Sabtu, 02 Juli 2011

Pendidikan Lingkungan, Perlukah?

Cobalah berhenti sejenak dari rutinitas Anda, dan tarik nafas panjang. Bagaimana bau udara yang Anda hirup? Terasa segar? Terasa wangi? Atau menyesakkan dada? Udara yang kita hirup menjadi indicator sederhana tentang keadaan lingkungan kita. Jika kita sedang berada di kebun rumah yang asri, maka kita akan merasakan udara segar. Jika kita terjebak di tengah kemacetan kota pada siang hari, maka kita akan menemui udara yang sesak, panas, dan sama sekali tidak nyaman. 
                                                     Regents Park, Inggris

Ya, udara sangat penting bagi keberlangsungan makhluk hidup. Udara adalah salah satu indicator lingkungan yang nyata, seberapa bersih dan nyaman lingkungan kita. Sayangnya di Indonesia masyarakat masih kurang memperhatikan lingkungan. Coba pikir, berapa banyak diantara kita yang masih sering buang sampah sembarangan? Padahal kita semua tahu bahwa buang sampah sembarangan  akan menimbulkan masalah lingkungan baru di kemudian hari, seperti banjir serta bau yang tidak sedap. Oleh karena itu, saya ingin mengajak Anda sekalian sedikit merenung mengenai pendidikan lingkungan.

Pendidikan lingkungan ini bukan hal baru di luar negeri terutama di Eropa. Masyarakat Eropa sudah paham dan sadar betul akan pentingnya menjada kebersihan dan kelestarian lingkungan. Sebagai contoh, anak muda di Jerman biasanya menghabiskan waktu luang untuk melakukan kegiatan sosial dan salah satu kegiatan yang cukup digemari disana adalah kegiatan lingkungan,seperti kerja bakti. Tidak hanya itu, di Eropa tersedia banyak taman asri nan hijau yang dibangun oleh pemerintah kota dan bisa dinikmati secara gratis. Masyarakat disana biasa menghabiskan waktu luang mereka di taman kota yang penuh pepohonan untuk piknik atau berolahraga. Bandingkan dengan disini, di Malang, hampir tidak ada taman kota. Kalaupun ada tidak penuh dengan pepohonan tetapi hanya bunga-bungaan. Alun-alun Kota Malang memang ramai dikunjungi setiap harinya, tetapi yang memanfaatkan kebanyakan adalah muda-mudi yang sedang berpacaran.

Perlunya pendidikan lingkungan
Untuk itu, saya menganggap perlu adanya pendidikan lingkungan yang terintegrasi sejak pendidikan usia dini. Pendidikan ini tidak masuk dalam pelajaran utama, tetapi masuk dalam muatan lokal. Sejak kecil, anak-anak telah diajarkan tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, mulai dari diri mereka sendiri. Tanamkan kecintaan pada alam dan pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Lalu ketika mereka cukup dewasa, ajarkan cara membuat kompos, perlunya menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan dan cara mengurangi efek global warming.

Saya sendiri sebenarnya belum melakukan apa-apa yang bisa dianggap berharga bagi bumi ini. Saya hanya mengingatkan pada diri saya sendiri untuk selalu membuang sampah pada tempatnya, menggunakan bahan-bahan daur ulang dan ramah lingkungan, dan menghemat energi. Namun, saya percaya jika setiap orang telah sadar akan lingkungan dan mulai berkontribusi, maka lingkungan akan tetap lestari dan bumi kita akan selamat. Saya sungguh berharap bahwa pemerintah akan serius memperhatikan masalah lingkungan, termasuk dengan memasukkan pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum sistem pendidikan di Indonesia. Semoga masih ada waktu untuk menyelamatkan lingkungan kita…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sabtu, 02 Juli 2011

Pendidikan Lingkungan, Perlukah?

Cobalah berhenti sejenak dari rutinitas Anda, dan tarik nafas panjang. Bagaimana bau udara yang Anda hirup? Terasa segar? Terasa wangi? Atau menyesakkan dada? Udara yang kita hirup menjadi indicator sederhana tentang keadaan lingkungan kita. Jika kita sedang berada di kebun rumah yang asri, maka kita akan merasakan udara segar. Jika kita terjebak di tengah kemacetan kota pada siang hari, maka kita akan menemui udara yang sesak, panas, dan sama sekali tidak nyaman. 
                                                     Regents Park, Inggris

Ya, udara sangat penting bagi keberlangsungan makhluk hidup. Udara adalah salah satu indicator lingkungan yang nyata, seberapa bersih dan nyaman lingkungan kita. Sayangnya di Indonesia masyarakat masih kurang memperhatikan lingkungan. Coba pikir, berapa banyak diantara kita yang masih sering buang sampah sembarangan? Padahal kita semua tahu bahwa buang sampah sembarangan  akan menimbulkan masalah lingkungan baru di kemudian hari, seperti banjir serta bau yang tidak sedap. Oleh karena itu, saya ingin mengajak Anda sekalian sedikit merenung mengenai pendidikan lingkungan.

Pendidikan lingkungan ini bukan hal baru di luar negeri terutama di Eropa. Masyarakat Eropa sudah paham dan sadar betul akan pentingnya menjada kebersihan dan kelestarian lingkungan. Sebagai contoh, anak muda di Jerman biasanya menghabiskan waktu luang untuk melakukan kegiatan sosial dan salah satu kegiatan yang cukup digemari disana adalah kegiatan lingkungan,seperti kerja bakti. Tidak hanya itu, di Eropa tersedia banyak taman asri nan hijau yang dibangun oleh pemerintah kota dan bisa dinikmati secara gratis. Masyarakat disana biasa menghabiskan waktu luang mereka di taman kota yang penuh pepohonan untuk piknik atau berolahraga. Bandingkan dengan disini, di Malang, hampir tidak ada taman kota. Kalaupun ada tidak penuh dengan pepohonan tetapi hanya bunga-bungaan. Alun-alun Kota Malang memang ramai dikunjungi setiap harinya, tetapi yang memanfaatkan kebanyakan adalah muda-mudi yang sedang berpacaran.

Perlunya pendidikan lingkungan
Untuk itu, saya menganggap perlu adanya pendidikan lingkungan yang terintegrasi sejak pendidikan usia dini. Pendidikan ini tidak masuk dalam pelajaran utama, tetapi masuk dalam muatan lokal. Sejak kecil, anak-anak telah diajarkan tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, mulai dari diri mereka sendiri. Tanamkan kecintaan pada alam dan pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Lalu ketika mereka cukup dewasa, ajarkan cara membuat kompos, perlunya menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan dan cara mengurangi efek global warming.

Saya sendiri sebenarnya belum melakukan apa-apa yang bisa dianggap berharga bagi bumi ini. Saya hanya mengingatkan pada diri saya sendiri untuk selalu membuang sampah pada tempatnya, menggunakan bahan-bahan daur ulang dan ramah lingkungan, dan menghemat energi. Namun, saya percaya jika setiap orang telah sadar akan lingkungan dan mulai berkontribusi, maka lingkungan akan tetap lestari dan bumi kita akan selamat. Saya sungguh berharap bahwa pemerintah akan serius memperhatikan masalah lingkungan, termasuk dengan memasukkan pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum sistem pendidikan di Indonesia. Semoga masih ada waktu untuk menyelamatkan lingkungan kita…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar