Entah
mengapa sejak kecil, aku selalu ingin berkunjung ke dua kota yang punya sejarah
panjang dengan etnis Cina tersebut. Mungkin salah satunya, karena masih ada
darah Cina dalam tubuhku. Ya, memang kakek dari pihak mama (ayahnya mamaku) adalah
keturunan Tionghoa. Sepupu jauhku pun masih sangat Chinese, sedangkan
aku ini berdarah campuran, Jawa-Bugis-Cina. Meskipun begitu, aku tetap tak
mengerti mengapa aku sangat ingin berkunjung kesana. Kedua kota itu telah
menarik minatku walau aku belum sekalipun kesana.
Semarang
Siapa
yang tak pernah mendengar kota Semarang? Kota yang terkenal akan lumpianya dan
menjadi ibukota provinsi Jawa Tengah. Orang Jateng pasti sangat bangga dengan
kota satu ini. Disinilah denyut nadi perekonomian Jawa Tengah, percampuran
berbagai etnis dan tentu saja pelabuhan Tanjung Mas berada. Aku begitu
terobsesi ke Semarang dan selalu excited setiap kali mendengar kata “Semarang”.
Padahal kata keluargaku yang pernah ke Semarang, kota itu panas dan sering
banjir. Ya tapi tentu saja itu tak menyurutkan semangatku kesana.
Tahun lalu,
aku sempat melewati kota ini kala malam hari. Saat itu, kami dalam perjalanan
pulang Studi Excursie “Road to Java” dari Jakarta dan Bandung. Pemandangan
Semarang saat malam hari begitu indah dan mempesona. Seakan sejuta
kunang-kunang menghambur menyinari atap-atap kota. Malam itu begitu hangat di
Semarang. Walau bus yang kutumpangi terus melaju, namun ingatanku tentang kota
itu tak pernah melaju, bahkan terus melekat dalam memori.
Jika nanti
aku benar-benar ke Semarang sudah ada beberapa tempat wisata yang ingin
kukunjungi. Rencananya, aku ingin ke Simpang Lima, melihat Tugu Muda yang
kesohor itu. Lalu ke Kota Tua Semarang, mengunjungi Gereja Blenduk, tak lupa
pula ingin sekali aku ke Klenteng Sam Po Kong. Di kota ini aku ingin
bernostalgia dengan sejarah, merasakan perubahan waktu, dan perpaduan budaya. Aku
ingin masuk ke dalam komunitas warga Semarang, terutama etnis Tionghoa dan
melihat interaksi mereka dengan etnis lainnya, terutama etnis Jawa. Memang,
sejarah dan geografi dari dulu telah menarik minatku. Lalu studi tentang
antropologi dan keberagaman etnis juga mengusik rasa keingintahuanku. Ah,
betapa indahnya Semarang dalam khayalanku. Akan lebih indah lagi bila nanti aku
mengunjunginya. Aku akan berusaha kesana. Semoga dalam waktu dekat ini.
Palembang
Palembang
identik dengan Sungai Musi dan pempeknya. Ya, memang kedua hal itu yang menarik
perhatianku ke ibukota provinsi Sumatera Selatan ini. Aku sangat menggemari
pempek, krupuk kemplang dan semua hidangan khas Palembang lainnya yang berbahan
dasar ikan. Tidak jelas apakah aku mencintai Palembang karena pempek atau aku
mencintai pempek karena Palembang. Yang jelas, aku ingin merasakan pempek
Palembang langsung dari asalnya.
Destinasi
yang wajib kukunjungi sudah pasti Jembatan Ampera, lalu menyusuri Sungai Musi
naik perahu. Setelah itu, mungkin aku ingin berkeliling kota mencari pempek,
tekwan, model, dan krupuk kemplang untuk memuaskan nafsu makan. Jujur, sejak
dulu aku terobsesi pergi ke Tanah Sumatera. Entah itu Sumatera Barat, Utara,
atau Selatan. Yang pasti pulau Sumatera terlihat begitu eksotis, begitu berbeda
dengan Pulau Jawa. Sayangnya aku belum pernah ke Sumatera, walaupun hanya
sekedar mampir.
Salah satu
alasan aku ingin ke Sumatera adalah warisan budaya leluhur yang telah mendarah
daging pada diri setiap orang Sumatera. Aku tak bermaksud mengeneralisasi, tapi
kebanyakan orang Sumatera pandai sekali bersastra. Hal ini sudah kubuktikan
saat aku mengenyam pendidikan SMA dan mengambil jurusan bahasa. Sebagai anak
bahasa, sudah pasti kami banyak bergelut dengan dunia sastra dan berusaha mengupas
sastra Indonesia. Saat itu, aku menyadari sebagian besar sastrawan terkenal Indonesia
berasal dari Sumatera. Mulai dari zaman Marah Roesli yang mengarang Siti
Nurbaya, lalu Merari Siregar, Hamka, Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah,
hingga Chairil Anwar yang lahir di Medan. Angkatan sastrawan modern pun tak
lepas dari bumi Sumatera seperti pengarang Laskar Pelangi, Andrea Hirata yang berasal
dari Belitung.
Masyarakat
Sumatera memang pandai bersastra, budaya bercerita ini sudah diwariskan
turun-temurun sejak zaman Kerajaan Samudera Pasai. Ada peribahasa Melayu,”Kalau
kaupinjamkan uang pada orang Melayu, akan putus perkara. Tapi kalau kaupinjamkan
dia kata, maka akan berpanjang cerita.” Agaknya peribahasa ini telah melekat
sebagai jati diri orang Sumatera, selain image suka merantau tentunya.
Namun tentunya
bukan karena sastra saja aku tertarik ke Palembang. Kalau aku hanya ingin ke
Sumatera untuk memperdalam sastra, tentunya banyak kota lain yang bisa
kukunjungi, seperti Padang, Medan, dan Banda Aceh yang punya tradisi sastra
Melayu Klasik lebih baik dibanding Palembang. Tetapi Palembang itu lain. Bagiku,
Palembang sama dengan Semarang, punya unsur magis yang menarikku untuk
mengunjunginya. Mungkin karena di Palembang, etnis Tionghoa juga banyak dan
berbaur dengan warga lokal. Bahkan konon leluhur orang Palembang berasal dari
Cina.
Seperti yang telah kusebutkan tadi, aku
begitu tertarik dengan antropologi, budaya, sejarah, dan geografi. Semarang dan
Palembang memenuhi ketiga minatku tadi. Apalagi sebagai ibukota provinsi, kedua
kota ini telah menjadi figur sentral dalam perekonomian, politik, dan sektor-sektor
lainnya di provinsi masing-masing. Semarang dan Palembang, aku akan kesana. Menjemput
asaku yang tertinggal, memenuhi mimpiku yang terpendam…
05-07-2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar