Sabtu, 02 Juli 2011

Meningkatnya Suhu Udara dan Kemacetan Kota Malang

Kota Malang merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia, kedua terbesar di Jawa Timur. Lima tahun terakhir, Kota Malang mengalami kemajuan yang berarti dalam bidang perekonomian. Hal itu ditandai dengan munculnya banyak pusat perbelanjaan, perkantoran, bisnis waralaba sampai obyek pariwisata.

Fenomena itu menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat yang tinggal di daerah untuk mengadu nasib di Kota Malang. Selain perekonomian yang meningkat, semakin berkembangnya sektor pendidikan juga menjadi pemicu bertambahnya jumlah penduduk - baik sementara maupun tetap. Ribuan mahasiswa baru yang berasal dari luar Kota Malang datang ke kota ini setiap tahunnya.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, Kota Malang dirasa semakin hari semakin panas, ditambah dengan kemacetan dan polusi udara. Perkembangan demi perkembangan di atas diikuti dengan pertambahan jumlah kendaraan bermotor. Fenomena ini menimbulkan permasalahan baru bagi Kota Malang. Kota yang dahulu terkenal dingin dan sejuk, berubah drastis menjadi kota yang panas. Selain banyaknya pembangunan yang mengorbankan daerah hijau, pertambahan jumlah kendaraan bermotor disinyalir menjadi faktor penyebab perubahan suhu di Kota Malang. Berdasarkan catatan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) stasiun klimatologi, Karang Ploso Malang, setiap tahun suhu udara di Malang terus merambat naik.

Peningkatan Suhu vs Kendaraan Bermotor
Pada tahun 1997 lalu suhu udara rata-rata Kota Malang sekitar 23,4 derajat celcius. Namun, akhir tahun 2006 meningkat menjadi 24,2 derajat celcius. Sementara suhu udara tertinggi selama musim kemarau terjadi pada bulan Oktober dan Nopember tahun 2006 mencapai 33,5 derajat celcius, tahun 2007 maksimum 33 derajat celcius. Sedangkan 2008 melonjak drastis menjadi 34,0 derajat celcius. Data tersebut berasal dari rekaman pengukur temperatur udara yang ditempatkan di Universitas Brawijaya Malang.

Emisi gas buang yang diproduksi oleh kendaraan bermotor mengandung gas-gas yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia jika dihirup dalam jangka waktu panjang. Sejumlah unsur yang berasal dari gas buang kendaraan bermotor seperti oksida-oksida, sulfur dan nitrogen, dan senyawa-senyawa oksidan, dapat menyebabkan iritasi dan radang pada saluran pernafasan.  Selain berdampak negatif bagi manusia, polusi kendaraan bermotor juga memengaruhi kualitas lingkungan, salah satunya bisa menyebabkan pemanasan global.  Jumlah kendaraan bermotor di Kota Malang terus bertambah, seakan tidak dapat dibendung lagi.

Data yang dikeluarkan oleh Dispenda Propinsi Jawa Timur menyebutkan bahwa pada tahun 2002 jumlah kendaraan bermotor di Kota Malang mencapai angka 170.146 buah. Pada tahun berikutnya, jumlah kendaraan bermotor bertambah menjadi 187.753 buah. Artinya, dalam jangka waktu satu tahun kendaraan bermotor di Kota Malang bertambah menjadi 17.607 buah. Nampaknya pertambahan jumlah kendaraan bermotor itu berjalan linear. Hal itu bisa kita lihat dari kecenderungan pertambahan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia, yang terus menerus mengalami penambahan jumlah.

Sarana Transportasi Massal

Tentunya fakta tersebut sangatlah mengerikan. Jika kita sadar betapa berbahayanya gas-gas yang terkandung di dalam asap kendaraan bermotor, tentunya perlahan kita akan sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungan terhadap mesin. Namun menemukan solusi untuk fenomena ini tidaklah mudah. Ketergantungan manusia terhadap kendaraan bermotor saat ini sangatlah tinggi. Globalisasi dan perkembangan zaman, menuntut manusia untuk melakukan segala sesuatu secara cepat dan efisien. Kompetisi memaksa mereka untuk terus bergerak maju, karena jika tidak, mereka yang akan tergerus oleh sistem.

Di Indonesia, globalisasi dan kompetisi yang terus berjalan, tidak dibarengi dengan kesiapan pemerintah dalam menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang. Ketika masyarakat dituntut untuk bergerak cepat, mereka membutuhkan alat untuk memenuhinya. Dan kendaraan bermotor pribadi adalah solusinya, ketika pemerintah tidak bisa menyediakan sarana transportasi umum yang memadai. Sebenarnya permasalahan terus bertambahnya jumlah kendaraan bermotor di Indonesia bisa diatasi dengan menciptakan sarana transportasi umum yang nyaman, cepat dan murah.

Namun ketika pemerintah gagal menyediakan sarana tersebut, masyarakat nampaknya harus berpikir sendiri dan menemukan solusinya. Pada saat yang bersamaan, produsen kendaraan bermotor melihat peluang ini, sehingga diciptakanlah kendaraan bermotor yang sesuai dengan permintaan pasar di Indonesia. Saat ini harga sudah bukan menjadi masalah lagi. Hanya dengan uang lima ratus ribuh rupiah saja kita bisa mendapatkan sepeda motor baru, tentunya secara kredit. Karena kemudahan inilah permintaan masyarakat seakan tidak terbendung lagi. Sehingga fenomena pertambahan jumlah kendaraan bermotor menjadi suatu hal yang tak terelakkan lagi.  
Penulis khawatir, Pemerintah Kota Malang memiliki kecenderungan yang sama dengan Pemerintah Pusat, yakni sering lambat dalam berpikir dan bertindak. Semoga saja Pemkot Malang tidak meniru Jakarta dalam hal kemacetan ini dan segera memikirkan solusi terbaik untuk warganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sabtu, 02 Juli 2011

Meningkatnya Suhu Udara dan Kemacetan Kota Malang

Kota Malang merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia, kedua terbesar di Jawa Timur. Lima tahun terakhir, Kota Malang mengalami kemajuan yang berarti dalam bidang perekonomian. Hal itu ditandai dengan munculnya banyak pusat perbelanjaan, perkantoran, bisnis waralaba sampai obyek pariwisata.

Fenomena itu menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat yang tinggal di daerah untuk mengadu nasib di Kota Malang. Selain perekonomian yang meningkat, semakin berkembangnya sektor pendidikan juga menjadi pemicu bertambahnya jumlah penduduk - baik sementara maupun tetap. Ribuan mahasiswa baru yang berasal dari luar Kota Malang datang ke kota ini setiap tahunnya.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, Kota Malang dirasa semakin hari semakin panas, ditambah dengan kemacetan dan polusi udara. Perkembangan demi perkembangan di atas diikuti dengan pertambahan jumlah kendaraan bermotor. Fenomena ini menimbulkan permasalahan baru bagi Kota Malang. Kota yang dahulu terkenal dingin dan sejuk, berubah drastis menjadi kota yang panas. Selain banyaknya pembangunan yang mengorbankan daerah hijau, pertambahan jumlah kendaraan bermotor disinyalir menjadi faktor penyebab perubahan suhu di Kota Malang. Berdasarkan catatan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) stasiun klimatologi, Karang Ploso Malang, setiap tahun suhu udara di Malang terus merambat naik.

Peningkatan Suhu vs Kendaraan Bermotor
Pada tahun 1997 lalu suhu udara rata-rata Kota Malang sekitar 23,4 derajat celcius. Namun, akhir tahun 2006 meningkat menjadi 24,2 derajat celcius. Sementara suhu udara tertinggi selama musim kemarau terjadi pada bulan Oktober dan Nopember tahun 2006 mencapai 33,5 derajat celcius, tahun 2007 maksimum 33 derajat celcius. Sedangkan 2008 melonjak drastis menjadi 34,0 derajat celcius. Data tersebut berasal dari rekaman pengukur temperatur udara yang ditempatkan di Universitas Brawijaya Malang.

