Rabu, 05 Juni 2013

Pengaruh Soft Power Diplomacy di Indonesia


Diplomasi Publik Indonesia
Diplomasi publik semakin dipandang penting oleh penstudi HI sebgai salah satu instrumen penting dalam politik luar negeri. Jay Wang (2006) melihat diplomasi publik sebagai suatu usaha untuk mempertinggi mutu komunikasi antara negara dengan masyarakat. Dampak yang ditimbulkan meliputi bidang politik, ekonomi, sosial, dan dalam pelaksanaannya tidak lagi dimonopoli oleh pemerintah. Sementara itu, Jan Mellisen (2006) mendefinisikan diplomasi publik sebagai usaha untuk mempengaruhi orang atau organisasi lain di luar negaranya dengan cara positif sehingga mengubah cara pandang orang tersebut terhadap suatu negara.[1]
Diplomasi publik menggunakan soft power sebagai strategi diplomasinya. Menurut Joseph Nye, soft power adalah kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang diinginkan melalui hal-hal yang menarik daripada kekerasan. [2] Soft power suatu negara bergantung pada budaya, nilai-nilai dan kebijakan publik. Soft power dan hard power yang digabungkan akan menghasilkan strategi smart power. Dewasa ini, kekuatan diplomasi publik terletak pada kemampuan suatu negara menonjolkan soft power dan menjadikannya smart power diplomacy. Hal ini dikarenakan hard power tidak lagi menjadi pilihan satu-satunya bagi negara untuk berdiplomasi. Bahkan soft power seringkali jauh lebih efektif daripada hard power karena penerima efek soft power menikmati soft power tersebut.
Di Indonesia agar diplomasi publik dapat berfungsi optimal dalam artian dapat mencapai tujuan-tujuan poltik luar negeri, pelaksanaan diplomasi publik harus memperhatikan strategi komunikasi. Tahapan menginformasikan, melibatkan, dan mempengaruhi dibangun pada level domestik dan internasional. Namun sayangnya, masyarakat dan pemerintah Indonesia belum memaksimalkan potensi soft power yang dimiliki. Sebagai negara terbesar dan berpengaruh di Asia Tenggara, sudah seharusnya Indonesia menggunakan soft power sebagai tools diplomasi. Banyak potensi soft power yang bisa diangkat Indonesia yang tidak dimiliki negara lain. Misalnya, batik, pariwisata, pencak silat, gamelan, dan lain-lain. Sayangnya bukannya kita mempromosikan potensi soft power tersebut dengan baik, kebanyakan masyarakat justru acuh dengan budayanya dan malah terpengaruh soft power negara lain.[3]
Soft power negara-negara lain cukup mudah memasuki negara Indonesia karena masyarakat yang bersikap terbuka dan mudah terpengaruh budaya asing. Dua budaya yang akan penulis bahas yakni budaya Korean Pop (K-POP) dan sepakbola. Budaya tersebut telah mengakar dan memiliki banyak penggemar di Indonesia. Tua muda, laki-laki dan perempuan sangat mudah terpengaruh oleh budaya-budaya diatas dan melakukan imitasi budaya. Hal ini membuktikan pengaruh soft power yang dijalankan negara lain mudah merasuk ke dalam masyarakat Indonesia.

Pengaruh Korean Pop di Indonesia
Korean Pop atau K-Pop digunakan untuk menjelaskan semua budaya pop culture yang berasal dari Korea Selatan, baik berupa film, musik, video, fashion, dll. Korean Pop ini meledak di Indonesia terutama pada kalangan muda sejak pertengahan 2000an. Banyak boyband atau girlband dari Korea Selatan seperti Super Junior, Big Bang, SNSD yang ditiru oleh boyband dan girlband di Indonesia seperti Smash, Cherry Belle, dll.
Dapat dikatakan Korean Wave adalah keberhasilan pemerintah Korea Selatan melakukan inflitrasi budaya di berbagai negara dan mengembangkan diplomasi publiknya.[4] Hal ini berawal sekitar 20 tahun lalu, ketika pemerintah Korea Selatan merancang sebuah konsep Korea masa depan, dengan budayanya yang disukai banyak orang di dunia. Pemerintah Korea sejak saat itu memberikan program beasiswa bagi para artis dan seniman di negaranya, untuk belajar di Amerika Serikat dan Eropa. Dari program inilah dihasilkan artis-artis berpengalaman yang mengerti selera musik, gaya hidup, bahkan selera pasar. Hasilnya, Korea Selatan kini memetik buah dari keseriusan menggarap industri pop mereka. Menurut The Korea Creative Content Agency, pada tahun 2011 Korea Selatan menangguk keuntungan mencapai Rp35 triliun dari bisnis Korea Pop.[5] Bahkan kini pemerintah Korea Selatan gencar berpromosi memberikan beasiswa kepada mahasiswa asing yang ingin belajar mengenai budaya Korea Selatan.

Pengaruh Sepakbola di Indonesia
Sepakbola bukanlah olahraga asli Indonesia. Olahraga ini diciptakan di India dan dipopulerkan oleh Inggris, sejak saat itu olahraga ini menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Negara-negara yang paling berpengaruh atas sepakbola di Indonesia antara lain, Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Brazil, dan Argentina. Kebanyakan adalah negara Eropa dan Amerika Latin. Penggunaan sepakbola sebagai bagian dari soft power bahkan telah diresmikan oleh Inggris yang menyelenggarakan kampanye “Football For All” di Kazakhstan.[6] Dalam situs digitaldiplomacy.fco.gov.uk, dijalaskan bahwa tujuan kampanye tersebut adalah memperluas jangkauan public diplomacy, membangun publisitas sepakbola, sebagai komplemen dari rencana consular mengenai sepakbola, dan memantapkan citra Inggris sebagai negara olahraga.
Di Indonesia, liga yang paling digemari adalah Liga Inggris, Liga Spanyol, dan Liga Italia. Penggemar klub-klub dari ketiga liga tersebut sangat banyak dan tersebar di seluruh penjuru kota di Indonesia. Bahkan penggemar sepakbola asing lebih banyak dibanding penggemar Liga Indonesia.


[1] Citra Hennida. Diplomasi Publik dalam Politik Luar Negeri. Diunduh dari http://mkp.fisip.unair.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=101:diplomasi-publik-dalam-politik-luar-negeri&catid=34:mkp&Itemid=61
[2] Nye, Joseph S. Public Diplomacy ad Soft Power.
[3] Jakarta Globe. 2011. Does Indonesia Know How to Use Its ‘Soft Power’?. Diunduh dari http://www.thejakartaglobe.com/talkback/does-indonesia-know-how-to-use-its-soft-power/483889

[4] CNN. 'Korean Wave' of pop culture sweeps across Asia.

 http://articles.cnn.com/2010-12-31/world/korea.entertainment_1_korean-wave-exports-content?_s=PM:WORLD
[5] Metrotv News. Korean Wave "Hallyu" Mewabah di Sejumlah Negara.
 http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/04/07/148668/Korean-Wave-Hallyu-Mewabah-di-Sejumlah-Negara

[6] Digital Diplomacy Communication Directorate. 2011. Football for all campaign in Kazakhstan.

 http://digitaldiplomacy.fco.gov.uk/en/case-studies/soft/football-for-all

Rabu, 05 Juni 2013

Pengaruh Soft Power Diplomacy di Indonesia


Diplomasi Publik Indonesia
Diplomasi publik semakin dipandang penting oleh penstudi HI sebgai salah satu instrumen penting dalam politik luar negeri. Jay Wang (2006) melihat diplomasi publik sebagai suatu usaha untuk mempertinggi mutu komunikasi antara negara dengan masyarakat. Dampak yang ditimbulkan meliputi bidang politik, ekonomi, sosial, dan dalam pelaksanaannya tidak lagi dimonopoli oleh pemerintah. Sementara itu, Jan Mellisen (2006) mendefinisikan diplomasi publik sebagai usaha untuk mempengaruhi orang atau organisasi lain di luar negaranya dengan cara positif sehingga mengubah cara pandang orang tersebut terhadap suatu negara.[1]
Diplomasi publik menggunakan soft power sebagai strategi diplomasinya. Menurut Joseph Nye, soft power adalah kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang diinginkan melalui hal-hal yang menarik daripada kekerasan. [2] Soft power suatu negara bergantung pada budaya, nilai-nilai dan kebijakan publik. Soft power dan hard power yang digabungkan akan menghasilkan strategi smart power. Dewasa ini, kekuatan diplomasi publik terletak pada kemampuan suatu negara menonjolkan soft power dan menjadikannya smart power diplomacy. Hal ini dikarenakan hard power tidak lagi menjadi pilihan satu-satunya bagi negara untuk berdiplomasi. Bahkan soft power seringkali jauh lebih efektif daripada hard power karena penerima efek soft power menikmati soft power tersebut.
Di Indonesia agar diplomasi publik dapat berfungsi optimal dalam artian dapat mencapai tujuan-tujuan poltik luar negeri, pelaksanaan diplomasi publik harus memperhatikan strategi komunikasi. Tahapan menginformasikan, melibatkan, dan mempengaruhi dibangun pada level domestik dan internasional. Namun sayangnya, masyarakat dan pemerintah Indonesia belum memaksimalkan potensi soft power yang dimiliki. Sebagai negara terbesar dan berpengaruh di Asia Tenggara, sudah seharusnya Indonesia menggunakan soft power sebagai tools diplomasi. Banyak potensi soft power yang bisa diangkat Indonesia yang tidak dimiliki negara lain. Misalnya, batik, pariwisata, pencak silat, gamelan, dan lain-lain. Sayangnya bukannya kita mempromosikan potensi soft power tersebut dengan baik, kebanyakan masyarakat justru acuh dengan budayanya dan malah terpengaruh soft power negara lain.[3]
Soft power negara-negara lain cukup mudah memasuki negara Indonesia karena masyarakat yang bersikap terbuka dan mudah terpengaruh budaya asing. Dua budaya yang akan penulis bahas yakni budaya Korean Pop (K-POP) dan sepakbola. Budaya tersebut telah mengakar dan memiliki banyak penggemar di Indonesia. Tua muda, laki-laki dan perempuan sangat mudah terpengaruh oleh budaya-budaya diatas dan melakukan imitasi budaya. Hal ini membuktikan pengaruh soft power yang dijalankan negara lain mudah merasuk ke dalam masyarakat Indonesia.

Pengaruh Korean Pop di Indonesia
Korean Pop atau K-Pop digunakan untuk menjelaskan semua budaya pop culture yang berasal dari Korea Selatan, baik berupa film, musik, video, fashion, dll. Korean Pop ini meledak di Indonesia terutama pada kalangan muda sejak pertengahan 2000an. Banyak boyband atau girlband dari Korea Selatan seperti Super Junior, Big Bang, SNSD yang ditiru oleh boyband dan girlband di Indonesia seperti Smash, Cherry Belle, dll.
Dapat dikatakan Korean Wave adalah keberhasilan pemerintah Korea Selatan melakukan inflitrasi budaya di berbagai negara dan mengembangkan diplomasi publiknya.[4] Hal ini berawal sekitar 20 tahun lalu, ketika pemerintah Korea Selatan merancang sebuah konsep Korea masa depan, dengan budayanya yang disukai banyak orang di dunia. Pemerintah Korea sejak saat itu memberikan program beasiswa bagi para artis dan seniman di negaranya, untuk belajar di Amerika Serikat dan Eropa. Dari program inilah dihasilkan artis-artis berpengalaman yang mengerti selera musik, gaya hidup, bahkan selera pasar. Hasilnya, Korea Selatan kini memetik buah dari keseriusan menggarap industri pop mereka. Menurut The Korea Creative Content Agency, pada tahun 2011 Korea Selatan menangguk keuntungan mencapai Rp35 triliun dari bisnis Korea Pop.[5] Bahkan kini pemerintah Korea Selatan gencar berpromosi memberikan beasiswa kepada mahasiswa asing yang ingin belajar mengenai budaya Korea Selatan.

Pengaruh Sepakbola di Indonesia
Sepakbola bukanlah olahraga asli Indonesia. Olahraga ini diciptakan di India dan dipopulerkan oleh Inggris, sejak saat itu olahraga ini menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Negara-negara yang paling berpengaruh atas sepakbola di Indonesia antara lain, Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Brazil, dan Argentina. Kebanyakan adalah negara Eropa dan Amerika Latin. Penggunaan sepakbola sebagai bagian dari soft power bahkan telah diresmikan oleh Inggris yang menyelenggarakan kampanye “Football For All” di Kazakhstan.[6] Dalam situs digitaldiplomacy.fco.gov.uk, dijalaskan bahwa tujuan kampanye tersebut adalah memperluas jangkauan public diplomacy, membangun publisitas sepakbola, sebagai komplemen dari rencana consular mengenai sepakbola, dan memantapkan citra Inggris sebagai negara olahraga.
Di Indonesia, liga yang paling digemari adalah Liga Inggris, Liga Spanyol, dan Liga Italia. Penggemar klub-klub dari ketiga liga tersebut sangat banyak dan tersebar di seluruh penjuru kota di Indonesia. Bahkan penggemar sepakbola asing lebih banyak dibanding penggemar Liga Indonesia.


[1] Citra Hennida. Diplomasi Publik dalam Politik Luar Negeri. Diunduh dari http://mkp.fisip.unair.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=101:diplomasi-publik-dalam-politik-luar-negeri&catid=34:mkp&Itemid=61
[2] Nye, Joseph S. Public Diplomacy ad Soft Power.
[3] Jakarta Globe. 2011. Does Indonesia Know How to Use Its ‘Soft Power’?. Diunduh dari http://www.thejakartaglobe.com/talkback/does-indonesia-know-how-to-use-its-soft-power/483889

[4] CNN. 'Korean Wave' of pop culture sweeps across Asia.

 http://articles.cnn.com/2010-12-31/world/korea.entertainment_1_korean-wave-exports-content?_s=PM:WORLD
[5] Metrotv News. Korean Wave "Hallyu" Mewabah di Sejumlah Negara.
 http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/04/07/148668/Korean-Wave-Hallyu-Mewabah-di-Sejumlah-Negara

[6] Digital Diplomacy Communication Directorate. 2011. Football for all campaign in Kazakhstan.

 http://digitaldiplomacy.fco.gov.uk/en/case-studies/soft/football-for-all