Jumat, 04 Juli 2014

Calon Presiden-Wakil Presiden Pilihan

"Jika memilih Presiden-Wakil Presiden karena partai dan karena anti A, B, C, maka kita akan dibutakan oleh politik. Memilihlah dengan hati nurani dan akal sehat."


Saya tidak sedang berkampanye. Hanya menuruti panggilan hati untuk menulis tentang pilpres 2014 kali ini. Pilpres yang menelan banyak dana dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Saya pribadi tidak berafiliasi dengan partai atau golongan manapu. Saya merasa lebih bisa mencerna mana yang baik dan yang buruk tanpa harus mengikuti kata partai atau golongan tertentu.

Saya sudah melihat empat kali debat, baik debat capres maupun cawapres dan semuanya belum bisa membuat saya yakin memilih salah satu pasangan calon. Keduanya punya kekurangan dan kelebihan masing-masing dan debat capres-cawapres justru mempertegas itu. Dilihat dari substansi debat kedua pasangan capres-cawapres keduanya masih berkutat pada ranah ide dan gagasan. Implementasinya masih belum terlihat dan kalaupun terlihat, banyak ide yang kurang masuk akal dan akan sulit dilaksanakan. Memang, Presiden nantinya akan dibantu oleh menteri dan pejabat lainnya, namun kalau presidennya tidak mengerti isu yang dibahas, bagaimana kita berharap ia mampu memecahkan masalah-masalah bangsa ini.

Saya hanya berbicara pengalaman pribadi. Dulu saya pernah ke Solo untuk jalan-jalan dan saya lihat sendiri bagaimana Kota Solo menjadi lebih bersih dan tertib dibawah pemerintahan Pak Jokowi. Saya juga ke Taman Kota yang tertata dengan baik dan banyak pengunjungnya, juga melewati Stadion Manahan yang terkenal itu. Saya juga ke Galabo, semacam kuliner kaki lima di sepanjang jalan depan BTC dan Pusat Grosir Solo (PGS). Tidak pernah saya temui kuliner kaki lima bisa ditata sedemikian di tempat lain di Indonesia. Ini bukti kerja nyata Pak Jokowi. Waktu saya magang di Jakarta tahun lalu dan kebetulan Pak Jokowi menjadi Gubernur DKI. Hampir semua orang yang saya temui, yang kebanyakan adalah rakyat biasa sangat suka dengan Jokowi. Terutama pedagang di pasar dan orang-orang yang peduli dengan pembangunan kembali Blok G dan Blok S. Yang tidak suka dengan beliau hanya segelintir orang yang menilai Jokowi masih belum berhasil mengatasi permasalahan kota Jakarta yang begitu pelik, seperti macet, banjir, dan lain-lain.

Sedangkan dengan Pak Prabowo, saya tertarik dengan beliau yang pernah menjadi ketua Himpunan Tani Indonesia (HTI) dan juga pendiri Partai Gerindra. Secara pribadi Prabowo terlihat tegas dan lugas, berbeda dengan Jokowi yang berpenampilan biasa-biasa saja dan dikatakan cenderung ndeso. Saya berharap Prabowo yang mantan ketua HTI nantinya benar-benar memperjuangkan nasib petani, bukan hanya kemamkmuran segelintir orang. Saya tidak pernah mendengar atau melihat secara langsung kinerja Prabowo, hanya menyaksikan yang ada di TV dan media. Oleh karena itu, saya tidak bisa berkomentar banyak tentang beliau.

Media sekarang dipenuhi kampanye hitam, sehingga susah dibedakan mana fakta dan fitnah. Oleh karena itu, saya lebih memilih berdasarkan akal sehat, hati nurani, dan pengalaman saya saja. Apapun pilihan Anda, terserah, saya tidak akan menghalangi orang memilih salah satu calon atau menjatuhkan calon lain.

Pilihan di tangan kita semua untuk Indonesia yang lebih baik. Siapapun Presiden dan Wakil Presiden terpilih nanti, saya berharap bekerja secara sungguh-sungguh dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Amin.

