“Jatuh cinta berjuta rasanya…”
Sepenggal lirik lagu lawas tersebut mengingatkan saya akan perasaan
jatuh cinta. Betapa pentingnya cinta dalam hidup kita dan bagaimana mungkin
kita hidup tanpa cinta. Cinta merupakan perasaan abstrak yang sangat sulit
didefinisikan dan setiap orang memiliki definisi sendiri tentang cinta. Cinta
adalah perasaan universal dan cinta lah yang membuat dunia ini berputar. Dia
dicipta oleh Sang Maha Cinta, Tuhan Yang Maha Esa. Pertanyaannya adalah,
mengapa kita jatuh cinta? Bagaimana kita bisa jatuh cinta pada orang lain? Apa
yang membuat kita merasakan cinta?
Menurut penelitian di Inggris, ketika kita jatuh cinta darah dibanjiri oleh zat-zat kimia yang memuat perasaan senang seperti dopamin dan serotonin dan kita merasa seolah di puncak dunia. Itulah sebabnya jatuh cinta membuat orang kecanduan, mabuk, dan senang. Manusia terpanggil untuk jatuh cinta karena mempunyai bekal cetak biru psikologis, yang mencatat seluruh pengalaman yang telah dilewati dan informasi yang tidak disadari. Seperti ketakutan, kegelisahaan, kemampuan mengatasi masalah, dan pertahanan.
Guru Besar Psikoterapi Hubungan, Dr Henry Dicks, seperti dikutip dari situs BBC menyebut hal itu sebagai unconscious fit atau kondisi yang tidak disadari. Dengan kemampuan ini, setiap orang mampu men-scan cetak biru orang lain. Hasil scanning itu kemudian bertemu dengan cetak biru miliknya. Rasa tertarik lalu jatuh cinta bisa disebabkan oleh hasil scan yang mampu melengkapi dirinya, karena kesamaan pengalaman hidup atau justru menemukan perbedaan. Kita akan jatuh cinta pada orang yang mampu melengkapi diri kita dan membuat kita merasa seimbang baik secara sosial maupun secara psikologis.
Dari berbagai literatur yang membahas cinta, dapat saya simpulkan bahwa cinta adalah sebuah proses. Proses jatuh cinta sesungguhnya adalah langkah awal untuk membangun jalinan kasih, keakraban dan komitmen. Alasan pertama kita jatuh cinta adalah karena kita melihat bayangan diri kita pada orang itu. Maksudnya, kita mendapati kesamaan dalam sikap, perilaku, hobi, minat, bakat, dan banyak faktor lain. ”Bayangan diri” kita ini juga berarti kita melihat sebuah kemiripan fisik orang itu dengan kita sendiri, atau orang tua kita.
Yang kedua adalah karena kita melihat adanya ”lawan” dari diri kita. Maksudnya, bila kita misalnya adalah orang yang pendiam dan tertutup, maka dia adalah orang yang ramai dan terbuka. Ini disebut daya tarik dari hal yang berlawanan. Saya mendapati bahwa hal yang ”mirip” dan hal yang ”berlawanan” merupakan faktor yang mendominasi alasan kita jatuh cinta dan kita seringkali tidak menyadarinya.
Dari sini akan muncul pertanyaan selanjutnya, apakah jatuh cinta adalah hal yang spontan? Ya. Sangat sulit bagi diri kita untuk menyadari kapan tepatnya kita mulai jatuh cinta. Apakah kita bisa memilih orang yang akan kita cintai? Tidak. Proses ini berjalan alamiah dan saya pun tak dapat memahami mengapa saya jatuh cinta pada orang ini dan bukan pada orang lain. Jadi, terimalah cinta sebagaimana adanya dan cintailah orang lain apa adanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar