Diplomasi Publik Indonesia
Diplomasi publik semakin dipandang
penting oleh penstudi HI sebgai salah satu instrumen penting dalam politik luar
negeri. Jay Wang (2006) melihat diplomasi publik sebagai suatu usaha untuk
mempertinggi mutu komunikasi antara negara dengan masyarakat. Dampak yang
ditimbulkan meliputi bidang politik, ekonomi, sosial, dan dalam pelaksanaannya
tidak lagi dimonopoli oleh pemerintah. Sementara itu, Jan Mellisen (2006)
mendefinisikan diplomasi publik sebagai usaha untuk mempengaruhi orang atau
organisasi lain di luar negaranya dengan cara positif sehingga mengubah cara
pandang orang tersebut terhadap suatu negara.[1]
Diplomasi publik menggunakan soft
power sebagai strategi diplomasinya. Menurut Joseph Nye, soft power adalah
kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang diinginkan melalui
hal-hal yang menarik daripada kekerasan. [2]
Soft power suatu negara bergantung pada budaya, nilai-nilai dan kebijakan
publik. Soft power dan hard power yang digabungkan akan menghasilkan strategi smart
power. Dewasa ini, kekuatan diplomasi publik terletak pada kemampuan suatu
negara menonjolkan soft power dan menjadikannya smart power diplomacy.
Hal ini dikarenakan hard power tidak lagi menjadi pilihan satu-satunya bagi
negara untuk berdiplomasi. Bahkan soft power seringkali jauh lebih efektif
daripada hard power karena penerima efek soft power menikmati soft power
tersebut.
Di Indonesia agar diplomasi publik
dapat berfungsi optimal dalam artian dapat mencapai tujuan-tujuan poltik luar
negeri, pelaksanaan diplomasi publik harus memperhatikan strategi komunikasi.
Tahapan menginformasikan, melibatkan, dan mempengaruhi dibangun pada level
domestik dan internasional. Namun sayangnya, masyarakat dan pemerintah
Indonesia belum memaksimalkan potensi soft power yang dimiliki. Sebagai negara
terbesar dan berpengaruh di Asia Tenggara, sudah seharusnya Indonesia
menggunakan soft power sebagai tools diplomasi. Banyak potensi soft power yang
bisa diangkat Indonesia yang tidak dimiliki negara lain. Misalnya, batik,
pariwisata, pencak silat, gamelan, dan lain-lain. Sayangnya bukannya kita
mempromosikan potensi soft power tersebut dengan baik, kebanyakan masyarakat
justru acuh dengan budayanya dan malah terpengaruh soft power negara lain.[3]
Soft power negara-negara lain cukup
mudah memasuki negara Indonesia karena masyarakat yang bersikap terbuka dan
mudah terpengaruh budaya asing. Dua budaya yang akan penulis bahas yakni budaya
Korean Pop (K-POP) dan sepakbola. Budaya tersebut telah mengakar dan memiliki
banyak penggemar di Indonesia. Tua muda, laki-laki dan perempuan sangat mudah
terpengaruh oleh budaya-budaya diatas dan melakukan imitasi budaya. Hal ini
membuktikan pengaruh soft power yang dijalankan negara lain mudah merasuk ke
dalam masyarakat Indonesia.
Pengaruh
Korean Pop di Indonesia
Korean Pop atau K-Pop digunakan
untuk menjelaskan semua budaya pop culture yang berasal dari Korea Selatan,
baik berupa film, musik, video, fashion, dll. Korean Pop ini meledak di
Indonesia terutama pada kalangan muda sejak pertengahan 2000an. Banyak boyband
atau girlband dari Korea Selatan seperti Super Junior, Big Bang, SNSD yang
ditiru oleh boyband dan girlband di Indonesia seperti Smash, Cherry Belle, dll.


Dapat dikatakan Korean Wave adalah
keberhasilan pemerintah Korea Selatan melakukan inflitrasi budaya di berbagai
negara dan mengembangkan diplomasi publiknya.[4]
Hal ini berawal sekitar 20 tahun lalu, ketika pemerintah Korea Selatan
merancang sebuah konsep Korea masa depan, dengan budayanya yang disukai banyak
orang di dunia. Pemerintah Korea sejak saat itu memberikan program beasiswa
bagi para artis dan seniman di negaranya, untuk belajar di Amerika Serikat dan
Eropa. Dari program inilah dihasilkan artis-artis berpengalaman yang mengerti
selera musik, gaya hidup, bahkan selera pasar. Hasilnya, Korea Selatan kini
memetik buah dari keseriusan menggarap industri pop mereka. Menurut The
Korea Creative Content Agency, pada tahun 2011 Korea Selatan menangguk
keuntungan mencapai Rp35 triliun dari bisnis Korea Pop.[5]
Bahkan kini pemerintah Korea Selatan gencar berpromosi memberikan beasiswa
kepada mahasiswa asing yang ingin belajar mengenai budaya Korea Selatan.
Pengaruh
Sepakbola di Indonesia
Sepakbola bukanlah olahraga asli
Indonesia. Olahraga ini diciptakan di India dan dipopulerkan oleh Inggris,
sejak saat itu olahraga ini menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Negara-negara yang paling berpengaruh
atas sepakbola di Indonesia antara lain, Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol,
Brazil, dan Argentina. Kebanyakan adalah negara Eropa dan Amerika Latin.
Penggunaan sepakbola sebagai bagian dari soft power bahkan telah diresmikan
oleh Inggris yang menyelenggarakan kampanye “Football For All” di Kazakhstan.[6]
Dalam situs digitaldiplomacy.fco.gov.uk, dijalaskan bahwa tujuan kampanye
tersebut adalah memperluas jangkauan public diplomacy, membangun publisitas
sepakbola, sebagai komplemen dari rencana consular mengenai sepakbola, dan
memantapkan citra Inggris sebagai negara olahraga.
Di Indonesia, liga yang paling
digemari adalah Liga Inggris, Liga Spanyol, dan Liga Italia. Penggemar
klub-klub dari ketiga liga tersebut sangat banyak dan tersebar di seluruh
penjuru kota di Indonesia. Bahkan penggemar sepakbola asing lebih banyak
dibanding penggemar Liga Indonesia.
[1]
Citra Hennida. Diplomasi Publik dalam Politik Luar Negeri. Diunduh dari http://mkp.fisip.unair.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=101:diplomasi-publik-dalam-politik-luar-negeri&catid=34:mkp&Itemid=61
[2]
Nye, Joseph S. Public Diplomacy ad Soft Power.
[3]
Jakarta Globe. 2011. Does Indonesia Know How to Use Its
‘Soft Power’?. Diunduh dari http://www.thejakartaglobe.com/talkback/does-indonesia-know-how-to-use-its-soft-power/483889
[4] CNN. 'Korean Wave' of pop culture sweeps across Asia.
http://articles.cnn.com/2010-12-31/world/korea.entertainment_1_korean-wave-exports-content?_s=PM:WORLD
[5] Metrotv News. Korean Wave "Hallyu" Mewabah di
Sejumlah Negara.
http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/04/07/148668/Korean-Wave-Hallyu-Mewabah-di-Sejumlah-Negara
[6] Digital Diplomacy Communication Directorate. 2011. Football for all campaign in Kazakhstan.
http://digitaldiplomacy.fco.gov.uk/en/case-studies/soft/football-for-all

