Selasa, 28 Oktober 2014

Menuju ASEAN Community 2015, Bagaimana Kondisi Bahasa Inggris Kita?


*Sebelum mulai membaca, harap diingat ini tulisan curhat dari pengalaman pribadi saya, pengamatan dan survei kecil-kecilan. Tulisan ini juga disertai data, namun sebagian besar adalah pendapat pribadi penulis.

Sumber: micecapabilities.com
Saya tergelitik dengan topik ini sejak beberapa bulan yang lalu sejak saya menyadari teman-teman ASEAN saya lebih fasih berbahasa Inggris dibanding saya. Saya bergabung dalam sebuah forum  internet yang memiliki satu thread yang rajin saya ikuti, dimana di thread tersebut saya bertemu dengan teman-teman di dunia maya yang sudah seperti teman dan keluarga sendiri. Saat ramai, thread ini bisa dikunjungi oleh lebih dari 100 orang dan sekitar 20an orang yang sibuk berkomentar di thread itu, termasuk saya. Sekitar 5 orang berasal dari Filipina, 1 orang dari Malaysia, 2 dari Singapura, 1 dari Vietnam, 2 dari Indonesia (termasuk saya). Sisanya dari negara lain. Sedangkan pembuat thread itu berasal dari Filipina. 

Forum ini menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama sehingga para pengguna berdiskusi menggunakan bahasa Inggris. Terkadang ID mereka juga mencantumkan asal, sehingga kita bisa tahu darimana mereka berasal. Setelah berbulan-bulan bergabung di thread itu, saya kagum terhadap teman-teman saya orang Filipina dan Singapura. Mereka punya kemampuan bahasa Inggris yang sangat baik. Bahasa Inggris adalah salah satu dari 2 bahasa resmi yang digunakan di Filipina, selain Filipino (Tagalog). Sedangkan di Singapura bahasa Inggris adalah satu dari 4 bahasa resmi dan merupakan bahasa utama. Tidak mengherankan bukan jika mereka pandai berbahasa Inggris? Bukan itu saja, 2 teman saya dari Singapura yang kebetulan keturunan China mereka menggunakan bahasa Mandarin dan bahasa Inggris dalam kesehariannya. Selain itu, mereka juga bisa berbahasa Melayu, 1 orang fasih berbahasa Korea dan 1 orang lainnya bisa sedikit bahasa Korea dan Jepang. Di Indonesia, bisa lebih dari 2 bahasa saja sudah merupakan prestasi.

Minggu, 17 Agustus 2014

Kota Tua Jakarta: Warisan Sejarah Kolonialisme di Indonesia

Selasa, 12 Agustus yang lalu, saya berkesempatan berjalan-jalan ke daerah Kota Tua Jakarta. Saya hanya memiliki waktu terbatas, sehingga setelah menapakkan kaki di Stasiun Jakarta Kota, saya memutuskan hanya menapak tilas dan memotret bangunan-bangunan bersejarah di sekitar Museum Bank Indonesia yang sebelumnya sudah pernah saya kunjungi tahun 2011 silam.

Kota Tua Jakarta terletak di Kelurahan Pinangsia Kecamatan Tamansari Kotamadya Jakarta Barat. Saat ini, kawasan Kota Tua berada di dua wilayah kotamadya, yaitu Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Kota Tua sebagai cikal bakal Jakarta, tentunya menyimpan banyak cerita di balik megahnya bangunan (tua) yang kini menjadi cagar budaya. Gedung-gedung yang ada merupakan peninggalan masa lalu dari zaman kolonial Belanda.

Kota Tua Jakarta di masa lalu menjadi simbol kejayaan bagi siapa saja yang mampu menguasainya. Tak heran jika mulai dari Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda –Pajajaran, Kesultanan Banten –Jayakarta, Verenigde Oost-indische Compagnie (VOC), Pemerintah Jepang, hingga kini Republik Indonesia melalui Pemerintah DKI Jakarta, terus berupaya mempertahankannya.

Bangunan-bangunan yang ada disini kebanyakan berasal dari abad ke-17, saat daerah yang dulu disebut Batavia ini berada di bawah kekuasaan Belanda. Di wilayah Kota Tua kita dapat melihat bangunan-bangunan kuno bergaya arsitektur Belanda atau Eropa, ada juga yang mendapat pengaruh dari China, serta kombinasi dari arsitektur China dan Belanda. Beberapa bangunan menjadi museum, sebagian lagi menjadi cagar budaya yang dilindungi Pemerintah DKI Jakarta, dan ada pula bangunan yang tak terawat. Berwisata ke Kota Tua Jakarta menarik bagi wisatawan yang suka sejarah dan bangunan antik karena daerah ini adalah pusat bangunan-bangunan bersejarah di Jakarta.

Berikut adalah beberapa bangunan yang sempat saya abadikan potretnya.

1. Stasiun Jakarta Kota
Disebut juga Stasiun Beos pada tahun 1980-an merupakan salah satu stasiun tertua di Jakarta. Kata Beos merupakan kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij yaitu Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur yang menghubungkan Batavia dengan Kedung gedeh. Kata Beos juga ada yang menyebut berasal dari kata Batavia En Omstreken, yang artinya Batavia dan sekitarnya. Dahulu stasiun ini berfungsi sebagai penghubung Kota Batavia dengan kota lain seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), Karavam (Karawang), dan lain-lain.

Stasiun ini mengoperasikan jalur kereta api pertama Batavia-Buitenzorg (Bogor) dan telah beroperasi sejak tahun 1873. Stasiun ini dirancang Frans Johan Louwrens Ghijsels, yaitu seorang arsitek kelahiran Tulungagung 8 September 1782, dengan kombinasi antara struktur dan teknik modern Barat ala art deco berpadu dengan bentuk tradisional setempat. Oleh karena itulah, stasiun ini dijuluki“Het Indische Bouwen” atau “Gedung Hindia”,  sebagai pengakuan akan kesederhanaan namun bercita rasa seni tinggi sesuai filosofi Yunani Kuno, yaitu, “Kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju kecantikan”. Saat ini Stasiun Jakarta Kota melayani jalur kereta api jarak jauh dan KRL (commuter line) dan menjadi salah satu stasiun tujuan terakhir KRL Jabodetabek.

Stasiun Jakarta Kota di pagi hari

2. Museum Bank Indonesia
 
Salah satu museum bergaya arsitektur Belanda namun dengan cita rasa modern. Museum ini sudah direnovasi menjadi bangunan modern dan menjadi salah satu museum terbaik di Indonesia. Uniknya, pengunjung dapat masuk museum ini secara gratis dan dapat menjelajah bagian dalam museum hingga puas. 

Awal mulanya bangunan objek wisata Museum Bank Indonesia adalah sebuah rumah sakit umum yang bernama Binnen Hospitaal, hingga pada sekitar tahun 1828, bangunan tersebut di ubah fungsinya menjadi tempat penyimpanan uang atau Bank dengan nama De Javashe Bank. Lalu museum ini juga pernah berfungsi sebagai penjara pada zaman penjajahan Jepang (1942-1945) sebelum kembali menjadi Bank setelah Indonesia merdeka. Pada tahun 1953 setelah 9 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, bangunan DJB ditetapkan sebagai Bank Sentral Indonesia atau yang lebih dikenal sebagai Bank Indonesia.

Selang 9 tahun kemudian yaitu pada tahun 1962, pemerintah Indonesia kemudian memindahkan Bank Indonesia tersebut ke lokasi baru dan lebih strategis, sehingga tempat BI yang dahulu mejadi kosong tanpa di gunakan untuk keperluaan yang penting. Akhirnya pada tahun 2006 Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah meresmikan bangunan kosong tersebut sebagai Museum Bank Indonesia yang dapat di akses secara mudah oleh masyarakat umum.




3. Gedung Arsip Bank Mandiri

Gedung ini tepat berada di seberang Museum Bank Indonesia. Sayangnya saya kesulitan mencari data gedung apa ini sebenarnya. Menurut Panduan Bangunan Cagar Budaya 2 yang diterbitkan situs kotatuajakarta.org bangunan ini adalah Gedung Arsip Bank Mandiri. Namun penelusuran di google dengan kata kunci "gedung arsip bank mandiri" tidak membawa saya pada gambar seperti di bawah ini.


Saya kurang paham dengan bangunan maupun gaya arsitektur dari gambar-gambar di bawah ini. Dari hasil penelusuran saya, gaya arsitektur yang dipakai pada masa itu adalah art deco, namun saya sendiri kurang paham mana bangunan yang art deco dan mana yang tidak. Pembaca yang paham mungkin dapat membantu saya mengetahui bangunan maupun gaya arsitektur yang dipakai.

Tatanan yang menarik. Gedung ini terletak persis di seberang Museum BI

Jendela yang diklaim bergaya art deco

Bangunan yang mungkin adalah bekas rumah penduduk. Terletak di depan Gedung Arsip Bank Mandiri

Gedung di samping Gedung Arsip Bank Mandiri

Bangunan kuno yang tampak eksotis
Bagi yang ingin mempelajari sejarah Kota Tua Jakarta bisa dilihat disini

Mempelajari dan napak tilas Kota Tua Jakarta membuat saya merenungkan kembali tentang warisan kolonialisme di Indonesia, kemerdekaan yang kita raih, dan harga yang harus kita bayar untuk meraih kemerdekaan itu. Bangunan-bangunan di Kota Tua Jakarta menjadi saksi bisu era kolonialisme di Indonesia. Semoga kita tidak pernah lupa akan warisan sejarah dan tetap merawat bangunan-bangunan bersejarah ini. Di Hari Peringatan Kemerdekaan RI ini semoga Indonesia semakin jaya dan tidak lagi jatuh dalam kolonialisme. Semoga semangat kemerdekaan kita masih membara dan mengantarkan Indonesia menjadi negara yang lebih baik lagi. Dirgahayu Republik Indonesia ke-69! Jayalah Indonesiaku!

Foto: dokumentasi pribadi

Jumat, 04 Juli 2014

Calon Presiden-Wakil Presiden Pilihan

"Jika memilih Presiden-Wakil Presiden karena partai dan karena anti A, B, C, maka kita akan dibutakan oleh politik. Memilihlah dengan hati nurani dan akal sehat."


Saya tidak sedang berkampanye. Hanya menuruti panggilan hati untuk menulis tentang pilpres 2014 kali ini. Pilpres yang menelan banyak dana dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Saya pribadi tidak berafiliasi dengan partai atau golongan manapu. Saya merasa lebih bisa mencerna mana yang baik dan yang buruk tanpa harus mengikuti kata partai atau golongan tertentu.

Saya sudah melihat empat kali debat, baik debat capres maupun cawapres dan semuanya belum bisa membuat saya yakin memilih salah satu pasangan calon. Keduanya punya kekurangan dan kelebihan masing-masing dan debat capres-cawapres justru mempertegas itu. Dilihat dari substansi debat kedua pasangan capres-cawapres keduanya masih berkutat pada ranah ide dan gagasan. Implementasinya masih belum terlihat dan kalaupun terlihat, banyak ide yang kurang masuk akal dan akan sulit dilaksanakan. Memang, Presiden nantinya akan dibantu oleh menteri dan pejabat lainnya, namun kalau presidennya tidak mengerti isu yang dibahas, bagaimana kita berharap ia mampu memecahkan masalah-masalah bangsa ini.

Saya hanya berbicara pengalaman pribadi. Dulu saya pernah ke Solo untuk jalan-jalan dan saya lihat sendiri bagaimana Kota Solo menjadi lebih bersih dan tertib dibawah pemerintahan Pak Jokowi. Saya juga ke Taman Kota yang tertata dengan baik dan banyak pengunjungnya, juga melewati Stadion Manahan yang terkenal itu. Saya juga ke Galabo, semacam kuliner kaki lima di sepanjang jalan depan BTC dan Pusat Grosir Solo (PGS). Tidak pernah saya temui kuliner kaki lima bisa ditata sedemikian di tempat lain di Indonesia. Ini bukti kerja nyata Pak Jokowi. Waktu saya magang di Jakarta tahun lalu dan kebetulan Pak Jokowi menjadi Gubernur DKI. Hampir semua orang yang saya temui, yang kebanyakan adalah rakyat biasa sangat suka dengan Jokowi. Terutama pedagang di pasar dan orang-orang yang peduli dengan pembangunan kembali Blok G dan Blok S. Yang tidak suka dengan beliau hanya segelintir orang yang menilai Jokowi masih belum berhasil mengatasi permasalahan kota Jakarta yang begitu pelik, seperti macet, banjir, dan lain-lain.

Sedangkan dengan Pak Prabowo, saya tertarik dengan beliau yang pernah menjadi ketua Himpunan Tani Indonesia (HTI) dan juga pendiri Partai Gerindra. Secara pribadi Prabowo terlihat tegas dan lugas, berbeda dengan Jokowi yang berpenampilan biasa-biasa saja dan dikatakan cenderung ndeso. Saya berharap Prabowo yang mantan ketua HTI nantinya benar-benar memperjuangkan nasib petani, bukan hanya kemamkmuran segelintir orang. Saya tidak pernah mendengar atau melihat secara langsung kinerja Prabowo, hanya menyaksikan yang ada di TV dan media. Oleh karena itu, saya tidak bisa berkomentar banyak tentang beliau.

Media sekarang dipenuhi kampanye hitam, sehingga susah dibedakan mana fakta dan fitnah. Oleh karena itu, saya lebih memilih berdasarkan akal sehat, hati nurani, dan pengalaman saya saja. Apapun pilihan Anda, terserah, saya tidak akan menghalangi orang memilih salah satu calon atau menjatuhkan calon lain.

Pilihan di tangan kita semua untuk Indonesia yang lebih baik. Siapapun Presiden dan Wakil Presiden terpilih nanti, saya berharap bekerja secara sungguh-sungguh dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Amin.

Selasa, 28 Oktober 2014

Menuju ASEAN Community 2015, Bagaimana Kondisi Bahasa Inggris Kita?


*Sebelum mulai membaca, harap diingat ini tulisan curhat dari pengalaman pribadi saya, pengamatan dan survei kecil-kecilan. Tulisan ini juga disertai data, namun sebagian besar adalah pendapat pribadi penulis.

Sumber: micecapabilities.com
Saya tergelitik dengan topik ini sejak beberapa bulan yang lalu sejak saya menyadari teman-teman ASEAN saya lebih fasih berbahasa Inggris dibanding saya. Saya bergabung dalam sebuah forum  internet yang memiliki satu thread yang rajin saya ikuti, dimana di thread tersebut saya bertemu dengan teman-teman di dunia maya yang sudah seperti teman dan keluarga sendiri. Saat ramai, thread ini bisa dikunjungi oleh lebih dari 100 orang dan sekitar 20an orang yang sibuk berkomentar di thread itu, termasuk saya. Sekitar 5 orang berasal dari Filipina, 1 orang dari Malaysia, 2 dari Singapura, 1 dari Vietnam, 2 dari Indonesia (termasuk saya). Sisanya dari negara lain. Sedangkan pembuat thread itu berasal dari Filipina. 

Forum ini menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama sehingga para pengguna berdiskusi menggunakan bahasa Inggris. Terkadang ID mereka juga mencantumkan asal, sehingga kita bisa tahu darimana mereka berasal. Setelah berbulan-bulan bergabung di thread itu, saya kagum terhadap teman-teman saya orang Filipina dan Singapura. Mereka punya kemampuan bahasa Inggris yang sangat baik. Bahasa Inggris adalah salah satu dari 2 bahasa resmi yang digunakan di Filipina, selain Filipino (Tagalog). Sedangkan di Singapura bahasa Inggris adalah satu dari 4 bahasa resmi dan merupakan bahasa utama. Tidak mengherankan bukan jika mereka pandai berbahasa Inggris? Bukan itu saja, 2 teman saya dari Singapura yang kebetulan keturunan China mereka menggunakan bahasa Mandarin dan bahasa Inggris dalam kesehariannya. Selain itu, mereka juga bisa berbahasa Melayu, 1 orang fasih berbahasa Korea dan 1 orang lainnya bisa sedikit bahasa Korea dan Jepang. Di Indonesia, bisa lebih dari 2 bahasa saja sudah merupakan prestasi.

Minggu, 17 Agustus 2014

Kota Tua Jakarta: Warisan Sejarah Kolonialisme di Indonesia

Selasa, 12 Agustus yang lalu, saya berkesempatan berjalan-jalan ke daerah Kota Tua Jakarta. Saya hanya memiliki waktu terbatas, sehingga setelah menapakkan kaki di Stasiun Jakarta Kota, saya memutuskan hanya menapak tilas dan memotret bangunan-bangunan bersejarah di sekitar Museum Bank Indonesia yang sebelumnya sudah pernah saya kunjungi tahun 2011 silam.

Kota Tua Jakarta terletak di Kelurahan Pinangsia Kecamatan Tamansari Kotamadya Jakarta Barat. Saat ini, kawasan Kota Tua berada di dua wilayah kotamadya, yaitu Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Kota Tua sebagai cikal bakal Jakarta, tentunya menyimpan banyak cerita di balik megahnya bangunan (tua) yang kini menjadi cagar budaya. Gedung-gedung yang ada merupakan peninggalan masa lalu dari zaman kolonial Belanda.

Kota Tua Jakarta di masa lalu menjadi simbol kejayaan bagi siapa saja yang mampu menguasainya. Tak heran jika mulai dari Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda –Pajajaran, Kesultanan Banten –Jayakarta, Verenigde Oost-indische Compagnie (VOC), Pemerintah Jepang, hingga kini Republik Indonesia melalui Pemerintah DKI Jakarta, terus berupaya mempertahankannya.

Bangunan-bangunan yang ada disini kebanyakan berasal dari abad ke-17, saat daerah yang dulu disebut Batavia ini berada di bawah kekuasaan Belanda. Di wilayah Kota Tua kita dapat melihat bangunan-bangunan kuno bergaya arsitektur Belanda atau Eropa, ada juga yang mendapat pengaruh dari China, serta kombinasi dari arsitektur China dan Belanda. Beberapa bangunan menjadi museum, sebagian lagi menjadi cagar budaya yang dilindungi Pemerintah DKI Jakarta, dan ada pula bangunan yang tak terawat. Berwisata ke Kota Tua Jakarta menarik bagi wisatawan yang suka sejarah dan bangunan antik karena daerah ini adalah pusat bangunan-bangunan bersejarah di Jakarta.

Berikut adalah beberapa bangunan yang sempat saya abadikan potretnya.

1. Stasiun Jakarta Kota
Disebut juga Stasiun Beos pada tahun 1980-an merupakan salah satu stasiun tertua di Jakarta. Kata Beos merupakan kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij yaitu Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur yang menghubungkan Batavia dengan Kedung gedeh. Kata Beos juga ada yang menyebut berasal dari kata Batavia En Omstreken, yang artinya Batavia dan sekitarnya. Dahulu stasiun ini berfungsi sebagai penghubung Kota Batavia dengan kota lain seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), Karavam (Karawang), dan lain-lain.

Stasiun ini mengoperasikan jalur kereta api pertama Batavia-Buitenzorg (Bogor) dan telah beroperasi sejak tahun 1873. Stasiun ini dirancang Frans Johan Louwrens Ghijsels, yaitu seorang arsitek kelahiran Tulungagung 8 September 1782, dengan kombinasi antara struktur dan teknik modern Barat ala art deco berpadu dengan bentuk tradisional setempat. Oleh karena itulah, stasiun ini dijuluki“Het Indische Bouwen” atau “Gedung Hindia”,  sebagai pengakuan akan kesederhanaan namun bercita rasa seni tinggi sesuai filosofi Yunani Kuno, yaitu, “Kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju kecantikan”. Saat ini Stasiun Jakarta Kota melayani jalur kereta api jarak jauh dan KRL (commuter line) dan menjadi salah satu stasiun tujuan terakhir KRL Jabodetabek.

Stasiun Jakarta Kota di pagi hari

2. Museum Bank Indonesia
 
Salah satu museum bergaya arsitektur Belanda namun dengan cita rasa modern. Museum ini sudah direnovasi menjadi bangunan modern dan menjadi salah satu museum terbaik di Indonesia. Uniknya, pengunjung dapat masuk museum ini secara gratis dan dapat menjelajah bagian dalam museum hingga puas. 

Awal mulanya bangunan objek wisata Museum Bank Indonesia adalah sebuah rumah sakit umum yang bernama Binnen Hospitaal, hingga pada sekitar tahun 1828, bangunan tersebut di ubah fungsinya menjadi tempat penyimpanan uang atau Bank dengan nama De Javashe Bank. Lalu museum ini juga pernah berfungsi sebagai penjara pada zaman penjajahan Jepang (1942-1945) sebelum kembali menjadi Bank setelah Indonesia merdeka. Pada tahun 1953 setelah 9 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, bangunan DJB ditetapkan sebagai Bank Sentral Indonesia atau yang lebih dikenal sebagai Bank Indonesia.

Selang 9 tahun kemudian yaitu pada tahun 1962, pemerintah Indonesia kemudian memindahkan Bank Indonesia tersebut ke lokasi baru dan lebih strategis, sehingga tempat BI yang dahulu mejadi kosong tanpa di gunakan untuk keperluaan yang penting. Akhirnya pada tahun 2006 Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah meresmikan bangunan kosong tersebut sebagai Museum Bank Indonesia yang dapat di akses secara mudah oleh masyarakat umum.




3. Gedung Arsip Bank Mandiri

Gedung ini tepat berada di seberang Museum Bank Indonesia. Sayangnya saya kesulitan mencari data gedung apa ini sebenarnya. Menurut Panduan Bangunan Cagar Budaya 2 yang diterbitkan situs kotatuajakarta.org bangunan ini adalah Gedung Arsip Bank Mandiri. Namun penelusuran di google dengan kata kunci "gedung arsip bank mandiri" tidak membawa saya pada gambar seperti di bawah ini.


Saya kurang paham dengan bangunan maupun gaya arsitektur dari gambar-gambar di bawah ini. Dari hasil penelusuran saya, gaya arsitektur yang dipakai pada masa itu adalah art deco, namun saya sendiri kurang paham mana bangunan yang art deco dan mana yang tidak. Pembaca yang paham mungkin dapat membantu saya mengetahui bangunan maupun gaya arsitektur yang dipakai.

Tatanan yang menarik. Gedung ini terletak persis di seberang Museum BI

Jendela yang diklaim bergaya art deco

Bangunan yang mungkin adalah bekas rumah penduduk. Terletak di depan Gedung Arsip Bank Mandiri

Gedung di samping Gedung Arsip Bank Mandiri

Bangunan kuno yang tampak eksotis
Bagi yang ingin mempelajari sejarah Kota Tua Jakarta bisa dilihat disini

Mempelajari dan napak tilas Kota Tua Jakarta membuat saya merenungkan kembali tentang warisan kolonialisme di Indonesia, kemerdekaan yang kita raih, dan harga yang harus kita bayar untuk meraih kemerdekaan itu. Bangunan-bangunan di Kota Tua Jakarta menjadi saksi bisu era kolonialisme di Indonesia. Semoga kita tidak pernah lupa akan warisan sejarah dan tetap merawat bangunan-bangunan bersejarah ini. Di Hari Peringatan Kemerdekaan RI ini semoga Indonesia semakin jaya dan tidak lagi jatuh dalam kolonialisme. Semoga semangat kemerdekaan kita masih membara dan mengantarkan Indonesia menjadi negara yang lebih baik lagi. Dirgahayu Republik Indonesia ke-69! Jayalah Indonesiaku!

Foto: dokumentasi pribadi

Jumat, 04 Juli 2014

Calon Presiden-Wakil Presiden Pilihan

"Jika memilih Presiden-Wakil Presiden karena partai dan karena anti A, B, C, maka kita akan dibutakan oleh politik. Memilihlah dengan hati nurani dan akal sehat."


Saya tidak sedang berkampanye. Hanya menuruti panggilan hati untuk menulis tentang pilpres 2014 kali ini. Pilpres yang menelan banyak dana dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Saya pribadi tidak berafiliasi dengan partai atau golongan manapu. Saya merasa lebih bisa mencerna mana yang baik dan yang buruk tanpa harus mengikuti kata partai atau golongan tertentu.

Saya sudah melihat empat kali debat, baik debat capres maupun cawapres dan semuanya belum bisa membuat saya yakin memilih salah satu pasangan calon. Keduanya punya kekurangan dan kelebihan masing-masing dan debat capres-cawapres justru mempertegas itu. Dilihat dari substansi debat kedua pasangan capres-cawapres keduanya masih berkutat pada ranah ide dan gagasan. Implementasinya masih belum terlihat dan kalaupun terlihat, banyak ide yang kurang masuk akal dan akan sulit dilaksanakan. Memang, Presiden nantinya akan dibantu oleh menteri dan pejabat lainnya, namun kalau presidennya tidak mengerti isu yang dibahas, bagaimana kita berharap ia mampu memecahkan masalah-masalah bangsa ini.

Saya hanya berbicara pengalaman pribadi. Dulu saya pernah ke Solo untuk jalan-jalan dan saya lihat sendiri bagaimana Kota Solo menjadi lebih bersih dan tertib dibawah pemerintahan Pak Jokowi. Saya juga ke Taman Kota yang tertata dengan baik dan banyak pengunjungnya, juga melewati Stadion Manahan yang terkenal itu. Saya juga ke Galabo, semacam kuliner kaki lima di sepanjang jalan depan BTC dan Pusat Grosir Solo (PGS). Tidak pernah saya temui kuliner kaki lima bisa ditata sedemikian di tempat lain di Indonesia. Ini bukti kerja nyata Pak Jokowi. Waktu saya magang di Jakarta tahun lalu dan kebetulan Pak Jokowi menjadi Gubernur DKI. Hampir semua orang yang saya temui, yang kebanyakan adalah rakyat biasa sangat suka dengan Jokowi. Terutama pedagang di pasar dan orang-orang yang peduli dengan pembangunan kembali Blok G dan Blok S. Yang tidak suka dengan beliau hanya segelintir orang yang menilai Jokowi masih belum berhasil mengatasi permasalahan kota Jakarta yang begitu pelik, seperti macet, banjir, dan lain-lain.

Sedangkan dengan Pak Prabowo, saya tertarik dengan beliau yang pernah menjadi ketua Himpunan Tani Indonesia (HTI) dan juga pendiri Partai Gerindra. Secara pribadi Prabowo terlihat tegas dan lugas, berbeda dengan Jokowi yang berpenampilan biasa-biasa saja dan dikatakan cenderung ndeso. Saya berharap Prabowo yang mantan ketua HTI nantinya benar-benar memperjuangkan nasib petani, bukan hanya kemamkmuran segelintir orang. Saya tidak pernah mendengar atau melihat secara langsung kinerja Prabowo, hanya menyaksikan yang ada di TV dan media. Oleh karena itu, saya tidak bisa berkomentar banyak tentang beliau.

Media sekarang dipenuhi kampanye hitam, sehingga susah dibedakan mana fakta dan fitnah. Oleh karena itu, saya lebih memilih berdasarkan akal sehat, hati nurani, dan pengalaman saya saja. Apapun pilihan Anda, terserah, saya tidak akan menghalangi orang memilih salah satu calon atau menjatuhkan calon lain.

Pilihan di tangan kita semua untuk Indonesia yang lebih baik. Siapapun Presiden dan Wakil Presiden terpilih nanti, saya berharap bekerja secara sungguh-sungguh dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Amin.