Jumat, 04 Juli 2014

Calon Presiden-Wakil Presiden Pilihan

"Jika memilih Presiden-Wakil Presiden karena partai dan karena anti A, B, C, maka kita akan dibutakan oleh politik. Memilihlah dengan hati nurani dan akal sehat."


Saya tidak sedang berkampanye. Hanya menuruti panggilan hati untuk menulis tentang pilpres 2014 kali ini. Pilpres yang menelan banyak dana dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Saya pribadi tidak berafiliasi dengan partai atau golongan manapu. Saya merasa lebih bisa mencerna mana yang baik dan yang buruk tanpa harus mengikuti kata partai atau golongan tertentu.

Saya sudah melihat empat kali debat, baik debat capres maupun cawapres dan semuanya belum bisa membuat saya yakin memilih salah satu pasangan calon. Keduanya punya kekurangan dan kelebihan masing-masing dan debat capres-cawapres justru mempertegas itu. Dilihat dari substansi debat kedua pasangan capres-cawapres keduanya masih berkutat pada ranah ide dan gagasan. Implementasinya masih belum terlihat dan kalaupun terlihat, banyak ide yang kurang masuk akal dan akan sulit dilaksanakan. Memang, Presiden nantinya akan dibantu oleh menteri dan pejabat lainnya, namun kalau presidennya tidak mengerti isu yang dibahas, bagaimana kita berharap ia mampu memecahkan masalah-masalah bangsa ini.

Saya hanya berbicara pengalaman pribadi. Dulu saya pernah ke Solo untuk jalan-jalan dan saya lihat sendiri bagaimana Kota Solo menjadi lebih bersih dan tertib dibawah pemerintahan Pak Jokowi. Saya juga ke Taman Kota yang tertata dengan baik dan banyak pengunjungnya, juga melewati Stadion Manahan yang terkenal itu. Saya juga ke Galabo, semacam kuliner kaki lima di sepanjang jalan depan BTC dan Pusat Grosir Solo (PGS). Tidak pernah saya temui kuliner kaki lima bisa ditata sedemikian di tempat lain di Indonesia. Ini bukti kerja nyata Pak Jokowi. Waktu saya magang di Jakarta tahun lalu dan kebetulan Pak Jokowi menjadi Gubernur DKI. Hampir semua orang yang saya temui, yang kebanyakan adalah rakyat biasa sangat suka dengan Jokowi. Terutama pedagang di pasar dan orang-orang yang peduli dengan pembangunan kembali Blok G dan Blok S. Yang tidak suka dengan beliau hanya segelintir orang yang menilai Jokowi masih belum berhasil mengatasi permasalahan kota Jakarta yang begitu pelik, seperti macet, banjir, dan lain-lain.

Sedangkan dengan Pak Prabowo, saya tertarik dengan beliau yang pernah menjadi ketua Himpunan Tani Indonesia (HTI) dan juga pendiri Partai Gerindra. Secara pribadi Prabowo terlihat tegas dan lugas, berbeda dengan Jokowi yang berpenampilan biasa-biasa saja dan dikatakan cenderung ndeso. Saya berharap Prabowo yang mantan ketua HTI nantinya benar-benar memperjuangkan nasib petani, bukan hanya kemamkmuran segelintir orang. Saya tidak pernah mendengar atau melihat secara langsung kinerja Prabowo, hanya menyaksikan yang ada di TV dan media. Oleh karena itu, saya tidak bisa berkomentar banyak tentang beliau.

Media sekarang dipenuhi kampanye hitam, sehingga susah dibedakan mana fakta dan fitnah. Oleh karena itu, saya lebih memilih berdasarkan akal sehat, hati nurani, dan pengalaman saya saja. Apapun pilihan Anda, terserah, saya tidak akan menghalangi orang memilih salah satu calon atau menjatuhkan calon lain.

Pilihan di tangan kita semua untuk Indonesia yang lebih baik. Siapapun Presiden dan Wakil Presiden terpilih nanti, saya berharap bekerja secara sungguh-sungguh dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Amin.