Emisi gas buang yang diproduksi oleh kendaraan bermotor mengandung gas-gas yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia jika dihirup dalam jangka waktu panjang. Sejumlah unsur yang berasal dari gas buang kendaraan bermotor seperti oksida-oksida, sulfur dan nitrogen, dan senyawa-senyawa oksidan, dapat menyebabkan iritasi dan radang pada saluran pernafasan.  Selain berdampak negatif bagi manusia, polusi kendaraan bermotor juga memengaruhi kualitas lingkungan, salah satunya bisa menyebabkan pemanasan global.  Jumlah kendaraan bermotor di Kota Malang terus bertambah, seakan tidak dapat dibendung lagi.

Data yang dikeluarkan oleh Dispenda Propinsi Jawa Timur menyebutkan bahwa pada tahun 2002 jumlah kendaraan bermotor di Kota Malang mencapai angka 170.146 buah. Pada tahun berikutnya, jumlah kendaraan bermotor bertambah menjadi 187.753 buah. Artinya, dalam jangka waktu satu tahun kendaraan bermotor di Kota Malang bertambah menjadi 17.607 buah. Nampaknya pertambahan jumlah kendaraan bermotor itu berjalan linear. Hal itu bisa kita lihat dari kecenderungan pertambahan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia, yang terus menerus mengalami penambahan jumlah.

Sarana Transportasi Massal

Tentunya fakta tersebut sangatlah mengerikan. Jika kita sadar betapa berbahayanya gas-gas yang terkandung di dalam asap kendaraan bermotor, tentunya perlahan kita akan sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungan terhadap mesin. Namun menemukan solusi untuk fenomena ini tidaklah mudah. Ketergantungan manusia terhadap kendaraan bermotor saat ini sangatlah tinggi. Globalisasi dan perkembangan zaman, menuntut manusia untuk melakukan segala sesuatu secara cepat dan efisien. Kompetisi memaksa mereka untuk terus bergerak maju, karena jika tidak, mereka yang akan tergerus oleh sistem.

Di Indonesia, globalisasi dan kompetisi yang terus berjalan, tidak dibarengi dengan kesiapan pemerintah dalam menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang. Ketika masyarakat dituntut untuk bergerak cepat, mereka membutuhkan alat untuk memenuhinya. Dan kendaraan bermotor pribadi adalah solusinya, ketika pemerintah tidak bisa menyediakan sarana transportasi umum yang memadai. Sebenarnya permasalahan terus bertambahnya jumlah kendaraan bermotor di Indonesia bisa diatasi dengan menciptakan sarana transportasi umum yang nyaman, cepat dan murah.

Namun ketika pemerintah gagal menyediakan sarana tersebut, masyarakat nampaknya harus berpikir sendiri dan menemukan solusinya. Pada saat yang bersamaan, produsen kendaraan bermotor melihat peluang ini, sehingga diciptakanlah kendaraan bermotor yang sesuai dengan permintaan pasar di Indonesia. Saat ini harga sudah bukan menjadi masalah lagi. Hanya dengan uang lima ratus ribuh rupiah saja kita bisa mendapatkan sepeda motor baru, tentunya secara kredit. Karena kemudahan inilah permintaan masyarakat seakan tidak terbendung lagi. Sehingga fenomena pertambahan jumlah kendaraan bermotor menjadi suatu hal yang tak terelakkan lagi.  
Penulis khawatir, Pemerintah Kota Malang memiliki kecenderungan yang sama dengan Pemerintah Pusat, yakni sering lambat dalam berpikir dan bertindak. Semoga saja Pemkot Malang tidak meniru Jakarta dalam hal kemacetan ini dan segera memikirkan solusi terbaik untuk warganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar