yang paling besar.
      Perbedaan bentuk integrasi yang muncul setelah Perang Dunia II (old regionalism) dan yang banyak berkembang pada tahun 80-90 an (new regionalism).
Catatan: tulisan ini dibuat berdasarkan hasil kerja kelompok atas tugas presentasi yang diberikan dosen kami. Oleh karena itu, hargai pikiran dan hasil karya orang lain dengan menyertakan sumber. Terima kasih

CONSTRUCTIVISM: The Most Favourite Perspective for Me Ever

I’ve already worked hard to understand the perspectives used in the field of international relations. However, as I increase my study, I didn’t understand much of the theories or perspective. A big blow for me!! But constructivism is rather different. I don’t know whether I’ve fallen in love with constructivism or I was born to be constructivist?! Not to mention that at the very first I learned constructivism, I can easily understand the theory and the basic logics of it. Here I compile the perspective that would be my most favourite from the book that also I like most.

Constructivism is a distinctive approach to international relations that emphasises the social, or inter-subjective, dimension of world politics. Constructivists insist that international relations cannot be reduced to rational action and interaction within material constraints (as some realists claim) or within institutional constraints at the international and national levels (as argued by some liberal internationalists).

For constructivists, state interaction is not among fixed national interests, but must be understood as a pattern of action that shapes and is shaped by identities over time. In contrast to other theoretical approaches, social constructivism presents a model of international interaction that explores the normative influence of fundamental institutional structures and the connection between normative changes and state identity and interests. At the same time, however, institutions themselves are constantly reproduced and, potentially, changed by the activities of states and other actors. Institutions and actors are mutually conditioning entities.
According to constructivists, international institutions have both regulative and constitutive functions. Regulative norms set basic rules for standards of conduct by prescribing or proscribing certain behaviours. Constitutive norms define behaviour and assign meanings to that behaviour. Without constitutive norms, actions would be unintelligible. The familiar analogy that constructivists use to explain constitutive norms is that of the rules of a game, such as chess. Constitutive norms enable the actors to play the game and provide the actors with the knowledge necessary to respond to each other’s moves in a meaningful way.

States have a corporate identity that generates basic state goals, such as physical security, stability, recognition by others, and economic development. However, how states fulfil their goals depends upon their social identities, i.e. how states see themselves in relation to other states in international society. On the basis of these identities, states construct their national interests. Constructivists accept that anarchy is the characteristic condition of the international system, but argue that, by itself, it means nothing. For example, anarchy of friends is quite different from anarchy of enemies, but both are possible. What matters is the variety of social structures that is possible under anarchy. It is important to understand that states may have many different social identities that these can be cooperative or conflict, and that state interests vary accordingly. States define their interests in the process of interpreting the social situations in which they are participants. Thus, one might argue that the cold war relationship between the United States and the Soviet Union was a social structure wherein the two principals identified each other as enemies and defined their national interests regarding each other in antagonistic terms. When they no longer defined each other in these terms, the cold war ended.

Constructivism emphasises that the international system consists of social relationships as well as material capabilities. Indeed, social relationships give meaning to material capabilities. Inter-subjective systemic structures consist of the shared understandings, expectations, and social knowledge embedded in international institutions. It should be understood that by ‘institutions’, constructivists mean much more than actual organisations. Instead, they regard an ‘institution’ as a stable set or ‘structure’ of identities and interests. Institutions are fundamentally cognitive entities that do not exist apart from actors’ ideas about how the world works. Institutions and states therefore mutually constitute entities.

Institutions embody the constitutive and regulative norms and rules of international interaction; as such, they shape, constrain, and give meaning to state action and in part define what it is to be a state. At the same time, institutions continue to exist because states produce and reproduce them through practice. States usually assign meanings to social situations on the basis of institutionally defined roles. Constructivism suggests that state identities and interests – and how states relate to one another – can be altered at the systemic level through institutionally mediated interactions. Constructivists focus most of their attention on institutions that exist at a fundamental level of international society, such as international law, diplomacy, and sovereignty. However, regimes are also important.

Constructivists argue that these regimes also reproduce constitutive as well as regulative norms. They help to create a common social world for interpreting the meaning of behaviour. A regime’s proper functioning, however, also presupposes that the more fundamental institutions are already in place, making its activities possible. These regimes, therefore, do not create cooperation; they benefit from the cooperative effects of much deeper structures.

As a theoretical approach, constructivism is difficult to employ. Constructivism, for example, does not predict any particular social structure to govern the behaviour of states. Rather, it requires that a given social relationship be examined, articulated and, ultimately, understood. When this is done, then it may be possible to predict state behaviour within that particular structure. However, if these predictions prove false, it could be that the governing social structures were not properly understood or have simply changed. Thus, realist descriptions of the implications of anarchy proceed from an interpretation of international society as a Hobbesian ‘state of nature’. This is a description of a set of social relationships that give meaning to the material capabilities of states.

If constructivism’s utility as an explanatory theory remains unclear, it is still productive as a theoretical framework. How and why particular social structures and relationships develop among different states is a matter for historical research and analysis. Past interactions between states set the context for the present, and may produce fairly rigid identities and interests, but such an outcome is not inherent to the logic of the international political structure. The relationship between agents and structures is at the heart of the ‘agent–structure debate’ between constructivism and other schools of thought in the study of international relations.